Arti Kata FOMO dan FOPO serta Bagaimana Cara Mengatasinya?
Apa itu FOMO dan FOPO yang sering dibicarakan di media sosial? Bagaimana cara mengatasi perasaan kedua hal tersebut?
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
TRIBUNJOGJA.COM - Kata FOMO atau Fear of Missing Out (FOMO) sering diuganakan di media sosial untuk melabeli orang-orang yang memiliki perasaan takut tertinggal dari orang lain.
Beberapa hari belakangan, banyak warganet yang menyebut kata FOMO untuk melabeli mereka yang takut kehabisan tiket konser.
Warganet menganggap, orang-orang FOMO ini adalah mereka yang tidak tahu tentang musisi yang ada di konser itu, tetapi ingin nonton karena ramai.
Baca juga: RAMALAN ZODIAK Keuangan Besok Selasa 23 Mei 2023: Taurus Dompet Makin Tebal, Cancer Berujung Sial
Apa itu FOMO?
Dilansir dari Verywell Mind, FOMO adalah perasaan atau persepsi takut tertinggal dari orang lain yang terlihat lebih bahagia, memiliki kehidupan, atau melakukan hal-hal yang lebih baik.
Rasa takut ketinggalan ini jamak dirasakan pengguna media sosial, karena di media sosial kita relatif gampang melihat atau mengikuti kehidupan orang lain yang aktif mengunggah aktivitas atau kehidupan pribadinya.
Beberapa orang tidak mengalami masalah tertentu dengan unggahan tersebut, namun ada juga orang yang memiliki kecenderungan untuk membandingkan, sampai menimbulkan rasa tidak percaya diri dan cemas
Apa penyebab FOMO?
Masih dikutip dari Verywell Family, keberadaan media sosial memicu rasa takut untuk tertinggal, khususnya pada orang-orang yang aktif bermain media sosial.
Perasaan tidak keren akan muncul ketika melihat unggahan teman atau orang lain yang sedang bersenang-senang atau melakukan kegiatan yang tidak dilakukan oleh dirinya.
Menurut penelitian yang terbit pada Psychological Research and Intervention pada 2019, penyebab FOMO adalah tingkat kepercayaan diri yang lebih rendah daripada orang lain.
Kondisi ini umum ditemui pada partisipan yang berusia 18 hingga 25 tahun karena adanya tuntutan untuk memiliki relasi sosial yang baik dengan orang lain.
Sosial media kemudian menjadi jembatan untuk membangun relasi sosial tersebut, sekaligus sebagai alat untuk memahami diri sendiri.
Menurut penelitian di dalam World Journal of Clinical Cases pada 2021, penggunaan sosial media yang berlebihan dan perasaan takut akan tertinggal muncul untuk menghindari penolakan secara sosial.
Akibatnya, seseorang memiliki kecenderungan untuk membuka media sosial yang dimilikinya secara terus-menerus, bahkan mengorbankan waktu tidur, dan aspek kehidupan lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ilustrasi-FOMO.jpg)