Pemilu 2024
Pemuka Agama Kunjungi Tribun Jogja, Serukan Pemilu Damai di DI Yogyakarta
Wakil Katip Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY, KH. Beny Susanto mengatakan Pemilu tak jarang diwarnai oleh politik uang dan politik identit
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Indonesia memasuki tahun politik menuju Pemilu 2024. Itulah yang mendorong pemuka agama di DIY menyerukan Pemilu damai.
Wakil Katip Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY, KH Beny Susanto mengatakan Pemilu tak jarang diwarnai oleh politik uang dan politik identitas.
Tak jarang tempat ibadah dan tempat pendidikan justru menjadi tempat kampanye.
Baca juga: Babak Pertama PSS Sleman Vs Arema FC, Gol Irkham Mila Bawa Super Elja Unggul
"Pemilu 2024 ini harus dibikin gembira, sehingga hal-hal yang merusak substansi seperti money politik, politik identitas tidak ada lagi. Terutama kampanye di tempat ibadah dan tempat pendidikan," katanya saat audiensi dengan Tribun Jogja, Kamis (26/01/2023).
Agar pemilu damai terwujud, komitmen penyelenggara pemilu yaitu KPU dan Bawaslu, termasuk pemerintah hingga aparat keamanan perlu merumuskan aturan tidak boleh kampanye di tempat ibadah dan tempat pendidikan.
"Yang pasti untuk menjaga Kebhinekaan," sambungnya.
Sepakat dengan KH Beny, Formator Skolastikat SCJ Yogyakarta, Romo Stepanus Sigit Pranoto SCJ tidak ingin tempat ibadah, dalam hal ini gereja menjadi sarana kampanye.
Secara tegas melarang romo, biarawan, biarawati berpolitik praktis.
"Karena dapat memecah umat, baik secara internal maupun eksternal di ruang gereja Katolik. Peran tokoh agama, ulama sangat berpengaruh supaya tidak ada adu domba dan menjaga kondusivitas," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Mubaligh Ahmadiyah Yogyakarta, Murtiyono Yusuf Ismail menyampaikan kekhawatiran polarisasi 2024. Apalagi selama ini isu Ahmadiyah sering diangkat jelang Pemilu.
"Untuk itu diperlukan sinergitas bersama menjaga kontestasi agar tidak merugikan masyarakat. Karena selama ini masyarakat yang terkena dampaknya," ungkapnya.
Romo Kevikepan Yogyakarta Barat, AR Yudono Suwondo Pr mengakui konten polarisasi akan marak di tahun politik. Sehingga pemuka agama harus bersatu untuk terus mendengungkan Pemilu damai.
Baca juga: DPRD dan Pemda DIY Bahas Program Penyaluran Bansos Seumur Hidup
"Kata-kata positif ini (pemilu damai) harus terus didengungkan. Kita (pemuka agama) harus berani melawan arus kontras yang positif. Ajakan seprti itu harus terus digelorakan. Karena bagi kita, sebagai warga negara Indonesia penting," terangnya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ribut Raharjo menyebut dalam kontestasi politik, edukasi kepada masyarakat penting. Sehingga proses Pemilu harus dikawal bersama-sama.
Editor Senior Tribun Jogja, Setya Krisna Sumarga mengajak komunitas, forum lintas agama untuk bersama-sama mendampingi masyarakat dalam Pemilu 2024.
"Karena polarisasi menjadi kegelisahan banyak orang. Tribun Network, termasuk Tribun Jogja memiliki kanal Mata Lokal Memilih, ada podcast dan lainnya yang bisa kita manfaatkan bersama untuk mengedukasi masyarakat," imbuhnya. (maw)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pemuka-agama-di-DIY-melakukan-audiensi-ke-Tribun-Jogja.jpg)