Berita Kota Yogya Hari Ini
Kusir Andong di Malioboro Mengaku Sepi Penumpang Saat Awal Ramadan 2023
Beberapa kusir andong di Malioboro mengaku mengalami penurunan penumpang selama Ramadan 1444 H / 2023 M. Satu di antara kusir andong yang mengeluhkan
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Beberapa kusir andong di Malioboro mengaku mengalami penurunan penumpang selama Ramadan 1444 H / 2023 M.
Satu di antara kusir andong yang mengeluhkan hal tersebut yakni Nova Triwidadi (22).
"Saya sebenarnya baru dua hari ini mulai narik lagi. Jadi awal-awal Ramadan sampai enam hari kemarin saya sengaja nggak narik. Karena biasanya kalau awal puasa itu pasti sepi penumpang, jadinya saya enggak narik," tuturnya kepada Tribun Jogja di Malioboro, Kamis (30/3/2023).
Baca juga: Pemkab Bantul Masih Kekurangan ASN
Disampaikannya, pada sehari yang lalu, ia hanya satu kali menarik penumpang andong asal domestik.
Sedangkan pada hari-hari biasa Nova mampu menarik tiga sampai empat penumpang baik itu dari mancanegara maupun domestik.
"Hari ini saya berangkat pukul 14.00. Dari jam segitu sampai pukul 16.45 saya belum dapat penumpang. Sekarang masih sepi penumpang," tutur laki-laki asal Kabupaten Bantul.
Ia pun menambahkan, hujan yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya Kota Yogyakarta pada beberapa hari terakhir itu juga menjadikan satu di antara penyebab menurunnya penumpang andong di Malioboro.
Senada, Bardi (60) mengatakan bahwa pendapatannya kini menurun sebesar 75 persen dari hari-hari biasa.
"Kalau dibandingkan dengan Ramadan tahun lalu, malah ramai yang tahun lalu. Hari ini saya juga stand by dari pukul 14.00 WIB dan sampai pukul 16.53 WIB ini masih belum narik," urai dia.
"Biasa kalau enggak hujan itu lumayan ramai. Tapi karena cuaca sekarang sering hujan jadi juga sepi penumpangnya," tambahnya.
Walau Bardi enggan menyebutkan nominal rata-rata pendapatnya per hari, namun dijelaskannya pendapatan tersebut terkadang tidak memenuhi kebutuhan perawatan kuda andong tersebut.
"Saya kan juga punya kebutuhan lain. Jadi kadang untuk beli makan kuda itu hutang dulu sama yang jual makanan. Kalau saya dapat uang dari narik baru saya bayarkan biaya hutang makan kuda saya itu," kata Bardi.
Biasanya ia hanya memberikan makan kepada kuda berupa pohon kacang tanah dan katul yang dicampur dengan berbagai suplemen.
Rata-rata harga perawatan kuda per hari biasa mencapai Rp25 ribu-Rp50 ribu.
"Untuk satu ikat pohon kacang tanah itu bisa Rp50 ribu. Jadi bisa untuk satu atau dua hari. Karena biasa satu ikat itu bisa untuk makan tiga kali. Pagi, siang dan sore," jelasnya.
"Sedangkan harga satu kali narik itu bisa Rp100 ribu - Rp150 ribu. Tapi kan itu tidak setiap hari bakal narik. Kadang ramai, kadang juga sepi," tutup Bardi. (Nei)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Andong-di-Jalan-Malioboro-pada-Kamis-3032023.jpg)