Melestarikan Tradisi Budaya Melalui Pertunjukan Wayang Potehi di Klenteng Kota Magelang

Wayang yang sudah berumur 3000 tahun ini kembali dipertontonkan di Kelenteng Liong Hok Bio, di Kota Magelang, pada Selasa (04/10/2022).

Tribun Jogja/Nanda Sagita Ginting
Penampakan pertunjukan Wayang Potehi di Klenteng Liong Hok Bio, Kota Magelang, pada Selasa (04/10/2022) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Pertunjukan seni wayang bukanlah hal asing bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Namun, biasanya yang sering dipertontonkan yakni jenis Wayang Kulit, Wayang Golek, hingga Wayang Suket.

Ternyata, ada suatu  seni wayang yang berasal dari Provinsi Hokkian, Tiongkok dikenal dengan nama Wayang Potehi.

Wayang yang sudah berumur 3000 tahun ini kembali dipertontonkan di Kelenteng Liong Hok Bio, di Kota Magelang, pada Selasa (04/10/2022).

Dalang Wayang Potehi Sutarto (59) alias Pak Keke mengatakan Wayang Potehi memiliki arti sesuai bentuknya yang menyerupai kantong.

Wayang boneka ini dimainkan di sebuah replika panggung mini yang dibentuk mirip dengan bangunan kerajaan di negeri Tiongkok.

"Jika dilihat bentuknya seperti kantong baju orang zaman dahulu. Kemudian, untuk memainkan wayang boneka ini harus dengan memasukkan tangan pada bagian bawah yang bentuknya seperti kantong tadi. Kemudian, digerakkan sesuai dengan lakon yang dibawakan,"ucap laki-laki asli Jombang Jawa Timur saat ditemui di lokasi, pada Selasa (04/10/2022).

Pada pertujukan kali ini, dirinya membawakan cerita berjudul Tjoe Hoen Toan yang memiliki arti seorang putra raja yang meninggalkan kerajaan karena perseteruan.

Iringan cerita pun diikuti dengan tabuh gendang khas negeri tirai bambu yang membuat suasana semakin semarak.

"Ini merupakan cerita berlatar kerajaan di mana seorang raja yang memiliki dua orang istri, yakni permasuri dan satunya selir. Jadi, intinya kemelutnya di sini keluarga raja amburadul di mana kedua istri raja ini mengunggulkan anaknya yang kebetulan laki-laki, untuk menarik simpati raja mengambil tahta tertinggi. Nantinya, cerita ini akan dibawakan secara berseri karena kebetulan kami akan menggelar pertujukan direncanakan selama 9 hari," ungkap pria yang sudah 37 tahun berkecimpung di dunia Wayang Potehi.

Ia menambahkan, pementasan Wayang Potehi baru-baru ini dilaksanakan kembali sejak berhenti dihantam pandemi selama dua tahun.

Bahkan, kru-kru pendamping pementasan sudah banyak yang keluar tidak bekerja lagi.

"Iya, baru mulai ada lagi pementasan setelah dua tahun berhenti. Sekarang, hanya tinggal sisa tiga tim saja dari puluhan tim. Kebanyakan memilih keluar berganti profesi karena selama pandemi tidak ada aktivitas,"ucapnya.

Tak hanya sampai di situ, sulitnya mencari bibit muda yang mau melestarikan Wayang Potehi juga menjadi hambatan tersendiri.

Ia mengatakan, kini yang tersisa dan berkecimpung kebanyakan mereka yang sudah berusia sepuh.

"Mencari yang muda-muda untuk berminat dan niat mempelajari Wayang Potehi sangat jarang, padahal kami sangat terbuka. Bahkan, saya pernah mengajar di Kampus ISI Yogyakarta apa yang saya punya (ilmu) saya berikan. Saya siap membantu lah usia saya juga sudah tidak muda lagi,"urainya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved