Advetorial
Kekurangan Gizi dan Pernikahan Dini Jadi Faktor Utama Penyebab Stunting
BKKBN bersama Komisi IX DPR RI kembali menggelar sosialisasi dan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) Program Bangga Kencana. Tujuannya untuk
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - BKKBN bersama Komisi IX DPR RI kembali menggelar sosialisasi dan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) Program Bangga Kencana.
Tujuannya untuk menekan angka stunting di Indonesia, termasuk DIY.
Anggota Komisi IX DPR RI, Sukamto mengungkapkan ada dua faktor utama penyebab stunting, yaitu kekurangan gizi kronis dan pernikahan dini.
Sehingga untuk mencegah stunting bisa dilakukan dengan pemenuhan gizi seimbang pada ibu hamil dan bayi, juga menghindari pernikahan dini.
Baca juga: MIRIS, Sebanyak 6 Penyu Mati di Pantai Selatan Yogyakarta Karena Memakan Sampah Plastik
"Stunting ini bukan penyakit, tetapi karena kekurangan gizi. Jadi ibu hamil kalau makan ya makanan yang bergizi, jangan makan mie terus. Makan sayur juga. Bayi juga sama, gizinya harus diperhatikan. Kalau bayi 0-6 bulan sebisa mungkin ASI eksklusif, nggak boleh dikasih kripik-kripik, atau dikerokin pisang," katanya saat Sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana di Balai Aspirasi Masyarakat Sinduadi, Mlati, Sleman, Jumat (04/08/2023).
"Kemudian jangan menikah terlalu muda. Pemerintah memberikan batas minimal (untuk perempuan menikah) itu 19 tahun, kalau bisa ya 20 tahun. Karena kalau terlalu muda, rahimnya belum siap untuk tidur bayi. Dua itu yang jadi faktor utama penyebab stunting," sambungnya.
Inspektur Utama BKKBN Pusat, Ari Dwikora Tono mengungkapkan Indonesia memasuki tahun emas pada 2045 mendatang.
Sehingga pembangunan kualitas SDM harus dilakukan sejak sekarang, agar pada tahun 2045 mendatang Indonesia memiliki SDM yang berkualitas.
Stunting menjadi salah satu penghambat pembangunan kualitas SDM. Sebab anak yang stunting tidak bisa bersaing secara akademik di sekolah hingga pasar tenaga kerja.
"Dengan sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana ini, harapannya masyarakat mengetahui apa itu stunting, dan bagaimana mencegahnya. Agar saat 2045 mendatang, Indonesia memiliki generasi yang berkualitas," ungkapnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk ikut mendukung dan mendampingi keluarga yang memiliki anak stunting.
"Stunting itu bukan sebuah penyakit, tetapi gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Sehingga kalau ada keluarga yang anaknya stunting, jangan dicap buruk, mendapat stigma. Tetapi harus didukung, diajak berobat. Tentu akan lebih baik kalau kita mencegah, ya dari hulunya, misalnya sebelum menikah cek kesehatan dulu, anemia tidak, kurang gizi tidak. Sehingga saat hamil nanti sudah siap," terangnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Andi Ritamariani menekankan pentingnya ASI untuk bayi terutama 0-6 bulan. Ia menyebut ASI adalah makanan yang paling cocok bahkan paling lengkap untuk bayi usia 0-6 bulan.
Setelah berusia lebih dari 6 bulan, bayi dapat diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). Namun bukan berarti ASI tidak diberikan lagi, hingga bayi berusia dua tahun, bayi masih memerlukan ASI.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sinduadi-Mlati-Sleman-Jumat-04082023.jpg)