Berita Sleman Hari Ini

DP3AP2KB Sleman Tekan Angka Perkawinan Dini

Adanya ratusan pernikahan dini atau pernikahan anak berusia kurang dari 19 tahun selama 2022 di Kabupaten Sleman jadi sorotan DP3AP2KB Sleman.

trumpetandhorn.com via popbela.com
ILUSTRASI pernikahan 

 TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Adanya ratusan pernikahan dini atau pernikahan anak berusia kurang dari 19 tahun selama 2022 di Kabupaten Sleman , menjadi sorotan bagi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Sleman .

Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DP3AP2KB Kabupaten Sleman , Suprapti mengatakan, dalam menurunkan angka pernikahan dini , Pemkab Sleman menyinergikan kebijakan, program, dan kegiatan melalui perangkat daerah teknis, meliputi Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, DP3AP2KB, Kementrian Agama, dan Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Sleman .

"Langkah yang telah dilakukan oleh DP3AP2KB, yaitu memperkuat kelembagaan melalui forum anak, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak agar dapat berperan aktif dalam upaya pencegahan perkawinan pada usia anak," urainya kepada Tribunjogja.com , Rabu (25/1/2023).

Baca juga: Ada 244 Pasangan Mengajukan Permohonan Dispensasi Nikah di Sleman Selama 2022

Pihaknya pun terus memberikan pembinaan ketahanan keluarga untuk mencegah perkawinan pada usia anak, memberikan pembinaan tentang Generasi Berencana (Genre), memberikan pelatihan pendidikan pra-nikah dan memperkuat advokasi, komunikasi, informasi, dan edukasi melalui Kampung KB.

Tidak sampai di situ saja, penguatan promosi, pemantauan dan evaluasi kabupaten layak anak, kecamatan layak anak, dan desa layak anak, pembinaan tentang kesetaraan dan keadilan gender dalam keluarga dan masyarakat serta pembentukan satgas Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) terus digencarkan olehnya.
 
"Pemkab Sleman, dalam mencegah pernikahan pada anak memiliki slogan Duwe Ijazah Sarjana Dhisik Lagi Ijabsah, harapannya para remaja di Kabupaten Sleman memprioritaskan pendidikan terlebih dahulu baru merencanakan pernikahan," terangnya.

Ia pun mengatakan, pencegahan perkawinan pada usia anak, dapat dilihat melalui Peraturan Bupati Nomor 31 Tahun 2019.

Baca juga: Tekan Angka Pernikahan Dini, Pemerintah Akan Perketat Dispensasi Perkawinan

Kenali Dampak Perkawinan Usia Anak

Suprapti menjelaskan, perkawinan usia anak sendiri dapat memberikan risiko terharap kasus kehamilan.

"Bagi anak perempuan atau anak perempuan usia 10-14 tahun memiliki risiko lima kali lebih besar untuk meninggal dalam kasus kehamilan dan persalinan daripada perempuan usia 20-24 tahun," jelas dia.

Bahkan, secara global, kematian yang disebabkan oleh kehamilan merupakan penyebab utama kematian anak perempuan usia 15-19 tahun.

"Tidak sampai disitu saja, bagi anak yang dilahirkan atau bayi yang dilahirkan oleh anak perempuan yang menikah pada usia anak memiliki resiko kematian lebih tinggi, dan kemungkinannya dua kali lebih besar untuk meninggal sebelum usia 1 tahun dibandingkan dengan anak-anak yang dilahirkan oleh seorang ibu yang telah berusia dua puluh tahunan," terang Suprapti. 

Menurutnya, bayi yang dilahirkan oleh pengantin anak juga memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk lahir premature, lahir dengan berat badan lahir rendah dan kekurangan gizi.

Lebih lanjut, dampak dari perkawinan usia anak bagi masyarakat dapat menambah siklus kemiskinan yang berkelanjutan.

"Begitu pula dengan peningkatan buta huruf, kesehatan buruk kepada generasi yang akan datang dan merampas produktivitas masyarakat yang lebih luas baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang," pungkasnya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved