Berita Jogja Hari Ini

Sebanyak 480 Anggota PHRI DIY Diklaim Mampu Kelola Sampah Secara Mandiri

Sebanyak 480 anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY diklaim telah mampu mengelola sampah yang diproduksi hotel maupun restoran

Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja.com/Azka Ramadhan
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebanyak 480 anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY diklaim telah mampu mengelola sampah yang diproduksi hotel maupun restoran secara mandiri.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, dampak penutupan TPA Piyungan tidak terlalu dirasakan anggota PHRI DIY. Sebab seluruhnya telah memiliki  SOP terkait pengelolaan sampah.

Bahkan sebelum adanya status darurat sampah.

"Sebelum ada itu (pengelolaan sampah) dia nggak akan lolos untuk sertifikasinya. Kita sudah mengolah sampah pilah dan pilih sebelum darurat sampah," terang Deddy, Senin (7/8/2023).

Deddy mengungkapkan, seluruh anggota PHRI disebut telah mengantongi Sertifikasi Hotel Berbasis Risiko di mana salah satu persyaratannya adalah terkait pengelolaan sampah

Adapun metode pengolahan sampah yang dilakukan yaitu memilih dan memilah mana sampah organik dan anorganik.

Sampah organik tersebut kemudian ada yang diolah oleh pihak kedua untuk dijadikan pupuk dan macam-macam produk turunan sampah. Ada juga yang diolah dengan metode biopori.

Sementara untuk jenis sampah anorganik, ada hotel yang bekerjasama dengan bank sampah di kampung atau desa sekitar wilayah anggota PHRI berada.

"Sejauh ini tdk ada kendala tapi ada catatan kita juga membayar retribusi sampah walaupun sudah mengelola sampah. Kita mohon pada pemerintah permasalahan ini bisa direspon pemda dengan cepat," tandasnya.

Disinggung jumlah sampah yang dihasilkan dari hotel dan restoran anggota PHRI DIY, Deddy belum bisa memberi informasi. Sebab pihaknya masih melakukan penghitungan.

Meski demikian, Deddy menyebut hotel dan restauran selalu berupaya untuk mengurangi produksi sampah.

Misalnya, dengan memberi opsi tanpa breakfast atau sarapan pagi ketiak menginap. Kebanyakan tamu hotel memilih kamar tanpa breakfast yang praktis dapat berkontribusi mengurangi sampah organik.

"Kita penggunaan plastik hanya berapa persen, kalau di SOP berbasis risiko itu maksimal 30 persen. Maka sekarang botol mineral terutama yang bintang 3-5 nggak dipakai tapi pakai botol hotel untuk mengurangi sampah plastik. Laundry dulu tasnya plastik sekarang kain," jelasnya. (tro)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved