Puisi Joko Pinurbo

Puisi Angkringan Joko Pinurbo: Lapar mengajak saya ke warung angkringan di pinggir jalan

Puisi Angkringan Joko Pinurbo: Lapar mengajak saya ke warung angkringan di pinggir jalan

Tayang:
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Yudha Kristiawan
Tribun Jogja
Sastrawan joko pinurbo membacakan pusisi untuk Udin. Puisi Angkringan Joko Pinurbo: Lapar mengajak saya ke warung angkringan di pinggir jalan 

Puisi Angkringan Joko Pinurbo

 

Lapar mengajak saya ke warung angkringan

di pinggir jalan. Tuan pedagang angkringan

sedang ketiduran. Ia batuk-batuk, mengerang,

kemudian ia betulkan batuknya yang sumbang.

Saya makan dua bungkus nasi kucing.

Saya bikin kopi sendiri, ambil rokok sendiri.

Saya bayar, saya hitung sendiri. “Kembaliannya

untuk Tuan saja,” kata saya dalam hati.

Lalu saya pamit pulang. “Selamat tidur, pejuang.”

Tuan pedagang angkringan terbangun.

“Tunggu, jangan tinggalkan saya sendirian!”

Setelah semuanya ia bereskan, ia paksa saya

segera naik ke atas gerobak angkringan.

”Berbaringlah, Tuan. Saya antar Tuan pulang.”

Amboi, saya telentang kenyang di atas

gerobak angkringan yang berjalan pelan

menyusuri labirin malam. Saya terbuai, terpejam.

Seperti naik perahu di laut terang, meluncur ringan

menuju rumah impian nun di seberang.

Samar-samar saya lihat bayangan seorang ibu

sedang meninabobokan anaknya dalam ayunan:

Tidurlah, tidur, tidurlah anakku tersayang

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved