Hewan Buas Mangsa Ternak Warga di Jepara, Harimau Jawa atau Macan Tutul?

Hewan buas diduga harimau Jawa muncul di kawasan hutan pegunungan Muria Jepara Jawa Tengah

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Dok warga Tempur
Harimau jawa (Panthera tigris sondaica) diduga muncul memangsa empat ekor kambing di permukiman Dukuh Kemiren, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah di kawasan hutan Pegunungan Muria baru-baru ini. 

TRIBUNJOGJA.COM, JEPARA - Harimau Jawa atau panthera tigris sondaica sudah dinyatakan punah sejak puluhan tahun silam.

 

Namun beberapa waktu terakhir, di sejumlah tempat di Pulau Jawa, disebutkan adanya kemunculan hewan buas yang diduga merupakan Harimau Jawa.

 

Informasi terbaru, hewan buas tersebut dikabarkan muncul di wilayah Jepara, Jawa Tengah.

 

Hewan buas yang belum bisa dipastikan jenisnya tersebut memangsa ternak milik warga di Dukuh Kemiren, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

 

Hewan pemangsa itu memakan empat kambing milik warga di kawasan hutan Pegunungan Muria.

 

Meski belum dapat dipastikan sebagai harimau Jawa, warga yakin kalau binatang yang memangsa ternaknya adalah panthera tigris sondaica.

 

Dikutip dari Kompas.com, Ketua Perkumpulan Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH) Pegunungan Muria, Pranyoto Shofil Fu'ad mengatakan warga sudah cukup lama mengetahui keberadaan hewan buas tersebut di kawasan hutan di Pegunungan Muria

 

"Kalau dugaan harimau Jawa itu, memang sudah lama ada kesaksian warga di kawasan hutan Pegunungan Muria," kata dia, Jumat.

 

Dari keterangan warga yang melihat secara langsung, ciri-ciri yang disampaikan memang mengarah ke Harimau Jawa.

 

Namun demikian, hal itu belum dapat dipastikan kebenaranya lantaran belum ada bukti dari kamera trap.

 

Pegunungan Muria sendiri menurut Pranyoto merupakan habitat dari macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).

 

"Sejauh ini cuma macan tutul," jelas dia.

 

Hewan Ternak Dimangsa Macan Tutul

 

Dari data yang dimiliki, kata Pranyoto, ada laporan tiga kejadian hewan ternak yang dimangsa macan tutul.

 

Di antaranya di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara dan di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus.

 

"Kenapa macan tutul turun gunung ? Biasanya faktor punya anak, melindungi anaknya dari pemangsa. Jadi karakternya menjauh kawasan teritori, mendekati permukiman mencari makan untuk ngloloh anaknya," terang dia.

 

Dia mengatakan, saat ini kawasan hutan di Pegunungan Muria wilayah Kabupaten Kudus, Jepara dan Pati sudah terpasang sebanyak 40 kamera trap.

 

Hal itu dilakukan atas gagasan berbagai pihak, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng.

 

Dari tangkapan kamera trap yang terpasang di area studi seluas 53,32 kilometer persegi itu, telah tercatat belasan ekor macan tutul yang muncul.

 

Jumlah tersebut telah dirilis Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada tahun 2019.

 

Tempat pembantaian harimau

 

Menurut Pranyoto, di lokasi ternak Desa Tempur yang diduga diincar harimau itu, dahulunya diakui warga sebagai tempat pembantaian harimau.

 

Sehingga lokasi tersebut dimungkinkan mengawali terjadinya konflik harimau.

 

Sebab, karakter hewan buas itu disebut pendendam di antara satwa liar lainnya.

 

Namun, terlepas dari reputasinya yang menakutkan, kebanyakan harimau menghindari manusia.

 

Karnivora besar itu lebih memilih makan daging hewan, dibandingkan manusia.

 

"Cerita masyarakat turun temurun, dulunya tempat situ untuk mbantai macan. Saat ini bagi warga desa tempur sudah terbiasa melihat. Warga memilih tertutup karena juga melindungi," ujar dia.

 

 

Mangsa 4 kambing

 

Perangkat Desa Tempur, Junaidi menyebut, pada Oktober ini, tercatat sudah ada empat ekor kambing ternak milik warga Dukuh Kemiren dimangsa hewan yang diyakini harimau Jawa.

 

Harimau Jawa itu juga sempat melukai seekor kambing saat tepergok Sukijan (58) pemiliknya pada Selasa (25/10/2022) malam.

 

"Tiga kambing mati tak utuh. Satu ekor kambing selamat dan langsung disembelih pemiliknya," kata dia.

 

Menurut dia, saat Pemdes Tempur mengkonfirmasi kejadian itu, warga yang melihat mengklaim ciri-ciri fisik predator kambing itu mengarah ke harimau Jawa bukan macan tutul Jawa.

 

"Kami tunjukkan dua gambar harimau Jawa dan macan tutul, warga bersikeras harimau Jawa. Bahkan warga ada yang melihat ngloloh atau ngasih makan anaknya. Menghebohkan karena biasanya penampakan macan tutul. Bisa saja terjadi sebab kamera trap tidak merekam seluruh kawasan hutan gunung Muria," ungkap dia.

 

 

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved