Ketika Suluk Cinta Ilahi dan Rasulullah Berkumandang di Publik Muhammadiyah

Ada nuansa beda saat gelaran Muhammadiyah Jogja Expo #2 di Kampus 4 Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Penulis: Agus Wahyu | Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA.COM/AGUS WAHYU TRIWIBOWO
Gus Salam bersama Majelis Dzikir, Doa, dan Shalawat Salam Warahmah menampilkan Suluk Senandung Cinta Ilahi dan Rasulullah pada gelaran Muhammadiyah Jogja Expo #2 2022 di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Sabtu (8/10/2022) malam. 

Suasana panggung utama Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) #2 pada malam ketiga, Sabtu (8/10/2022), sejenak jauh dari ingar bingar. Lantunan doa dan shalawat menggema di arena gelaran ekspo akbar di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

SULUK Senandung Cinta Ilahi dan Rasulullah menjadi warna suguhan hiburan berbeda pada MJE yang berlangsung empat hari. Mengenakan busana tradisional Jawa (penampil putra) berpadu gamis muslimah putih biru (penampil perempuan), Majelis Dzikir, Doa, dan Shalawat ‘Salam Warahmah’ mengumandangkan lantunan doa istighfar, tahmid, tahlil, dan tasbih, serta shalawat dalam balutan Suluk.

Baca juga: Charris Zubair: Buku Ini Sebuah Kajian untuk Peradaban Baru Pada Masa Mendatang

Kursi penonton berangsur dipenuhi puluhan pengunjung dan peserta MJE menyaksikan Suluk Senandung Cinta Ilahi dan Rasulullah. Bahkan, sejumlah peserta ekspo lainnya, menyaksikan dari luar tenda pameran masing-masing yang menghadap panggung berukuran 8 x 12 meter.

“Suluk adalah sebuah ungkapan kerinduan sekaligus doa bagi seorang Salik, yang seseorang yang fokus mendekatkan diri kepada Tuhan secara lahir dan batin. Kerinduan Salik kepada Tuhan dan KekasihNya, Rasulullah,” ujar Gus Salam YS, pengasuh Majelis Salam Warahmah.

Gus Salam mengatakan, suluk ini menjadi media penyambung hati bagi seorang salik dalam menyampaikan rasa kerinduannya kepada Sang Maha Pencipta dan utusanNya. Sekaligus menjadi media syiar kepada umat manusia, semua kalangan.

“Inti orang beragama itu kan kedamaian dalam diri, ketenangan batin. Nah, itulah salik, yang memang menjadi misi kami. Dengan bersuluk ini, kami tebarkan kebajikan, ajaran kasih sayang sebagai pondasi utama kita beragama, sesuai yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW,” papar Motivator Islami yang tinggal di Jalan Palagan Sleman ini.

Penulis buku Salik & Kebajikan ini menyatakan, saat ini sudah saatnya, umat kembali kepada ajaran kasih sayang secara lahir dan batin. Sehingga kedamaian dalam diri, keluarga dan negara akan terwujud.

“Kondisi saat ini, kita lihat sangat memprihatinkan. Tak hanya di masyarakat, di media sosial (medsos) orang saling mencela, saling mencacimaki, berkalimat negatif, saling menyalahkan yang lain. Agama hakikatnya adalah kasih sayang, ini terus kami tebarkan. Bahwa, menjadi salik yang diiringi laku kebajikan adalah kebutuhan umat saat ini,” tandas Gus Salam, yang juga seorang praktisi spiritual dan religi.

Ketua Panitia Muhammadiyah Jogja Expo #2, Taufik Ridwan, menyatakan hal senada. Taufik menyebut, suluk adalah bagaimana membuat kidung yang di dalamnya sebuah pesan moral dan ajaran kebaikan.

“Setelah saya mendengarkan suluk ini, sesungguhnya kan ini sebuah kidung. Jadi, tidak ada masalah kepada kelompok manapun, termasuk di Muhammadiyah sendiri. Karena, Muhammadiyah juga mencintai sebuah karya seni, Muhammdiyah juga menguri-uri soal seni, sehingga tidak ada yang disebut alergi tentang apapun, termasuk suluk ini,” ucap pria yang juga pengurus ICMI Korwil DIY.

Ia menambahkan, suluk merupakan sajian yang indah saat di dalamnya dimaknai dengan shalawat, zikir dan doa, terlebih dipadukan dengan irama-irama yang indah. Apalagi, suluk dibawakan dengan nuansa Jawa.

Taufik melihat suluk yang disampaikan Gus Salam sebuah pertunjukan karya seni Islam bagaimana orang bisa menikmati seni, sekaligus terhubung dengan Tuhan Yang Maha Esa.

“Nah, apa yang disampaikan oleh Gus Salam melalui suluk yang dipentaskan di acara MJE kemarin, menjadi sebuah pertunjukan yang ada nilai-nilai ajaran religi dan spiritual. Bagaimana selalu mendekatkan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mudah-mudahan ini menjadi bentuk kesenian Islam yang dicintai oleh masyarakat, tidak hanya orang Islam tapi juga masyarakat nonmuslim,” imbuhnya. (ayu)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved