Berita Sleman Hari Ini
Mengenal Wisata Edukasi Konservasi Burung Hantu Dusun Cancangan Sleman
Wisata edukasi Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu Dusun Cancangan (Tyto alba) yang terletak di Padukuhan Cancangan, Kalurahan Wukirsari,
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Wisata edukasi Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu Dusun Cancangan (Tyto alba) yang terletak di Padukuhan Cancangan, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta terlihat berbeda dari destinasi wisata pada umumnya.
Berjarak 20 Kilometer dari Tugu Pal Putih Yogyakarta, wisata tersebut menawarkan edukasi menjaga kelestarian alam sekaligus mengetahui proses menjaga kelestarian burung hantu yang dapat berfungsi sebagai pemangsa hama tikus di persawahan.
Pengola Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu Dusun Cancangan (Tyto alba) sekaligus Wakil Ketua Raptor Club Indonesia, Lim Wen Sin, mengatakan, sementara ini, untuk memasuki destinasi tersebut pengunjung tidak perlu mengeluarkan uang alias gratis.
Baca juga: Sejumlah Jalan Provinsi di Sleman Rusak, DPUPKP: Belum Ada yang Sampai Ekstrem dan Membahayakan
Usut punya usut, Lim berujar, wisata edukasi itu hadir berdasarkan kepekaannya terhadap ekosistem alam dan kepeduliannya terhadap hasil panen padi yang dinilai sangat sedikit.
Sehingga, pada awalnya Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu Dusun Cancangan (Tyto alba) bukanlah destinasi wisata, melainkan progam untuk melindungi populasi burung hantu Serak Jawa atau yang dikenal dengan nama Tyto Alba Javanica sekaligus sebagai pemburu atau mengurangi hama tikus di lahan pertanian masyarakat.
"Kami mulai melakukan riset pada 2009. Terus, pada 2013 akhir kami baru masuk sini (Kalurahan Wukirsari). Jadi, efektivitasnya 2014. Nah, hasil aktivitas setelah riset itu baru kelihatan pad 2015," ucapnya kepada awak media saat ditemui di Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu Dusun Cancangan (Tyto alba), Senin (6/2/2023).
Menurutnya, pada 2013 hasil panen padi di kawasan tersebut masih berada dikisaran 10-15 persen. Pasalnya 90-95 persen, panen padi di wilayah tersebut dirusak oleh hama tikus. Selanjutnya, pada 2014, hasil panen padi masyarakat setempat dinilai lebih baik.
"Hasil panennya sudah fifty-fifty (50 banding 50 persen). Itu sudah ada perubahan. Kemudian, pada 2015 sudah ada pemulihan keadaan. Hasil panen padi warga sudah ada 90-95 persen," tutur dia.
Walau begitu, dalam menjaga kelestarian burung hantu dan menjaga pemulihan hasil panen warga setempat, Lim harus mampu bekerja sama dengan para petani untuk tidak menggunakan racun tikus dan menyiapkan beberapa sistem kerja.
"Tentunya, kami harus mampu mengajak para petani untuk tidak mengganggu kehidupan burung hantu serta menyediakan tempat mampir dan bersarang bagi burung hantu," urai orang yang merupakan lulusan Program Studi Biologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Baca juga: Pria Asal Pituruh Purworejo Pergi ke Bogor Gadaikan Mobil Teman Rp18 Juta
Artinya, untuk melestarikan ekosistem burung hantu tidaklah mudah. Melainkan dibutuhkan kesabaran dan teknik modifikasi tertentu untuk menjaga kelangsungan hidup burung hantu di Kabupaten Sleman bagian utara itu.
"Strategi yang paling efektif itu mendatangkan langsung burung hantu tanpa harus membeli (burung hantu dari kuar daerah). Jadi, sekarang kami tinggal memasang sarang burung hantu saja. Karena kami sudah tahu teknisnya," kata Lim.
Sejauh ini, terdapat 11 pasang burung hantu atau 22 burung hantu yang aktif di destinasi itu.
"Aktif maksudnya bertelur periodik. Nah itu ada 11 pasang burung hantu. Mereka monogami, tapi perkawinannya sangat sulit," tutupnya. (Nei)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Dusun-Cancangan-Tyto-alba-pada-Senin-622023.jpg)