Penutupan TPA Piyungan
5 Negara Terbaik di Dunia yang Berhasil Mengatasi Polusi Plastik, Ada Korsel dan Singapura
Inilah 5 negara terbaik di dunia yang mampu mengelola sampah plastik para penduduknya, dari Asia ada Singapura dan Korea Selatan.
Penulis: Alifia Nuralita Rezqiana | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM - Tahukah Anda, berapa banyak sampah plastik yang dihasilkan manusia di dunia?
Menurut laporan United Nations Environment Programme (UNEP) atau Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa, saat ini kita menghasilkan sekitar 400 juta ton sampah plastik setiap tahun.
Tentu itu jumlah yang sangat banyak, terlebih jika dibandingkan dengan data sampah plastik di masa lalu.
Meski kini bumi masih “tersedak” sampah plastik, ada negara-negara yang dapat dijadikan contoh dalam pengelolaan sampah plastik.
Bukan hanya negara di kawasan Eropa saja, tapi ada pula negara Asia yang sudah bisa dijadikan panutan.
Negara-negara ini mampu menangani polusi plastik dengan mengolah sampah plastik yang dihasilkan penduduknya.
Dirangkum dari sustainabilitymag.com, inilah 5 negara terbaik di dunia yang berhasil mengatasi polusi plastik.
1. Jerman
Jerman jadi negara terbaik yang mampu menangani sampah plastik penduduknya.
Mereka mampu mengolah dan mendaur ulang limbah dan sampah secara maksimal.
Skema daur ulang di Jepang terbukti mampu mengurangi total sampah hingga 1.000.000 ton setiap tahun.
Jerman mampu mendaur ulang 70 persen dari semua sampah yang dihasilkan. Kok bisa?
Ternyata, Jerman mencapai prestasi ini melalui kebijakan tentang limbah.
Ada 5 tempat sampah berbeda yang digunakan untuk memilah sampah di Jerman.
Perusahaan di Jerman juga bertanggung jawab tentang masalah kemasan, mereka memastikan kemasan bisa didaur ulang.
Adapun konsumen yang membeli barang juga bertanggung jawab untuk membuang sampah dengan baik dan benar.
Jerman juga menerapkan kebijakan Green Dot yang berarti semua kemasan daur ulang harus diberi tanda dan perlu disetujui untuk menggunakan tanda tersebut.
Perusahaan juga harus membayar biaya denda ketika didapati menggunakan kemasan yang terlalu banyak.
Kebijakan itu membuat perusahaan berlomba-lomba untuk membuat kemasan produk yang seminimal mungkin, entah itu penggunaan plastik yang lebih sedikit, atau penggunaan kaca, kertas, dan logam yang lebih tipis.
2. Inggris
Kota Leeds di Inggris adalah rumah bagi skema daur ulang besar yang disebut Zero Waste Leeds.
Zero Waste Leeds tidak hanya mendaur ulang berbagai macam sampah, tetapi juga menggunakan kembali barang-barang yang tidak diinginkan.
Mereka melengkapi aksi cinta lingkungan dengan membuat artikel dan tips daur ulang.
Ada juga proyek di mana masyarakat dapat menyumbangkan seragam sekolah dan peralatan olah raga yang tidak dibutuhkan.
Sumbangan itu nantinya akan diberikan kepada keluarga dan anak-anak yang membutuhkannya.
Aksi tersebut bukan hanya membantu masyarakat yang kekurangan, tapi juga membantu mengurangi sampah tekstil.
3. Korea Selatan
Penggemar Drama Korea pasti sadar ada banyak adegan tentang membuang sampah di Korea Selatan.
Biasanya di Drama Korea, ditampilkan bagaimana para tokoh harus memilah sampah sebelum membuangnya.
Ternyata, budaya membuang sampah yang baik menghasilkan prestasi bagi Korea Selatan.
Selama tahun 1995, tingkat daur ulang makanan di Korea Selatan hanya 2 persen saja.
Namun, sekarang tingkat daur ulang di Korea Selatan sudah mencapai angka 95 persen.
Korea Selatan mampu mengurangi limbah makanannya dengan implikasi kebijakan biaya limbah makanan.
Jadi, setiap rumah tangga bisa mengurangi pengeluaran jika mampu mengolah limbah sisa makanan dengan baik.
Semua sampah harus dipilah ke dalam kategori tertentu, dan harus diratakan atau dipadatkan sebelum dapat didaur ulang.
Hampir semua barang bisa didaur ulang di Korea Selatan, entah itu tekstil, baja, TV, sofa, sampai styrofoam.
4. Singapura
Ketika Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sedang darurat sampah karena tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan ditutup sementara, Singapura malah minim penggunaan TPA.
Bahkan, Singapura memiliki tingkat penggunaan TPA terendah di dunia.
Perusahaan di Singapura bertanggung jawab penuh atas limbah dan sampah yang mereka hasilkan, termasuk bagaimana mereka membuangnya.
Sampah di Singapura akan dikumpulkan dalam truk yang ditunjuk dan dibawa ke pusat-pusat sampah tertentu.
Sampah dipilah ke dalam aliran daur ulang yang berbeda-beda. Jadi, beda jenis sampah, beda pula tempat pengelolaannya.
Nah, Singapura hanya memiliki satu TPA saja yang sebagian besar digunakan untuk plastik yang tidak dapat didaur ulang.
Sisa sampah yang tidak bisa didaur ulang itu akan dibakar menggunakan mesin berteknologi tinggi.
Mesin itu mampu mengubah asap menjadi udara bersih. Sisa abu sampah kemudian dikelola di bawah laut, dijadikan pulau buatan manusia.
Mereka juga mengolah pulau itu agar tetap aman untuk lingkungan alam.
5. Swiss
Bukan tanpa alasan Swiss menjadi negara terbaik dalam pengelolaan sampah.
Klik di sini untuk melihat daftar negara dengan pengelolaan sampah terbaik di dunia.
Ternyata, pengelolaan sampah plastik di Swiss memang patut diacungi jempol.
Di seberang Kota Zurich, Swiss, ada sekitar 12.000 titik daur ulang sampah yang berbeda.
Daur ulang dilakukan melalui pengumpulan dari pintu ke pintu atau di tempat pengumpulan daur ulang.
Wajib bagi penduduk Swiss untuk mendaur ulang sampah. Jika gagal mendaur ulang sampah, penduduk bisa kena denda.
Sebanyak 50 persen sampah bisa didaur ulang dan sisa sampah akan digunakan untuk menghasilkan energi.
Tidak ada sampah di Swiss yang berakhir di TPA, 100 persen sampah di Swiss bisa dikelola dengan baik.
Baca juga: 100 Kota dan Kabupaten Penghasil Sampah Terbanyak di Indonesia, Ada Sleman dan Gunungkidul
Baca juga: 11 Negara Pengelola Sampah Terbaik di Dunia, Ada Swiss Jerman Swedia Jepang dan Belanda
Itulah daftar negara terbaik di dunia yang mampu mengatasi polusi plastik.
Klik DI SINI untuk membaca berita tentang penutupan TPA Piyungan dan darurat sampah di Jogja. (Tribunjogja.com/ANR)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sampah-plastik-tumpukan-sampah-plastik-tempat-pembuangan-sampah.jpg)