Dorong UMKM Naik Kelas, Kadin DIY Siap Berikan Pendampingan

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY mendukung UMKM DIY naik kelas dengan melakukan Intial Public Offering (IPO). 

istimewa
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY, bersama bersama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) serta didukung oleh PT Surya Fajar Sekuritas dan PT Indo Boga Sukses Tbk (IBOS) memberikan literasi untuk para pengusaha UMKM anggota Kadin DIY di Jogja Expo Center, Senin (04/09/2023). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY mendukung UMKM DIY naik kelas dengan melakukan Intial Public Offering (IPO). 

Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi dan Keanggotaan Kadin DIY, Robby Kusumaharta mengatakan ada lebih dari 300 ribu UMKM di DIY. Menurut dia, UMKM di DIY pun sudah layak masuk bursa saham. 

"Sudah ada UMKM DIY yang IPO dengan kinerja yang baik. Industri kreatif dan startup yang potensial dibuka aksesnya. Ini salah satu peran Kadin DIY. Memang tidak mudah tapi harus dimulai (untuk IPO)," katanya, Minggu (10/09/2023). 

Menurut dia, IPO adalah salah satu cara UMKM naik kelas. Selain Kadin DIY, pemerintah pun memfasilitasi UMKM untuk IPO melalui program inkubator. 

"Pemerintah memberikan asistensi dan kemudahan prosesnya,"sambungnya.

Selain pemerintah, pihaknya juga menggandeng Bursa Efek Indonesia menggelar dialog bersama UMKM terkait IPO.

Hasilnya banyak UMKM yang berminat untuk naik kelas dengan menjadi perusahaan publik. 

Baca juga: Pemkot Magelang Terus Berupaya Bangun Wisata Kota Magelang hingga Go International

Baca juga: Baru 10-20 Persen Petani di DIY yang Memiliki Asuransi Pertanian

Pasalnya dengan menjadi perusahaan publik, maka UMKM tersebut akan mendapat pendanaan yang lebih besar. 

Kendati demikian, proses menuju IPO memang tidak mudah. Namun dengan pendampingan dan analisa bisnis yang tepat, Robby meyakini UMKM DIY bisa naik kelas. 

"Semua proses ada tantangannya, oleh sebab itu harus dikawal pendampingan, analisa bisnis. Risiko selalu ada, maka proses persiapan harus cermat," terangnya. 

Sebelumnya, Kepala Kantor Perwakilan BEI Yogyakarta, Irfan Noor Riza menyebut ada penambahan 64 emiten baru sepanjang 2023, sehingga total ada 888 emiten hingga saat ini. 

Dari angka tersebut, sebanyak 7 emiten berasal dari DIY. Ada yang bergerak di sektor perhotelan, food and beverage, startup teknologi, dan UMKM. 

"Peluang masih terbuka lebar. Potensi pertumbuhan tinggi. Kami yakin jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan masifnya kegiatan edukasi seperti workshop go public ini. Kami akan berikan akses dan kesempatan seluas-luasnya, dan kami sangat mendorong perusahaan- perusahaan di DIY termasuk UMKM untuk ikut mendapatkan pendanaan melalui pasar modal Indonesia dengan skema IPO," terangnya. (maw) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved