Berita Kabupaten Magelang Hari Ini

Berkecimpung Puluhan Tahun, Peneliti Ini Ingin Kenalkan Candi Borobudur Lewat Persepsi Penciptanya

Membutuhkan waktu puluhan tahun lamanya, bagi Pakar Peneliti Candi Borobudur, DR Hudaya Kandahjaya menemukan informasi-informasi pembaharuan (update)

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/n
Peneliti Candi Borobudur, DR Hudaya Kandahjaya. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Membutuhkan waktu puluhan tahun lamanya, bagi Pakar Peneliti Candi Borobudur, DR Hudaya Kandahjaya menemukan informasi-informasi pembaharuan (update) untuk meluruskan kesimpangsiuran penjelasan yang ada di Candi Borobudur.

Awalnya beliau menyadari adanya kesimpangsiuran penjelasan tentang Candi Borobudur sekitar tahun 1988.

Sehingga mendorongnya untuk meneliti lebih dalam dan menuntunnya untuk menempuh pelajaran studi agama Buddha di Institute of Buddhist Studies di Berkeley, California, Amerika Serikat.

Baca juga: Ditemukan Kasus Gagal Ginjal Akut pada Anak, DPRD DIY Minta Pemda Perkuat Koordinasi

"Saya mesti ke luar (luar negeri) karena pada masa riset awal kehabisan bahan. Lalu, saya berkonsultasi dengan Prof.Dr.Soekmono, dia bilang sebaiknya pergi ke luar. Jadi, saya berusaha untuk mencari dan sulit mencari program khusus untuk belajar tentang Borobudur atau agama Buddha Indonesia. Tetapi, sedikit demi sedikit mendapatkan sumber-sumber yang memungkinkan. Saat itu saya belajar di Berkeley, Amerika Serikat," ujar peneliti kelahiran Bogor ini.

Ia mengatakan, keinginannya meneliti Candi Borobudur lebih dalam untuk memahami pengertian Candi Borobudur seperti yang dimaksudkan oleh penciptanya.

Jadi dengan adanya penelitian ini, untuk memahami Candi Borobudur menurut persepsi penciptanya bukan menurut persepsi pribadi atau perorangan.

"Hal seperti ini kalau dibiarkan tentu tidak membantu kita memahami pengertian Candi Borobudur, seperti yang dimaksudnya penciptanya. Ini satu hal yang penting sekali dipahami karena seringkali kita sebagai orang di zaman modern memandang apa yang dikerjakan oleh orang abad ke-8 atau ke -9 itu terbelakang. Belakangan ini, saya sadari bahwa persepsi itu salah," terangnya.

Keseriusannya dalam meneliti Candi Borobudur pun dituangkan dalam beberapa buku di antaranya, The Master Key For Reading Borobudur Symbolism yang terbit secara bilingual tahun 1995.

Serta buku mengenai Candi Borobudur dan Agama Buddha Indonesia seperti kitab suci Sang Hyang Kamahayanikan yang terbit tahun 2020.

Lalu, buku berjudul Borobudur Biara Himpunan Kebajikan Sugata yang terbit 2021, dan buku berjudul Tiada Darma Mendua kajian dan terjemahan sang Hyang Kamahayanikan tahun 2022.

"Sebetulnya saya khawatir, sepertinya saya lancang tiba-tiba berpikir tentang semua ini. Tetapi semua ini atas alasan keprihatinan saya tentang pengertian Candi Borobudur yang beredar di masyarakat luas. Jadi, kalau saya baca entah itu di Wikipedia , surat kabar atau berbagai media sosial termasuk video di You tube, saya dapati berbagai keterangan yang saya pandang sepertinya punya kehidupan sendiri," ungkapnya.

Bantahan dari Hasil Riset

Dari hasil risetnya yang berkelanjutan, terdapat beberapa informasi yang kadaluarsa dan terbantahkan namun masih populer di masyarakat.

Di antaranya, seperti istilah Tridhatu pada Candi Borobudur yakni Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved