Berita Jogja Hari Ini

Polres Sleman Resmi Jadi Polresta, JPW Ingatkan Penanganan Klitih dan Kerusuhan Suporter

Jogja Police Watch (JPW) memberi catatan kepada jajaran kepolisian resor (Polres) Sleman, yang kini naik tingkat menjadi kepolisian resor kota (Polres

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Jogja Police Watch (JPW) memberi catatan kepada jajaran kepolisian resor (Polres) Sleman, yang kini naik tingkat menjadi kepolisian resor kota (Polresta) Sleman.

Ketentuan tipologi Polres Sleman menjadi Polresta Sleman tertuang melalui Surat Keputusan Kemenpan RB tertanggal 4 Agustus 2022 kemudian ditindaklanjuti melalui Keputusan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tertanggal 30 Agustus 2022.

Dengan perubahan itu, Kabupaten Sleman memiliki instansi kepolisian dengan tipe C atau disebut Polresta.

Baca juga: Pencemaran Sungai di Kota Yogyakarta Kian Parah, Legislatif: Butuh Sinergi Lintas Daerah

Adanya kenaikan tipologi Polres Sleman menjadi Polresta, juga memengaruhi pangkat pimpinan tertinggi di instansi itu.

Jika sebelumnya Polres Sleman dipimpin oleh polisi berpangkat Ajun Komisaria Besar Polisi (AKBP) maka nantinya Kapolresta Sleman akan dipimpin oleh polisi berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombespol)

"Selain itu pula dengan perubahan tipologi menjadi tipe C, maka Polresta Sleman akan memiliki 2.000 personel polisi termasuk di jajaran Polsek. Yang sebelumnya berjumlah 1.600 personel. Ada tambahan personel sekitar 400 orang," kata Kadiv Humas JPW Baharuddin Kamba, Rabu (28/9/2022).

Kamba berharap, kenaikan tipe kepolisian tingkat daerah tersebut, harus diimbangi dengan peningkatan pelayanan masyarakat.

Beberapa catatan yang ia sampaikan, pertama, perkara yang masih harus diperhatikan adalah kasus kejahatan jalanan atau klitih. 

Meskipun menurutnya, akhir-akhir ini pemberitaan atas kasus klitih cenderung menurun namun bukan berarti dapat membuat jajaran Polresta Sleman lengah.

"Upaya pencegahan secara dini dengan melakukan patroli secara rutin harus terus ditingkatkan di wilayah-wilayah Kabupaten Sleman yang dianggap rawan terjadinya klitih," ungkapnya.

Hal kedua, kasus meninggalnya dua suporter bola PSS Sleman yang terjadi beberapa waktu lalu seharusnya menjadi catatan penting bagi jajaran Polresta Sleman agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. 

Kemudian, catatan ketiga, Kamba menyoroti kasus dugaan penganiayaan yang terjadi di Holywings Jogja dan di Mapolres Sleman untuk segera dilimpahkan ke pengadilan. 

"Termasuk sanksi etik terhadap dua oknum polisi yang diduga terlibat dalam kasus penganiayaan ini juga harus segera dituntaskan secara transparan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Apabila kedua oknum polisi tersebut terbukti pelanggaran etik selain ranah pidana umum, maka sanksi tegas harus dijalankan karena karena bisa mencoreng citra kepolisian," tegas Kamba.

Baca juga: Bawaslu Kulon Progo Sebut Pendaftar Panwascam Lebih Tinggi Dibandingkan Pemilu 2019

Lebih lanjut, Kamba menerangkan, dengan naiknya Polres Sleman menjadi tipe C (Polresta), diharapkan kerja keras serta profesionalitas di jajaran Polresta Sleman semakin ditingkatkan tentunya dilengkapi dengan sarana prasarana yang memadai serta didukung SDM yang senantiasa menjunjung tinggi intergritas dan profesional dalam setiap menangani perkara. 

"Terakhir, pencegahan dini terjadinya perkara khususnya perkara yang menjadi perhatian publik sangat perlu dilakukan. Jangan sampai perkara viral di media sosial, baru polisi mau bergerak," pungkasnya. (hda)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved