BBSP KEBTKE Kementerian ESDM: Bengkel Motor Listrik Butuh Konversi Lebih Banyak

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan jumlah kendaraan roda dua hasil konversi ke motor listrik dapat

Tayang:
Editor: Agus Wahyu
Tribunjogja/ Christi Mahatma Wardhani
Suasana supermarket motor listrik, Motoliz di Jl. Soropadan Jl. Affandi No.25, Condongcatur, Depok, Sleman, Jumat (10/03/2023) 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan jumlah kendaraan roda dua hasil konversi ke motor listrik dapat mencapai 6 juta unit pada 2030.

Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM (BBSP KEBTKE), Senda Hurmuzan Kanam mengungkapkan, untuk menciptakan ekosistem sepeda motor listrik melalui program konversi diperlukan kolaborasi dan kemitraan dengan seluruh stakeholder. Baik instansi pemerintah, BUMN, swasta, akademisi, asosiasi serta masyarakat diyakini menjadi kunci sukses terwujudnya harapan ekosistem kendaraan listrik dapat terwujud.

"Pelaksanaan transisi energi, termasuk melalui target program konversi motor BBM menjadi sepeda motor listrik sebanyak 6 juta motor di tahun 2030, memiliki banyak tantangan, namun saya percaya bahwa target tersebut bukan tidak mungkin dapat dicapai dengan komitmen dan konsistensi dari seluruh pemangku kepentingan terkait," ucap Senda.

"Untuk mendukung ekosistem program konversi sepeda motor listrik berbasis baterai berjalan dengan baik dan lancar, dibutuhkan kolaborasi dan kemitraan dengan seluruh stakeholder," lanjut Senda.

Untuk itu, diperlukan upaya nyata yakni memperbanyak bengkel konversi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Program konversi sepeda motor listrik ini akan mendorong berkembangnya usaha baru antara lain industri komponen utama, UMKM Bengkel Konversi dan Service, peleburan logam dan pengelolaan limbah baterai, serta pengembangan ketenagakerjaan yaitu tenaga teknik (montir) konversi sepeda motor listrik.

"Salah satu yang terpenting juga adalah mempersiapkan bengkel-bengkel konversi yang saat ini sudah mencapai 24 bengkel dan akan kita upayakan untuk terus bertambah hingga 100 atau 1000 bengkel di tahun depan," papar Senda.

"Jadi, kita ada program paralel tidak hanya program konversinya tapi pelatihan kepada bengkel lokal sehingga bengkel-bengkel yang ada itu bisa membangun bengkel binaan," paparnya.

Dijelaskan Senda, untuk mempercepat tumbuhnya bengkel-bengkel motor konversi maka bengkel-bengkel kecil binaan nanti merujuk perizinannya kepada bengkel yang sudah terdaftar dengan upaya ini maka kebutuhan sekitar 1.000 bengkel konversi tahun depan dapat terwujud. Untuk mendukung peningkatan bengkel konversi, Kementerian ESDM telah melakukan Pelatihan Tenaga Teknis (Montir) Bengkel Konversi yang dilaksanakan di 3 kota yaitu di Purbalingga, Denpasar, dan Surabaya.

Pelatihan juga telah dilaksanakan di Pusat Pengembangan SDM Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) telah melakukan pelatihan Teknis Konversi Sepeda Motor BBM Jadi Sepeda Motor Listrik secara gratis yang diikuti peserta dari beberapa bengkel konversi di seluruh Indonesia.

Materi pada Pelatihan yang diberikan sebanyak 80 jam pelajaran yang terdiri dari 30 jam pelajaran untuk Teori dan 50 jam pelajaran untuk Praktik dengan tenaga pengajar berasal dari Balai Besar Survei dan Pengujian KEBTKE dan BRIN yang berpengalaman dan kompeten di bidang ini.

"Diharapkan dengan pelatihan-pelatihan yang dilakukan akan menghasilkan sumber daya manusia yang mampu melakukan konversi sepeda motor BBM menjadi sepeda motor listrik," pungkas Senda.

Diketahui, sejak diumumkan pada awal April 2023, insentif pembelian kendaraan listrik roda empat maupun roda dua berjalan cukup lambat. Perlambatan paling terlihat dari penyaluran insentif sepeda motor listrik baru. Insentif Rp7 juta yang diberikan pemerintah nyatanya hanya baru tersalurkan 36 unit menurut website SISAPIRa.

Padahal, pemerintah menyiapkan kuota 200.000 motor listrik untuk insentif yang diberikan hingga akhir 2023.
Berbeda dengan sepeda motor listrik, mobil listrik justru kian digemari masyarakat Indonesia. Terbukti dengan terjadinya peningkatan penjualan di semester 1 2023.

Selama periode Januari-Juni tahun ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan wholesale mobil listrik murni atau BEV mencapai angka 5.849 unit. Jumlah tersebut tumbuh 1.081 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2022, yang hanya 495 unit.

Model paling banyak terjual adalah Hyundai Ioniq 5, dengan volume penjualan sebanyak 3.543 unit. Posisi kedua ditempati Wuling Air EV. Mobil listrik mini ini terjual sebanyak 1.654 unit selama semester 1 2023.

Merek mobil Eropa BMW dan Mini yang berada di bawah naungan BMW Indonesia berada di urutan ketiga, tercatat dengan 256 unit. Keempat ada Toyota bZ4X dengan 155 unit. (Tribun Network)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved