Sekjen PBB Antonio Guterres : Dunia di Jalur Menuju Neraka
Sekjen PBB Antonio Gutteres memperingatkan dampak perubahan iklim dunia yang dianggapnya membawa masyarakat dunia ke jalur menuju neraka.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
NEWS UPDATE
- Konferensi Perubahan Iklim Global digelar di Mesir, dan di forum ini Sekjen PBB Antonio Gutteres mengajak dunia Bersatu
- Militer AS menempatkan pengebom jarak jauh B-52 Stratofortres pembawa bom nuklir di pangkalan Australia
- Korsel-AS menggelar latihan militer skala besar, memicu Korea Utara menguji tembak rudal jelajah jarak jauhnya
TRIBUNJOGJA.COM, KAIRO – Sekeretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Antonio Gutteres memperingatkan, dunia kini sedang berada di jalur menuju neraka.
Ia menggunakan perumpamaan itu untuk menggambarkan bencana iklim dunia akibat pengrusakan alam oleh industrialisasi tanpa kendali.
Antonio Guterres memperingatkan hal itu saat berbicara pada KTT COP27 di Mesir, Senin (7/11/2022).
“Umat manusia memiliki pilihan: bekerja sama atau binasa,” kata Guterres kepada peserta konferensi.
KTT ke-27 Perubahan Iklim Global
Baca juga: Sekjen PBB Antonio Gutteres Desak Ciptakan Zona Demiliterisasi di Zaporozhye Ukraina
Baca juga: Konflik China vs Taiwan Memanas, AS Kirim Sinyal Peringatan, Siapkan 6 Pesawat Pembom B-52 di Darwin
di Mesir membahas bagaimana memerangi perubahan di tengah konflik militer yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina.
Juga meningkatnya inflasi global dan kekurangan energi akibat peperangan tersebut.
Guterres bersikeras negara terkaya dan termiskin di dunia harus membentuk pakta untuk mempercepat transisi dari bahan bakar fosil.
Ia menunjuk China dan AS sebagai dua negara yang memiliki tanggung jawab khusus untuk bergabung dalam upaya mewujudkan pakta ini.
“Emisi gas rumah kaca terus meningkat. Suhu global terus meningkat. Planet kita dengan cepat mendekati titik kritis yang akan membuat kekacauan iklim tidak dapat diubah," kata Guterres.
Baca juga: Xi Jinping Tegaskan Tak Ragu-ragu Kerahkan Militer untuk Paksa Taiwan Kembali ke China
Ia menambahkan, "kita berada di jalan raya menuju neraka iklim dengan kaki kita menginjak pedal gas."
Peringatan Sekjen PBB itu didukung mantan Wapres AS Albert Gore, yang juga menekankan perlunya mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil.
"Kita harus melihat apa yang disebut percepatan untuk gas sebagaimana adanya: Sebuah jalan cepat menuruni jembatan entah ke mana, meninggalkan negara-negara di dunia menghadapi kekacauan iklim dan miliaran aset yang terdampar, terutama di sini di Afrika," katanya.
Guterres juga menunjukkan dunia harus mencapai emisi nol bersih pada 2050 jika penandatangan perjanjian Iklim Paris 2015 ingin mencapai tujuan jangka panjang mereka untuk menjaga suhu global agar tidak naik lebih dari 1,5 derajat di atas tingkat pra-industri.
Pekan lalu, aktivis iklim global Greta Thunberg menyarankan memerangi perubahan iklim dengan menghilangkan kapitalisme, yang katanya didefinisikan kolonialisme, imperialisme, penindasan dan genosida oleh apa yang disebut global utara.
Ancaman Konflik Besar di Kawasan Asia
Perkembangan menarik lain terjadi di kawasan Asia, yaitu potensi konflik besar atara AS dan sekutunya melawan China dan Rusia.
Laksamana Charles Richard, Komandan Komando Strategis AS mengemukakan, sejak 2018, AS telah melihat fokus strategis utamanya apa yang disebut “persaingan kekuatan besar” dengan Rusia dan China.
Ia mengklaim kedua negara itu (China dan Rusia ) mempelopori upaya untuk membalikkan tatanan global yang dijalankan AS yang dibangun sejak akhir Perang Dingin.
Charles Richard memperingatkan AS akan segera menghadapi konflik berlarut-larut dengan China tidak seperti apa pun yang dihadapi sebelumnya.
Stratcom bertanggung jawab untuk menangani senjata nuklir negara, serta rangkaian kemampuan informasi defensif dan ofensif yang disebut C4ISR.
“Kita harus melakukan beberapa perubahan mendasar dan cepat dalam cara kita mendekati pertahanan bangsa ini,” kata Richard pada simposium Angkatan Laut pekan lalu.
Baca juga: China Uji Coba Rudal Hipersonik Terbaru, Kemampuannya Buat Intelijen AS Tercengang
Baca juga: China Sukses Luncurkan Rudal Hipersonik yang Mampu Lepaskan Misil di Tengah Udara, Begini Respon AS
“Krisis Ukraina yang kita alami sekarang, ini hanya pemanasan,” katanya. “Yang 'besar' akan datang. Tidak akan lama lagi kita akan diuji dengan cara yang sudah lama tidak kita uji,” imbuhnya.
Richard memperingatkan kapal itu perlahan-lahan tenggelam karena China mengerahkan kemampuan baru lebih cepat daripada AS, yang akan segera kalah jumlah dan kalah di medan perang.
“(Saya) tidak akan peduli seberapa bagus (rencana operasi) kami atau seberapa baik komandan kami, atau seberapa bagus kuda kami - kami tidak akan memiliki cukup dari mereka. Itu masalah jangka pendek,” tegas Richard.
Richard juga mengkritik stagnasi AS, dengan mengatakan telah "kehilangan seni" dalam memberikan sistem baru dengan cepat.
“Angkatan Udara berangkat dari sebuah permintaan, hampir ditulis di atas serbet … ketika mereka mengetahui pada akhir 1950-an sistem pertahanan udara terintegrasi Soviet mencapai titik B-52 tidak akan berhasil masuk, dan kami membutuhkan sesuatu yang disebut 'rudal jelajah,'” kenang Richard.
AS sudah berada di belakang China dalam bidang rudal utama, dengan China menurunkan generasi rudal jelajah jarak jauh, sekumpulan varietas rudal balistik, dan beberapa jenis senjata hipersonik yang tidak ada tandingannya dan tidak ada jawabannya di AS.
Membuat debut mereka di masyarakat umum untuk pertama kalinya, rudal hipersonik DF-17 tampil di parade Hari Nasional China yang diadakan di Beijing pada 1 Oktober 2019.
Beijing juga telah mengembangkan radar yang mampu mendeteksi pesawat siluman dan mulai melengkapi kapal perang terbarunya dengan itu, menempatkan armada F-22 dan F-35 yang dibanggakan AS dalam bahaya.
Namun, Pentagon sangat khawatir tentang apa yang dikhawatirkannya adalah sistem pemboman orbital yang diuji China tahun lalu.
Militer AS menganggap langkah itu bagian militerisasi ruang angkasa China. AS membentuk Pasukan Luar Angkasa terpisah pada 2019.
Dokumen doktrinal dasarnya menjelaskan tujuannya adalah mempertahankan supremasi ruang angkasa AS, bukan mencegah militerisasi ruang angkasa.
Perbandingan antara operasi khusus Rusia di Ukraina dan dugaan invasi China ke Taiwan telah dilakukan para pemimpin AS sejak operasi itu diluncurkan Februari.
China telah memeprotesnya. AS mempersiapkan konflik dengan China setidaknya sejak akhir 2017, ketika pemerintahan Trump mulai memperkenalkan serangkaian dokumen strategis baru yang menguraikan perubahan kebijakan luar negeri AS.
Strategi Pertahanan Nasional terbaru, yang diterbitkan oleh Pentagon bulan lalu, terus merencanakan apa yang disebutnya “persaingan kekuatan besar” dengan Rusia dan China.
Rusia menurut mereka “ancaman akut”, dan China sebagai pesaing jangka panjang.
Di dalamnya, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin menyebut Beijing sebagai pesaing strategis paling berpengaruh Washington untuk beberapa dekade mendatang.(Tribunjogja.com/Sputniknews/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sekjen-pbb-antonio-guterres.jpg)