Berita Magelang Hari Ini

Bedug Genderang Perang Milik Pangeran Diponegoro Bukti Syiar Islam di Magelang  

Bedug ini diyakini sebagai  genderang perang pasukan Pangeran Diponegoro, pada masa Perang Jawa sekitar tahun 1825-1830-an. 

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Nanda Sagita Ginting
Trimo memukul bedug genderang perang milik Pangeran Diponegoro, pada Jumat (31/3/2023) lalu 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Bedug Genderang Perang milik Pangeran Diponegoro  menjadi  bukti perkembangan syiar Islam di wilayah Magelang .

Bedug tersebut berada Masjid Tiban Baiturrahman, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang

Bedug ini diyakini sebagai  genderang perang pasukan Pangeran Diponegoro, pada masa Perang Jawa sekitar tahun 1825-1830-an. 

Sesepuh Desa Wanurejo, Trimo (63) mengatakan, masyarakat meyakini karena sejarah tersebut disampaikan secara turun-temurun dari orang tua terdahulu.

Meskipun tidak ada catatan tertulis bedug tersebut peninggalan Pangeran Diponegoro.

"Jadi ceritanya itu turun temurun dari Mbah-mbah saya. Jadi, masjid ini kan namanya Tiban maksudnya duluan ada masjid ini daripada warga. Tetapi dulu masjidnya masih kecil seperti langgar saja. Jadi bedug dan masjid itu satu paket, dulunya kan Pangeran Diponegoro aba-aba untuk perang itu dari bedug,sebagai gederangnya," ujarnya Jumat (31/3/2023).

Baca juga: Mengunjungi Masjid Tiban Jenar di Purworejo, Konon Dibangun Sunan Kalijaga pada 1460-an Masehi

Kondisi bedug dengan ukuran diameter sekitar 80-90 sentimeter dengan panjang 1 meter ditempatkan di serambi masjid.

Kondisinya masih terawat namun sayang beberapa bagian dari bedug sudah banyak diganti bukan bawaan asli.

Trimo mengatakan, bagian yang sudah diganti meliputi kulit bedug, pengikat bedug, dan pemukul bedug.

"Kalau bedugnya masih asli. Dulu, warga di sini tidak paham kalau ini benda antik. Jadi, karena rusak bagian kulitnya langsung dipernis, itu sekitar tahun1997-1998. Karena ketidaktahuan tadi kalau keaslian itu tinggi nilainya. Lalu, untuk pengikat bedug agar lebih kencang karena yang dulu sudah rusak. Begitupun, pemukul bedug sudah tidak yang asli lagi,"tuturnya.

Ia menambahkan, pergantian kulit bedug sudah dilakukan berulang kali.

Sebab, intensitas penggunaan bedug cukup tinggi, terlebih saat memasuki bulan puasa.

"Tiap tahun kulit diganti, karena apa? Karena setiap satu hari sebelum Ramadan anak-anak itu memakai bedug satu hari penuh. Sekarang  saja sudah mulai berkurang," tuturnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini bedug Pangeran Diponegoro masih digunakan sebagai penanda  salat lima waktu.

Terlebih saat Ramadan digunakan untuk takbiran.

“Ini masih sering digunakan. Kalau untuk panggilan salat lewat bedug begitupun takbiran. Apalagi kalau hari Jumat harus memakai bedug itu sudah ciri khas masjid sini," urainya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved