Berita Pendidikan Hari Ini
UNY Tambah Lima Belas Guru Besar Baru Hari Ini, Ini Daftar Namanya
Universitas Negeri Yogyakarta ( UNY ) mengukuhkan gelar guru besar kepada 15 dosen yang dilaksanakan pada Sabtu (6/5/2023) di Performance Hall Fakulta
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Universitas Negeri Yogyakarta ( UNY ) mengukuhkan gelar guru besar kepada 15 dosen yang dilaksanakan pada Sabtu (6/5/2023) di Performance Hall Fakultas Bahasa Seni dan Budaya UNY.
Guru besar yang dikukuhkan kali ini berasal dari lima fakultas yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Fakultas Bahasa Seni dan Budaya, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Fakultas Teknik serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Berikut daftar nama guru besar UNY yang baru dikukuhkan hari ini:
Baca juga: Begini Strategi Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Hadapi Kemarau Panjang
1. Prof. Dr. Haryanto, M.Pd.,
2. Prof. Dr. Nurtanio Agus Purwanto, M.Pd.,
3. Prof. Dr. Budi Astuti, M.Si.,
4. Prof. Dr. Drs. Iswahyudi, M.Hum.,
5. Prof. Dr. Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, Ph.D.,
6. Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.,
7. Prof. Dr. Ahmad Nasrulloh, S.Or., M.Or.,
8. Prof. Dr. Awan Hariono, S.Pd., M.Or.,
9. Prof. Dr. Komarudin, S.Pd., M.A.,
10. Prof. Dr. Erwin Setyo Kriswanto, M.Kes, AIFO.,
11. Prof. dr. Novita Intan Arovah, M.P.H, Ph.D.,
12. Prof. Dr. Sugeng Purwanto, M.Pd.,
13. Prof. Dr. Yudik Prasetyo, M.Kes., AIFO.,
14. Prof. Dr. Wagiran, S.Pd., M.Pd
15. Prof. Dr. Tony Wijaya, SE., MM.
Menurut Rektor UNY Prof Sumaryanto pengukuhan guru besar ini merupakan salah satu tradisi untuk mengapresiasi dan penghargaan bagi para dosen yang telah berjuang mendapatkan jabatan tertinggi sekaligus merupakan wadah akademis bagi para guru besar untuk mengemukakan ide, gagasan dan informasi terkini terkait bidang keilmuan yang
ditekuni.
Haryanto dalam pidatonya memaparkan tentang ‘Keseimbangan Berpikir Divergen-Konvergen Melalui Pendekatan Pembelajaran Konstruktivistik’.
Menurutnya pengembangan cara berpikir divergen dan konvergen secara seimbang dalam proses pembelajaran sangat penting untuk diwujudkan.
Keseimbangan berpikir divergen dan konvergen mampu mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi sangat diperlukan untuk menyelesaikan persoalan bangsa dari sisi kebermaknaan dan kebenaran substansial.
“Berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking, tidak lain adalah perwujudan dari fungsi divergen dan konvergen dalam proses berpikir,” kata Haryanto.
Berpikir tingkat tinggi adalah berpikir kreatif kritis, mengkaji persoalan dari sisi kebermaknaan dan kebenaran substansi.
Menurut Iswahyudi yang menyampaikan tentang ‘Peranan Pendidikan Seni Dalam Penguatan Budaya Nasional’, cara berpikir tradisional tentang pendidikan seni dan desain sudah tidak memadai lagi karena perkembangan seni telah mengalami perubahan yang sangat cepat seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan globalisasi ekonomi dan budaya.
“Pendidikan seni rupa dan desain yang masih dipengaruhi oleh konsep pendidikan seni rupa progresif yang mengutamakan ekspresi individu sudah tidak relevan lagi,” ucapnya.
Berbagai wacana dan teori budaya global seperti postmodernisme, postkolonialisme, feminisme, multikulturalisme, pluralisme, postindustrial, posthistory, postauratic, akhir sejarah seni rupa, dan lain sebagainya telah lama merembes ke ruang diskusi publik dan mempengaruhi para pekerja seni dan desain serta seniman dan pendidik desain.
Sedangkan Ahmad Nasrulloh dalam pidatonya berjudul ‘Model Latihan Fun Fitness Untuk Meningkatkan Kekuatan Dan Daya Tahan Otot Pada Lansia’ menjabarkan bahwa sangat penting bagi lansia untuk selalu melakukan latihan fisik demi menjaga dan meningkatkan kebugaran ototnya, sehingga lansia dapat memperoleh derajat kesehatan yang lebih baik.
Situasi saat ini, kebanyakan lansia cenderung hanya berdiam diri di dalam rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah.
Hal tersebut berdampak pada penurunan tingkat kebugarannya.
Selain itu, lansia juga akan mengalami perubahan secara fisiologis, seperti hilangnya unit motorik, perubahan jenis serat, atrofi serat otot, serta berkurangnya aktivasi neuromuscular.
Perubahan secara fisiologis tersebut dapat mempengaruhi kecepatan, kekuatan, dan daya tahan otot pada lansia saat melakukan gerak sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan kinerja fisik.
“Oleh karena itu, lansia tetap dianjurkan untuk dapat melakukan latihan fisik yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuannya,” katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pengukuhan-guru-besar-UNY-SAbtu-652023.jpg)