Politik Global

Lula da Silva Batalkan Swastanisasi 8 BUMN Brasil, Selamatkan Hutan Amazon

Presiden Brasil Luis Inacio Lula da Silva membatalkan privatisasi 8 BUMN Brasil. Ia juga menunjuk aktivis Amazon sebagai Menteri Lingkungan.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Dokumentasi Tribun Jogja
Luis Ignacio Lula da Silva, mantan Presiden Brazil kembali merebut kemenangan bagi kelompok sayap kiri di Pilpres 2022. Ia mengalahkan tokoh sayap kanan/konservatif Jair Bolsonaro. 

TRIBUNJOGJA.COM, BRASILIA – Presiden Brasil Luis Inacio Lula da Silva membatalkan keputusan pendahulunya, Jair Bolsonaro, yang memprivatisasi 8 perusahaan sektor publik, termasuk satu perusahaan minyak dan gas.

Keputusan itu diambil pada hari kedua, Lula da Silva menjabat sebagai Presiden Brasil untuk ketiga kalinya. Kabar itu diwartakan outlet media Brasil G1 dikutip situs Al Mayadeen, Selasa (3/1/2023).

Petrobras yang beroperasi di sektor minyak dan gas, termasuk yang diprivatisasi oleh Bolsonaro. Begitu juga perusahaan pos Correios.

Luiz Inacio Lula da Silva disumpah pada Minggu (1/1/2023) sebagai Presiden Brasil untuk memulai masa jabatan empat tahun untuk ketiga kalinya dalam hidupnya.

Lula da Silva memilik tugas berat menarik Brasil keluar dari era kehancuran dan barbarisme Jair Bolsonaro.

Baca juga: Lula Inacio da Silva Rebut Kembali Kursi Presiden Brazil, Kalahkan Jair Bolsonaro

Baca juga: Analisis Pakar : Kemenangan Lula da Silva di Brazil Pukulan bagi Ambisi Amerika

Baca juga: Lula da Silva Dilantik Jadi Presiden Brasil, Siap Kerjasama dengan Rusia

Dia berjanji untuk memimpin Brasil ke babak baru perlindungan lingkungan, kemajuan sosial, dan pemerintahan demokratis yang rasional.

Tanpa menyebut nama pendahulunya dari sayap kanan dalam pidato 30 menitnya, Lula mengecam kerusakan yang dilakukan pemerintahan empat tahun Bolsonaro.

Hampir 700.000 orang Brasil meninggal karena wabah Covid yang salah penanganan, jutaan jatuh ke dalam kemiskinan, dan deforestasi Amazon yang melonjak.

Lula sebelumnya memimpin Brasil untuk masa jabatan pertama dari 2003 hingga 2006, dan masa jabatan kedua dari 2006 hingga 2010.

Dalam pidato pengukuhannya di depan Kongres, Lula bersumpah untuk mempertahankan dan mematuhi konstitusi saat dia kembali ke kursi kepresidenan.

Presiden sosialis ini bagaimanapun, akan menghadapi Kongres Brasil yang didominasi oleh sekutu Jair Bolsonaro.

Setelah dilantik, Lula da Silva langsung menyusun kabinet, dan ia memilih Marina Silva, aktivis Amazon sebagai menteri lingkungan negara berikutnya.

Pengumuman Lula jauh dari mengejutkan, karena Presiden sayap kiri sejak kampanyenya telah menekankan dia akan memprioritaskan paru-paru bumi.

Hutan hujan Amazon mengalami kerusakan hebat di masa pendahulunya yang konservatif, Jair Bolsonaro.

Pilihan ini juga menandakan pemerintahan Lula akan memprioritaskan penumpasan deforestasi ilegal di hutan, bahkan jika itu berarti bertentangan dengan kepentingan agribisnis yang kuat.

Calon menteri itu mengatakan kepada jaringan Brasil Globo TV tak lama setelah pengumuman presiden terpilih, kementerian yang akan dipimpinnya akan berubah menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim.

 

Selanjutnya, Lula menunjuk Sonia Guajajara, seorang wanita pribumi, sebagai menteri pertama masyarakat pribumi Brasil, dan Carlos Fávaro, seorang produsen kedelai, sebagai menteri pertanian.

Pendidikan menteri lingkungan yang akan datang adalah di hutan yang akan dia pertahankan, lahir di Amazon dan bekerja sebagai penyadap karet selama masa remajanya.

Dia telah menjabat sebagai menteri lingkungan selama sebagian besar masa jabatan Lula sebelumnya sebagai Presiden dari 2003 hingga 2010.

Ia mengawasi penciptaan lusinan kawasan konservasi dan strategi canggih melawan deforestasi dengan operasi besar melawan penjahat lingkungan dan pengawasan satelit baru.

Kebijakan Silva ini melahirkan cukup banyak kebencian dari banyak pemain kunci agribisnis dan anggota parlemen terkait.

Ini akan sangat besar bagi lingkungan, terutama setelah Bolsonaro mendorong pembangunan di Amazon.

Menteri lingkungan Bolsonaro mengundurkan diri setelah polisi nasional mulai menyelidiki apakah dia membantu ekspor kayu yang ditebang secara ilegal.

Dia membekukan pembentukan kawasan lindung, melemahkan badan lingkungan, dan menempatkan pengelolaan hutan di bawah kendali kementerian pertanian.

Upaya itu sekaligus memperjuangkan agribisnis, menentang pembentukan kawasan lindung seperti wilayah adat dan mendorong legalisasi perampasan tanah.

Di bawah Bolsonaro, deforestasi di Amazon Brasil mencapai level tertinggi dalam 15 tahun pada tahun yang berakhir pada Juli 2021.(Tribunjogja.com/Almayadeen/xna)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved