Berita Kulon Progo Hari Ini
Pemkab Kulon Progo Kenang Pejuang Sanoen Lewat Pentas Teatrikal dan Sendratari Kolosal
Sosok Sanoen tampaknya belum banyak dikenal oleh masyarakat bahkan mungkin sebagian generasi muda di Kabupaten Kulon Progo. Oleh sebab itu, Pemerintah
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Sri Cahyani Putri Purwaningsih
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Sosok Sanoen tampaknya belum banyak dikenal oleh masyarakat bahkan mungkin sebagian generasi muda di Kabupaten Kulon Progo.
Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) setempat menyelenggarakan pentas teatrikal berjudul "Kabut di Atas Bantar" dan sendratari kolosal "Satya Satria Sanoen" di Alun-alun Wates, Jumat (5/5/2023) malam.
Kedua pertunjukan digelar dalam rangka mengenang sosok Sanoen yang merupakan pejuang lokal asal Kulon Progo.
Baca juga: Setelah Tetapkan Ganjar Sebagai Capres, Megawati Juga Tengah Cari Sosok Cawapres
Ditemui di sela pentas teatrikal, Sejarawan UGM, Ahmad Athoillah terngiang-ngiang akan perkataan Sanoen "luweh apik aku neng (Jembatan) Bantar ben aku mati, matiku koyo kodok tapi aku diregani karo negara" (lebih baik aku ke (Jembatan) Bantar biar aku meninggal, meninggal seperti katak tapi aku dihargai oleh negara).
Kalimat itu kemudian dikutipnya dan dituangkan dalam sebuah buku berjudul "Jalan Sanun dan Lapangan Sanun: Sejarah Kehidupan Agen Polisi Sanoen".
Diceritakan, Sanoen lahir di Dusun Trukan, Kalurahan Kulur, Kapanewon Temon pada 1926 dari pasangan Ronowiryo dan dan Tugiyem.
Kemudian pada 1936, Sanoen mulai mengenyam bangku sekolah di Kawula Pakualaman.
Setelah itu pada 1939, ia melanjutkan sekolah Ongko Loro di Sogan dan melanjutkan sekolah peralihan di Temon.
Namun pada 1942, sekolah peralihan di Temon bubar karena kedatangan militer Jepang.
Selanjutnya pada 1943, Sanoen lalu bergabung dalam kesatuan Keibodan di Kulur.
Setelah itu pada 1944, ia belajar Bahasa Jepang di Sogan dan setahun setelahnya ia lulus.
Seusai lulus sekolah, Sanoen memiliki keinginan untuk menjadi seorang pegawai.
Ia lantas bekerja sebagai buruh di pabrik produksi kecap di Bandung.
Karena masa revolusi, pabrik tempatnya bekerja bubar. Setelah itu, Sanoen melanjutkan karirnya dengan mendaftar sebagai anggota Brimob.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sanoen-di-Alun-alun-Wates-Jumat-552023-malam.jpg)