Desa Wonoroto Magelang Dicanangkan Jadi Kampung KB dan Sejahtera

Pencanangan tersebut sesuai dengan amanat peraturan pemerintah nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting.

Tayang:
Dok.Humas Pemkab Magelang
Bupati Magelang, Zaenal Arifin, seusai meresmikan Desa Wonoroto menjadi kampung KB dan Sejahtera, beberapa waktu lalu. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Desa Wonoroto, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang dicanangkan sebagai kampung keluarga berencana (KB) dan Kampung Sejahtera.

Bupati Magelang, Zaenal Arifin mengatakan, pencanangan tersebut sesuai dengan amanat peraturan pemerintah nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting.

Menurutnya, dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, produktif dan pencapaian pembangunan berkelanjutan, maka perlu dilakukan upaya percepatan penurunan stunting.

"Kepada para orang tua agar selalu memberikan asupan gizi dan nutrisi yang baik kepada putra putrinya minimal dengan mengonsumsi satu butir telur setiap harinya. Yang mana Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai dengan perkembangan dan pertumbuhan fisik pada anak yang berada di bawah standar,"tuturnya, Kamis (26/01/2023).

Ia juga terus mendorong masyarakat agar tidak melakukan pernikahan pada usia dini, dimana secara mental dan fisik pada calon orangtua masih belum siap.

"Minimal pernikahan itu seharusnya dilakukan di atas umur 19 tahun. Apabila belum di atas 19 tahun maka secara mental dan fisik pasti juga belum siap, sehingga bisa menimbulkan berbagai permasalahan dikemudian hari seperti salah satunya masalah kesehatan, dan Stunting ini," ungkapnya.

Sementara Camat Windusari, Tito Lestianto dalam laporannya menyampaikan bahwa data angka Stunting di Kecamatan Windusari sejumlah 726 anak balita, untuk di Desa Wonoroto khususnya ada 53 balita yang mengalami Stunting.

Kemudian setelah dilakukan pendataan kembali pada bulan Januari 2023, jumlah angka Stunting di Windusari telah mengalami penurunan menjadi 505 anak balita.

"Untuk di Desa Wonoroto sendiri sudah turun menjadi 31 anak Stunting," jelas, Tito.

Dari data tersebut, maka Pemerintah Kecamatan Windusari telah melakukan langkah-langkah antara lain melaksanakan koordinasi dengan kader-kader yang ada untuk membuat komitmen bersama untuk menurunkan angka Stunting di wilayah Windusari.

Menurutnya ada beberapa faktor angka Stunting di wilayah Windusari ini cukup tinggi antara lain terjadinya pernikahan usia dini, pola asuh terhadap anak yang dirasa masih kurang tepat, dimana anak diberikan asupan gizi/makanan yang kurang sesuai.

Kemudian kurangnya perhatian kepada anak karena orang tua harus bekerja di sawah/ladang serta kurangnya pemahaman terkait pemberian ASI eksklusif dari para ibu.

Melihat kondisi tersebut maka Pemerintah Kecamatan Windusari meluncur Gerakan 'Gerbang Sulur Sewindu' yaitu gerbang sebagai pintu masuk menuntaskan angka Stunting.

Kemudian Sulur adalah pemberian satu telur terhadap anak-anak yang mengalami Stunting.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved