Mayoritas Air Minum Galon Pertahankan Kemasan Polikarbonat, Ini Alasannya

Pemilihan kemasan tidak bisa sembarangan dilakukan dan tentu ada alasan mengapa perusahaan makanan atau minuman menggunakannya.

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
dok. istimewa
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kemajuan teknologi telah menghasilkan kemunculan berbagai jenis kemasan pangan yang dapat menjamin keamanan, daya tahan serta kepraktisan produk. 

Salah satunya adalah kemasan plastik, yang memiliki banyak keunggulan dibanding kemasan lain seperti kertas, kaleng atau multipack.

Kemasan plastik, selain mudah dibentuk dan ringan, juga higienis dan beberapa jenisnya, juga dapat di daur ulang. 

Dosen dan Peneliti Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma, mengatakan hal pertama yang harus diperhatikan dalam memilih kemasan pangan adalah faktor keamanannya. 

"Kemudian, faktor berikutnya, yang juga sangat penting diperhatikan adalah produknya," tandasnya, melalui keterangan tertulis, Kamis (21/9/2023).

Secara umum, lanjutnya, kemasan pangan berfungsi untuk melindungi produk terhadap pengaruh fisik (mekanik dan cahaya), kimiawi (permeasi gas, kelembaban udara/uap air), dan biologik (bakteri, kapang). 

"Itulah sebabnya, banyak faktor pertimbangan bagi perusahaan makanan dan minuman dalam memilih kemasan untuk produk-produk mereka," ujarnya.

Dari sifat produk dan proses pengolahan produk pangannya, menurut Nugraha, ada kemasan yang tidak tahan terhadap panas dan ada yang tahan panas. 

Kemasan kaleng untuk sarden, misalnya, dipilih karena proses pengolahannya harus dengan sterilisasi pada suhu yang sangat tinggi.

"Contoh lainnya adalah kemasan galon minum AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), yang terbuat dari plastik polycarbonate," katanya.

Dari sifat fungsional kemasan, ia mengatakan, plastik PC memiliki banyak keunggulan dibandingkan dari PET, karena lebih fleksibel, sehingga lebih tahan dari risiko pecah dan retak. 

Plastik PC juga memiliki ketahanan gores dan benturan yang lebih baik dengan suhu transisi gelas (Tg) yang lebih tinggi (Tg PC=150 derajat celcius, Tg PET = 70 derajat celcius), sehingga tahan untuk dicuci dengan suhu panas antara 60-80 derajat celcius.

Selain itu, menurut Nugraha, kemasan PC guna ulang sering disebut juga dengan kemasan multi trip karena tahan saat menjalani banyak perjalanan. 

Yaitu, dari pabrik dikirim ke distributor, toko, atau penjual, lalu dibawa ke konsumen, kemudian kemasan kosong dikembalikan lagi oleh konsumen untuk dikirimkan ke pabrik dan digunakan ulang.

"Pemilihan kemasan itu juga tergantung pada target umur simpan dari produk pangannya," katanya.

Nugraha menjelaskan, pemilihan kemasan tidak bisa sembarangan dilakukan dan tentu ada alasan mengapa perusahaan makanan atau minuman menggunakannya.

"Dan soal keamanannya, itu, kan, sudah ada aturan dari BPOM, bahwa kemasan yang digunakan itu harus food grade," cetusnya.

Sementara, Dosen IPB lainnya, Purwiyatno Hariyadi, mengatakan, laju perubahan mutu produk pangan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi bahan baku sampai pada kondisi penyimpanan. 

Menurutnya, dalam upaya mengelola mutu produk pangan, semua faktor-faktor ini perlu diidentifikasi dengan baik, sehingga upaya penjaminan mutu sampai produk tersebut diterima dan dikonsumsi konsumen bisa dicapai.

Ia menyebut, semua kemasan, baik itu berupa kaleng, galon, dan lain-lain, mempunyai peranan sangat penting dalam melindungi produk yang dikemas. 

"Karena itu, pemilihan bahan pengemas harus dilakukan secara tepat, dengan memperhatikan interaksi antara bahan pangan, bahan pengemas dan lingkungannya. Jadi, potensi kerusakan bahan pangan bisa dikendalikan," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved