Berita Sleman Hari Ini

BPBD Sleman Taksir Nilai Kerusakan Capai Rp 356 Juta Selama 9 Hari Dilanda Bencana

Kejadian bencana di Bumi Sembada dalam kurun waktu, 1 - 9 November 2022 menimbulkan dampak kerusakan cukup signifikan. Data Badan Penanggulangan

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
Istimewa
BPBD Sleman dan sejumlah relawan membersihkan material jembatan sungai Tepus di Purwomartani yang ambruk setelah diguyur hujan deras pada Senin (8/11/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kejadian bencana di Bumi Sembada dalam kurun waktu, 1 - 9 November 2022 menimbulkan dampak kerusakan cukup signifikan.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman menyebut, dalam sembilan hari tersebut, ada 12 kejadian bencana di 17 titik, meliputi angin kencang, talut longsor dan banjir. Estimasi kerugian mencapai ratusan juta rupiah. 

"Total taksiran kerusakan (kejadian bencana tanggal 1-9 November) Rp 356.000.000," terang Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, Kamis (10/11/2022). 

Baca juga: Berbagai Elemen Masyarakat Pakai Kostum Ala Pejuang Saat Peringatan Hari Pahlawan di Kota Magelang

Rincian taksiran kerusakan tersebut meliputi dampak rusak ringan pada 4 unit rumah dengan nilai Rp 3,5 juta.

Lalu kerusakan 6 tempat usaha Rp 9,5 juta.

Selanjutnya, talut longsor dengan volume 520 meter persegi senilai Rp 143 juta dan satu jembatan ambruk dengan estimasi kerusakan Rp 200 juta. 

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengimbau warga agar lebih hati-hati dan waspada.

Sebab, Sleman merupakan wilayah potensi rawan bencana.

Ada 7 bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Sleman. Antara lain, kebakaran, longsor, angin kencang, gempa, banjir, lahar dingin hingga letusan gunung Merapi. 

Baca juga: LAGI Oknum Polisi di Purworejo Diduga Selingkuh dengan Bidan Puskesmas, Ini Curhatan Suaminya

"Sleman itu rawan bencana, saya mengimbau masyarakat harus waspada. Apalagi nanti bulan Desember - Januari diperkirakan hujan deras dan angin kencang, sehingga harus mengantisipasi semuanya," kata Kustini. 

Puncak musim hujan diperkirakan pada bulan Desember- Januari.

Warga diminta lebih peduli terhadap mitigasi bencana dilingkungan masing-masing.

Jika melihat ada pohon rindang dan dinilai membahayakan, segera dipangkas.

Talut mulai diperhatikan.

Genteng juga mulai di cek dan jika ada kerusakan, segera diperbaiki agar lebih kuat.

Selanjutnya, apabila ada bencana warga diminta gotong-royong agar kejadian segera tertangani. (rif)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved