Kasus Mutilasi di Sleman
Sosiolog : Media Harus Hati-hati Beritakan Kasus Mutilasi di Sleman
Pemberitaan di media bisa menjadi salah satu faktor pendorong pelaku kejahatan yang ingin menghilangkan jejak pembunuhan.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Media diminta untuk berhati-hati memberitakan kasus mutilasi di Sleman yang terjadi, Senin (20/3/2023).
Sebab, pemberitaan di media bisa menjadi salah satu faktor pendorong pelaku kejahatan yang ingin menghilangkan jejak pembunuhan.
“Zaman sekarang, seseorang mudah mendapatkan informasi, termasuk dari media dan media sosial. Itu bisa saja jadi dorongan replikasi kejadian (mutilasi) di beberapa tempat. Kita sadar ya, kasus mutilasi di beberapa daerah juga banyak terjadi,” ujar Sosiolog Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Grendi Hendrastomo, S.Sos., M.M., M.A. kepada Tribun Jogja, Rabu (22/3/2023).
Dia menilai, media yang mengusung konsep berita bombastis bisa saja menciptakan imajinasi bagi pelaku kejahatan untuk melakukan cara apapun agar jejak kejahatannya tidak tercium.
“Konteksnya kan ada seseorang terbunuh, dimutilasi, sudah cukup sampai situ saja. Tidak perlu dijelaskan detail, misal sampai dimasukkan ke koper. Orang bisa jadi berimajinasi. Padahal media juga bisa berhenti pada konteks mutilasi itu saja agar meminimalisasi replikasi,” terangnya.
Meski demikian, dia paham, berita bombastis dibuat untuk menarik minat pembaca.
Keberlangsungan media pun tergantung pada siapa pembacanya.
Jika pembacanya berasal dari tingkat pendidikan tinggi, maka mungkin saja mereka tidak membutuhkan detail tentang mutilasi itu.
Akan tetapi, jika pembaca berasal dari pendidikan rendah, mereka mungkin akan membutuhkan informasi yang lebih ringan, detail kasus, motif dan lain sebagainya.
Apalagi, media daring harus berkompetisi satu sama lain untuk menarik minat mereka yang membutuhkan informasi terkait kasus mutilasi di Sleman.
“Kondisi masyarakat, secara mental, sudah tertekan. Di satu sisi, di dunia media, mereka juga memberikan informasi terkait kasus mutilasi seperti ini. Jadi bisa memunculkan replikasi penghilangan jejak itu tadi,” bebernya.
Sementara, Pakar Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D turut mewanti-wanti agar media tidak vulgar memberitakan kasus mutilasi.
“Jangan terlalu vulgar dan detail, biar orang tidak belajar dari situ. Tidak perlu sebut berapa kali dia dipotong, dimana dia dibuang, itu tidak perlu, itu vulgar,” tukasnya. ( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Akhir-Kasus-Mama-Muda-Asal-Jogja-Dimutilasi-di-Kamar-51-Pelaku-Cuti-Kerja-Saat-Beraksi.jpg)