Berita Sleman Hari Ini

14 Pemimpin Muda Komunitas Muslim Australia Kunjungi Vihara Karangdjati 

Kunjungan itu merupakan rangkaian kegiatan dari kunjungan seminggu ke Indonesia dalam program Pertukaran Muslim Australia - Indonesia (AIMEP) 2023.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Ahmad Syarifudin
14 Pemimpin Muda muslim Australia mengunjungi Vihara Karangdjati, di Jalan Monjali, Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman Selasa (26/9/2023). Kunjungan tersebut merupakan rangkaian kegiatan dari kunjungan seminggu ke Indonesia dalam program Pertukaran Muslim Australia - Indonesia (AIMEP) 2023. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Empat belas Pemimpin Muda muslim Australia mengunjungi Vihara Karangdjati , di Jalan Monjali, Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman Selasa (26/9/2023).

Kunjungan tersebut merupakan rangkaian kegiatan dari kunjungan seminggu ke Indonesia dalam program Pertukaran Muslim Australia - Indonesia (AIMEP) 2023. 

Di Vihara ini, mereka disambut hangat dari perwakilan lintas agama.

Ada dari perwakilan Buddha. Kemudian dari Ahmadiyah, Konghucu, maupun Penghayat Kepercayaan.

Kegiatan diisi dengan dialog mengenai perkembangan masing-masing keyakinan dan toleransinya antar umat beragama.

Para peserta menyimak dengan antusias. 

Baca juga: Doa-doa dan Amalan Pembuka Pintu Rezeki Riwayat HR Muslim, Imam At-Tirmidzi

Ketua Vihara Karangdjati sekaligus Pembina Masyarakat Buddha Kota Yogyakarta , Totok Tejamano, dalam kesempatan itu memaparkan mengenai sejarah berdirinya Vihara Karangdjati , yang dideklarasikan oleh Romo Among Syailendra Pradjarto di tahun 1962.

Misinya sebagai rumah pengembangan spiritual untuk kebahagiaan bersama.

Karena itu, Vihara Karangdjati ini sejak zaman dahulu sering dijadikan tempat diskusi teologi antar Agama. 

"Vihara ini akan terbuka untuk siapapun, organisasi manapun yang membawa kebaikan," kata Totok.

Pihaknya juga mengungkapkan bahwa umat Buddha di Yogyakarta relatif sedikit hanya sekitar 3.000 orang yang tersebar di lima Kabupaten/kota sehingga masalah utama yang dihadapi adalah kesulitan mengenai pendidikan Agama Buddha di sekolah karena keterbatasan guru agama Buddha.

Tapi secara garis besar, umat Buddha hidup dengan rukun. 

Diketahui, pertukaran muslim Australia - Indonesia (AIMEP) ini berfokus pada pertukaran dan dialog antarwarga, yang bertujuan untuk menghapus stereotipe.

Membangun pemahaman yang lebih dalam tentang komunitas dan masyarakat masing-masing, serta mendorong kolaborasi dan hubungan yang langgeng. 

Delegasi AIMEP Australia yang berpartisipasi dalam kunjungan ini termasuk para pemimpin komunitas dari Melbourne, Sydney, Perth, dan Gold Coast.

Mereka merupakan para pemimpin muda, pengusaha, praktisi kesehatan mental, guru, pengacara, dan orang-orang yang bekerja di bidang pemberdayaan perempuan.

Sebelum ke Vihara Karangdjati, delegasi ini mengunjungi organisasi dan lembaga - lembaga penting di Indonesia, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, maupun Masjid Istiqlal di Jakarta. 

Satu di antara peserta AIMEP 2023, Oz Malik mengungkapkan, dirinya yang sekarang sedang menyelesaikan Master Internasional Relationship mengaku tertarik dengan hubungan internasional yang terjalin antara Australia dan Asia, terutama dengan Negara Indonesia.

Sebagai muslim, dirinya mengaku melihat dan bisa belajar banyak dari Indonesia. 

"Ini pertama kali saya ke sini, sangat indah. Dan saya sangat kagum. Kagum dengan Jakarta dan Yogyakarta. Jakarta pembangunannya sangat baik. Yogyakarta sangat indah, budaya dan saya sangat kagum dengan perempuan di Indonesia yang sangat "sentral" memegang bagian dari kepemimpinan, dan sangat dianggap ada," kata Malik. 

Baca juga: Muslim Wajib Punya Sifat Ini, Berikut 3 Keutamaan Sifat Amanah

Peserta lainnya, Mifah Mahroof mengaku kunjungan ke Indonesia ini merupakan pengalaman kedua setelah sebelumnya di tahun 2009 pernah berlibur bersama keluarga.

Kali ini datang lagi ke Indonesia dan mendapatkan pengalaman baru melalui program pertukaran muslim ini.

Sebab, selama ini, Indonesia banyak mendapatkan gambaran tentang kerukunan umat beragama.

Orang Indonesia ramah dan sangat menakjubkan. 

"Ke depan saya berfikir akan kembali lagi," katanya 

Sementara itu, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia, Steve Scott mengatakan hubungan antar masyarakat yang terjalin melalui AIMEP membangun pemahaman yang lebih besar antara Indonesia dan Australia untuk memperkaya ke-dua komunitas. 

"Ini adalah kesempatan bagi para pemimpin muda untuk merasakan secara langsung kehidupan masyarakat multikultural di Indonesia dan Australia," katanya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved