Berita Pendidikan Hari Ini

Pakar UGM Ingatkan Bahaya Hoax dalam Demokrasi, Bisa Bakar Aktor yang Ikut Pemilu 2024

Kabar hoax yang banyak berseliweran di media sosial berpotensi menjadi ancaman nyata pada hajat pemilihan umum ( Pemilu ) 2024.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Tribun Jogja/ Suluh Pamungkas
Ilustrasi Pemilu 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM - Kabar hoax yang banyak berseliweran di media sosial berpotensi menjadi ancaman nyata pada hajat pemilihan umum ( Pemilu ) 2024.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Gadjah Mada ( UGM ), Nyarwi Ahmad, mengatakan hoax yang mudah tersebar bisa merugikan proses demokrasi di Indonesia.

Hoax itu juga bisa membakar aktor yang ikut pemilu sendiri.

"Hoax ini seperti api, Pemilu 2019 lalu drama hoax luar biasa sampai muncul ketidakpercayaan ke penyelenggara pemilu yang itu sangat berbahaya," kata Nyarwi, Jumat (13/1/2023).

Baca juga: Anggota DPRD DIY Tolak Gagasan Sistem Pemilu Proporsional Tertutup

Dia mengungkapkan, para elit politik juga memiliki peran penting untuk tidak mudah menyebarkan informasi invalid.

Apalagi, informasi hoax yang bertujuan merusak karakter kandidat lain dalam proses kampanye.

“Dari sini, kita harapkan, penyelenggara pemilu itu bisa jadi ujung tombak mengawasi, meminimalisasi dampak dari munculnya hoax politik yang memang digerakkan oleh kelompok elite,” beber dia.

Dilanjutkannya, saat ini, sudah banyak cara untuk mencegah hoax tersebar begitu jauh. Selain literasi digital, banyak media kini menerapkan metode fact-checking.

Dimana jika ada berita viral yang tidak memiliki dasar sumber tepat, maka akan ada pemberitahuan bahwa berita itu hoax.

Baca juga: Anggota DPRD DIY Tolak Gagasan Sistem Pemilu Proporsional Tertutup

Juga, di media sosial, ada opsi agar pengguna mau membaca beritanya terlebih dahulu sebelum berkomentar.

Ini bisa meminimalisasi penyebaran hoax secara cepat.
 
“Ibarat bermain dengan api, maka itu bisa terbakar. Ketika hoax politik ini tidak bisa dikelola, itu bisa merusak kredibilitas negara, juga merugikan mereka yang ikut kontestasi pemilu,” tuturnya.

Nyarwi melanjutkan, masyarakat juga menjadi pihak yang rugi karena tidak mendapatkan informasi yang tidak membuat cerdas.

“Masyarakat lebih rugi, dapat info palsu, tidak membuat cerdas. Itu tidak baik bagi demokrasi kita. Padahal, elite yang kita inginkan ya yang bagus, kredibel dan kompeten kan,” tukas dia. ( Tribunjogja.com )

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved