Woow, Kursus Senyum di Jepang Tarifnya Rp 800 Ribu Per Jam
Tempat-tempat kursus senyum di Jepang ini mulai banyak diminati oleh warga sejak pemerintah setempat tak mewajibkan masker
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Bahkan, sebelum pandemi, mengenakan masker di Jepang adalah hal yang normal bagi banyak orang saat musim flu dan masa ujian karena khawatir tertular penyakit.
Meski Pemerintah Jepang telah mencabut rekomendasinya untuk memakai masker pada Maret, banyak orang belum melepaskannya setiap hari.
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan lembaga penyiaran publik NHK pada Mei menunjukkan 55 persen orang Jepang mengaku memakai masker sesering dua bulan sebelumnya.
Hanya 8 persen yang mengatakan mereka telah berhenti memakai masker sama sekali.
Menariknya, kira-kira seperempat dari siswa sekolah seni yang mengikuti kelas tersebut tetap memakai masker mereka selama pelajaran.
Kaum muda, kata Kawano, kemungkinan sudah terbiasa hidup dengan masker.
Ia menambahkan, bahwa masker akan memudahkan perempuan untuk keluar rumah tanpa riasan dan pria dapat menyembunyikan bahwa mereka belum bercukur.
Mantan pembawa acara radio yang mulai memberikan pelajaran pada 2017 ini juga telah melatih 23 orang lainnya sebagai pelatih senyum untuk menyebarkan kebajikan dan teknik membuat senyum sempurna di seluruh Jepang.
Metode "Teknik Tersenyum Gaya Hollywood" yang menjadi ciri khasnya terdiri dari "mata bulan sabit", "pipi bundar", dan membentuk tepi mulut menjadi delapan putih mutiara di baris atas.
Siswa dapat mencoba teknik mereka di tablet untuk mendapatkan skor pada senyum mereka.
Kawano percaya bahwa secara budaya, orang Jepang mungkin kurang tersenyum daripada orang Barat karena rasa aman mereka sebagai negara kepulauan dan sebagai negara kesatuan.
Ironisnya, mendengar dia mengatakannya, ancaman senjata mungkin mendorong lebih banyak senyum.
"Secara budaya, senyuman menandakan bahwa saya tidak memegang senjata dan saya bukan ancaman bagi Anda," ungkap Kawano.
Dengan lonjakan wisatawan yang datang, dia berpendapat, orang Jepang perlu berkomunikasi dengan orang asing lebih dari sekadar mata mereka.
"Saya pikir ada kebutuhan yang meningkat bagi orang untuk tersenyum," ucap Kawano. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Arti-mimpi-nenek-tersenyum-Foto-ilustrasi-adegan-Drama-Korea-Curtain-Call.jpg)