UNIK! Tahun 2033, Umat Islam Bisa 3 Kali Salat Id, Bagaimana Bisa?
Tribunners, tahukah kamu kalau di tahun 2033 atau 10 tahun dari sekarang, umat Islam akan melaksanakan salat id sebanyak tiga kali dalam setahun?
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
TRIBUNJOGJA.COM - Tribunners, tahukah kamu kalau di tahun 2033 atau 10 tahun dari sekarang, umat Islam akan melaksanakan salat id sebanyak tiga kali dalam setahun?
Mengutip Kompas.com, di tahun itu, umat Islam akan menjalani dua kali Salat Idulfitri dan sekali Salat Iduladha.
Hal itu terjadi karena kalender Islam atau Hijriah berbeda dengan kalender Masehi atau kalender Gregorian.
Maka, ada kemungkinan, tahu depan, hari Lebaran tidak jatuh di hari yang sama dengan hari ini.
Baca juga: 30 Kumpulan Ucapan Selamat Idul Fitri 2023 Bahasa Inggris Eid Mubarak atau Eid al-Fitr Mubarak
Hal ini karena kalender Islam bergantung pada siklus bulan dan bergerak maju sekitar 10-11 hari per tahun.
Melacak kalender Islam dan membandingkannya dengan kalender Gregorian, ini perkiraan tanggal Hari Raya Idulfitri dan Iduladha 2033:
- Idulfitri yang jatuh pada 1 Syawal 1454 H bertepatan dengan Senin, 3 Januari 2033
- Iduladha yang dirayakan pada 10 Dzulhijjah diprediksi terjadi pada 11 Maret 2033
- Pada November 2033, umat Islam kemungkinan besar akan melaksanakan ibadah puasa mulai 23 November 2033
- Setelah bulan Ramadan usai, muslim di seluruh dunia akan merayakan Idulfitri yang diperkirakan jatuh pada Jumat 23 Desember 2033
Dengan kata lain, Idulfitri kedua pada 2033 bakal berdekatan dengan perayaan Natal yang jatuh pada 25 Desember 2033.
Lalu, kapan Idulfitri tahun 2023?
Pemerintah belum mengumumkan secara resmi Hari Raya Idulfitri 2023 karena masih menunggu sidang isbat.
Jika dihitung secara kasar, 1 Ramadan 1444 H jatuh pada 23 Maret 2023, maka Idulfitri diperkirakan jatuh pada 22-23 April 2023.
Namun ini hanyalah perkiraan saja karena penentuan 1 Syawal 1444 H perlu ditetapkan dengan berbagai metode.
Ada dua metode yang umum digunakan yakni metode hisab dan rukyat.
Pemerintah RI melalui Kementerian Agama (Kemenag) menggunakan gabungan antara metode hisab dan rukyat dengan mengacu pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang kemudian ditetapkan melalui sidang isbat.
Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Metode ini menitikberatkan pada posisi geometris benda-benda langit. Sedangkan NU menggunakan metode rukyatul hilal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ucapan-Selamat-Hari-Raya-Idulfitri-2023.jpg)