Filosofi Jadah Manten dan Legomoro

Mengenal Jadah Manten dan Legomoro yang Selalu Hadir di Gelaran Pernikahan Jawa

Apabila sudah selesai prosesnya memasaknya, makanan yang sudah ada ratusan tahun ini diapit oleh bambu. Ujung bambu ditutup atau diikat.

Tayang:
Editor: ribut raharjo
Istimewa
Filosofi Jadah Manten dan Legomoro yang selalu hadir dalam prosesi pernikahan Jawa 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Apabila kamu melihat seluruh prosesi pernikahan dengan adat Jawa, kemungkinan akan melihat makanan tradisional bernama jadah manten dan legomoro. Makanan yang memiliki filosofi ini muncul terutama saat lamaran.

Dosen Tata Boga dan Busana dari Fakultas Teknik UNY, Minta Harsana, mengatakan saat lamaran, pihak laki-laki membawa jadah manten kepada pihak perempuan. Jadah manten terbuat dari bahan dasar ketan, telur, dan santan.

Apabila sudah selesai prosesnya memasaknya, makanan yang sudah ada ratusan tahun ini diapit oleh bambu. Ujung bambu ditutup atau diikat dengan pelepah kelapa.

Di samping sebagai pegangan agar tidak kotor saat membawa atau memakan jadah manten, ada makna khusus.

“Jadah itu lengket, filosofinya, kalau sudah nikah maka harapannya dua keluarga itu menjadi rumengket. [Untuk penutup bambu, maknanya] kalau sudah rumangket tadi, jadi menutup aibnya keluarga masing-masing,” kata Minta.

Untuk proses pembuatan jadah manten, ketan perlu dicuci terlebih dahulu. Setelah itu, ada proses dikukus dan dilembutkan, membentuknya menjadi bulat-bulat.

Ketan kemudian dibungkus dengan telur yang sudah diolah menjadi bentuk lebar. Proses terakhir disiram dengan kanil, atau santan dari perasan pertama parutan kelapa. Penyiraman kanil berlangsung sembari proses pembakaran.

Setelah selesai semua proses, jadah manten diapit oleh bambu yang ujungnya ditutup dengan pelepah kelapa. Namun dalam perkembangan zaman, pelepah kelapa diganti dengan bahan lain seperti papah jarak. Hal ini merupakan dampak dari pelepah kelapa yang semakin sulit ditemukan di perkotaan.

“Kemudian papah jarak mulai hilang kemudian diganti lagi, karena daerah Sewon, (Bantul), ini ada bunga tebu, diganti glagah tebu. Saat perkebunan tebu hilang, kemudian diganti lagi dengan kacang panjang. [Penggunaan] kacang panjang menambah cost (biaya), sekarang diganti dengan plastik, jadi mengalami perubahan,” katanya.

Meski penampilan bisa menyesuaikan, namun esensinya tetap sama, jadah manten dibawa calon pengantin laki-laki pada pihak perempuan saat lamaran. Apabila lamaran diterima, maka giliran calon pengantin perempuan yang memberikan makanan legomoro pada calon laki-laki.

Legomoro berasal dari kata lego (lega) dan moro (datang). Secara pemaknaan umum, legomoro berarti rasa lega lantaran sudah datang.

Ada juga pemaknaan legomoro yaitu apabila datang ke suatu tempat harus dengan perasaan yang ikhlas.

Dalam konteks lamaran, tentunya saat kedatangan atau lamaran laki-laki diterima, tentu saja dia kemudian menjadi lega.

Makanan tradisional ini berbahan ketan dengan isian. Awalnya, jenis isian berupa daging sapi, namun seiring perkembangan zaman, bisa berubah sesuai dengan kemampuan pembuatnya. Bisa diganti dengan daging ayam atau kelapa.

Apabila ketan dengan isian sudah direbus bersamaan, proses selanjutnya dibungkus dan dikukus. Bungkusan menggunakan dua rangkap daun dengan empat ikat bambu tipis.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved