Apa Itu Gangguan Body Dysmorphic Disorder yang Dialami Megan Fox? Ini Penjelasannya dari Pakar UGM
Mengenal body dysmorphia disorder yang dialami oleh aktris Hollywood Megan Fox. Penyakit itu membuat diri tidak bisa mencintai tubuh yang dimiliki
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
TRIBUNJOGJA.COM - Aktris Megan Fox sempat menceritakan dirinya mengalami body dysmorphia disorder yang membuatnya tidak bisa mencintai tubuhnya sendiri.
“Aku punya body dysmorphia. Aku tidak melihat diriku seperti orang lain melihat aku,” ujarnya dalam wawancara dengan Sports Illustrated untuk Swimsuit Edition pada bulan Mei 2023 lalu.
Menurutnya, tidak ada titik yang membuatnya bisa mencintai tubuhnya sendiri.
“Ketika aku kecil, ada obsesi, aku harus terlihat seperti ini dan kenapa pas aku masih kecil, aku mulai peduli dengan tubuhku, aku gak yakin,” terangnya.
“Tapi itu bukan karena lingkungan pastinya karena aku tumbuh di lingkungan yang sangat religius dimana tubuh itu tidak dikenali. Perjalanan untuk mencintai diriku bakal tidak berujung, kukira,” beber dia.
Lantas, apa itu body dysmorphic disorder (BDD) yang dialami Megan Fox?
Baca juga: Tayang di Bioskop, Berikut Sinopsis Film Terbaru Till Death yang Dibintangi Megan Fox
Psikolog UGM, Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie., M.Psi., Psikolog., menjelaskan BDD sering disebut juga sebagai gangguan dismorfik tubuh.
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang menjadi panduan diagnostik utama para profesional kesehatan mental, BDD merupakan salah satu masalah yang ditandai oleh kekhawatiran yang berlebihan terhadap kekurangan atau ketidaksempurnaan dalam penampilan fisik individu.
Seseorang yang mengalami masalah ini memiliki persepsi yang terdistorsi terhadap penampilan mereka sendiri, meskipun mungkin tidak ada ketidaksempurnaan yang signifikan atau terlihat oleh orang lain.
“Individu dengan BDD biasanya sangat terobsesi dengan sedikit detail penampilan mereka, seperti bentuk wajah, ukuran hidung, bentuk tubuh, atau bagian tubuh lainnya,” ujarnya, Sabtu (10/6/2023).
“Mereka mungkin sering memeriksa penampilan mereka di cermin atau mencoba menyembunyikan kekurangan mereka dengan cara tertentu, seperti mengenakan banyak makeup atau pakaian tertutup,” papar Aisha.
Dosen Fakultas Psikologi UGM ini mengatakan bahwa BDD berbeda dari kekhawatiran umum tentang penampilan tubuh.
Individu dengan BDD cenderung memiliki pikiran yang persisten dan mengganggu terhadap diri mereka.
Kondisi tersebut menyebabkan penderitaan yang signifikan dan dapat memengaruhi perilaku dan fungsi individu.
Aisha menuturkan BDD termasuk kedalam salah satu kesehatan mental yang rentan dialami oleh individu dengan riwayat keluarga yang menderita BDD atau gangguan kecemasan lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Megan-Fox-BDD.jpg)