Berita Sleman Hari Ini
Penyakit LSD Meluas di Sleman, Total Ada 39 Ekor Sapi yang Mati
Kasus Lumpy Skin Disease (LSD) atau sering disebut juga lato-lato terus bertambah di Kabupaten Sleman. Sampai saat ini terdapat 2.373 ekor sapi
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kasus Lumpy Skin Disease (LSD) atau sering disebut juga lato-lato terus bertambah di Kabupaten Sleman.
Sampai saat ini terdapat 2.373 ekor sapi terjangkit. Dari jumlah tersebut, 428 ekor berhasil sembuh, 36 dipotong paksa dan 39 ekor mati.
Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman terus berupaya mengendalikan laju penularan dengan rutin memberikan pengobatan, vaksinasi, maupun Imbauan kepada para peternak agar menjaga kebersihan kandang.
Baca juga: Ini Pesan Abdul Halim Saat Hadiri Pelantikan Pengurus Baru PDM-PDA Bantul 2022-2027
"Gerakan kebersihan kandang ini sangat penting dilakukan. Agar vektornya berkurang. Vektornya (LSD) itu caplak, nyamuk dan lalat. Kalau vektornya itu berkurang maka InsyaAllah penularan menurun," kata Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan, Kabupaten Sleman, Ir. Suparmono, Senin (08/5/2023).
Selain kebersihan kandang, peternak juga diminta segera melapor kepada Petugas di Puskeswan apabila ternaknya mulai mengalami gejala LSD.
Gejala yang ditimbulkan mulai dari keluarnya bintik-bintik bentol disekitar tubuh hingga disertai penurunan nafsu makan.
Menurutnya, semakin cepat melapor akan semakin baik karena ternak akan lebih cepat mendapat pengobatan.
Ternak terjangkit yang segera mendapatkan pengobatan dari dokter hewan hampir 90 persen sembuh.
Meskipun proses kesembuhan bervariasi.
"Pengobatan ini bisa sembuh 2 sampai 3 bulan. Tergantung peternaknya. Jika nutrisi pakannya relatif bagus maka akan lebih cepat sembuh," kata Suparmono.
Lebih lanjut, mantan Panewu Cangkringan ini mengungkapkan, kasus LSD di Kabupaten Sleman kini terus bertambah meksipun angka penularannya relatif menurun.
Jika sebelumnya sehari bisa 20-50 kasus saat ini di angka 5-10 kasus per hari.
Kendati demikian, kasus penularan sudah hampir merata di seluruh Kapanewon di Kabupaten Sleman.
Kasus terbanyak ditemukan di wilayah Prambanan dengan 271 kasus.
Sementara Kapanewon lainnya berkisar di angka sekitar 100-an kasus.
Sapi yang mati juga cukup banyak yakni 39 ekor dan 36 ekor dipotong paksa.
"Yang potong paksa dan yang mati ini kebanyakan adalah pedet, sapi kecil," kata dia. (rif)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-sleman_20180731_185753.jpg)