Perang Rusia Ukraina

Donald Trump Peringatkan Konflik Rusia-Ukraina Bisa Berakhir Perang Dunia III

Mantan Presiden AS Donald Trump memperingatkan konflik Rusia-Ukraina bisa berakhir Perang Dunia III.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
SAUL LOEB / AFP
Donald Trump. Mantan Presiden AS ini memperingatkan konflik bersenjata Rusia-Ukraina bisa berakhir Perang Dunia III. Ia mengatakan, jika dirinya masih di Gedung Putih, perseteruan Moskow-Kiev takkan pernah terjadi. 

UPDATE INFO

  • Referendum bergabung Federasi Rusia telah dimulai di wilayah Donbass, terutama di Kherson dan Zaporozhye
  • China menyerukan Rusia dan Ukraina kembali ke meja perundingan tanpa prasyarat atau membicarakan hasil
  • Mobilisasi tentara cadangan Rusia akan fokus ke mereka yang prajurit hingga perwira yang punya pengalaman tempur  

TRIBUNJOGJA.COM, NEW YORK – Mantan Presiden AS Donald Trump memperingatkan konflik Ukraina, yang dimulai setelah Rusia melancarkan serangan militernya pada akhir Februari 2022, bisa berakhir Perang Dunia III.

Konflik Rusia-Ukraina menurut Trump seharusnya tidak pernah terjadi. Trump mengklaim jika dia masih berada di Gedung Putih, permusuhan tidak akan pernah pecah antara Moskow dan Kiev.

“Seperti yang telah saya jelaskan selama beberapa waktu, ini bisa berakhir menjadi Perang Dunia III,” tambahnya di platform Truth Social miliknya, Kamis (22/9/2022).

Trump memberi komentar setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Moskow akan menggunakan segala cara yang diperlukan untuk mempertahankan integritas teritorialnya.

Putin mengumumkan mobilisasi militer parsial sekitar 300.000 tentara cadangan yang akan dipanggil untuk dinas aktif.

Pemimpin Rusia itu juga memperingatkan Moskow akan menggunakan segala cara untuk melindungi rakyatnya, termasuk penggunaan senjata nuklir jika diperlukan.

“Ini bukan gertakan,” tegas Putin, seraya mengatakan Rusia akan menggunakan semua cara yang tersedia untuk melindungi kemerdekaan dan keamanannya.

Kementerian Pertahanan Rusia terkait tentara yang dipanggil mobilisasi parsial difokkuskan mereka yang memiliki pengalaman tempur dan spesialisasi militer yang relevan.

Menurut Kemenhan Rusia, tidak ada perintah penyusunan khusus, tetapi mengatakan prioritas akan diberikan kepada cadangan yang sebelumnya telah menjalani pelatihan sebagai operator tank, anggota awak artileri, pengemudi, mekanik dan infanteri bermotor.

Ini juga menyebut pengalaman tempur salah satu faktor kunci dalam pilihan wajib militernya. Tentara cadangan berusia antara 35-55 tahun, dari prajurit hingga perwira.

Sementara orang-orang yang bekerja di industri pertahanan akan dibebaskan dari mobilisasi. Begitu juga mereka yang tidak memenuhi kriteria kesehatan, memiliki setidaknya empat anak, atau merawat kerabat yang cacat.

Setiap daerah akan diminta untuk menyusun sejumlah cadangan tergantung pada populasinya.  

Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu menyatakan mobilisasi akan melibatkan sekitar 300.000 tentara cadangan, atau lebih dari satu persen potensi mobilisasi penuh Rusia.

Putin sebelumnya mengatakan Kementerian Pertahanan Rusia telah merekomendasikan penarikan tentara cadangan ke dalam dinas aktif di tengah konflik berkepanjangan di Ukraina dan Donbass.

Shoigu menjelaskan pasukan tambahan diperlukan untuk mengendalikan jalur kontak sepanjang 1.000 kilometer perbatasan dengan Ukraina di daerah-daerah yang kini dikuasai Rusia.

Beberapa media barat mengklaim jumlah tentara cadangan yang dipanggil mungkin mencapai satu juta orang. Namun, Kremlin membantah laporan tersebut, menyebutnya hoaks.

Seruan Beijing

Perkembangan lain, China menyerukan agar Moskow dan Kiev melanjutkan dialog tanpa prasyarat atau dengan asumsi hasil.

Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri China Wang Yi selama sesi sidang Dewan Keamanan PBB terkait konfik Ukraina.

Sejalan dengan posisi netral China yang konsisten dan jelas dalam konflik Ukraina, Wang Yi menegaskan kedaulatan dan integritas teritorial setiap negara harus dihormati.

“Satu-satunya jalan keluar dari konflik adalah melalui dialog dan negosiasi,” kata Wang. “Prioritas utama bagi para pihak adalah untuk melanjutkan dialog tanpa prasyarat,” imbuhnya.

China siap untuk mendukung semua upaya yang dapat membantu menyelesaikan krisis.

Dia memuji peran positif Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang mengirim misi ke pembangkit nuklir Zaporozhye Ukraina bulan ini.

Wang Yi mengatakan tidak ada ruang untuk coba-coba dalam hal keselamatan fasilitas nuklir.

Di antara prioritas lainnya, Wang juga menyebutkan pelonggaran situasi kemanusiaan dan memastikan keamanan pasar pangan dan energi global.

Selama pertemuan dengan mitranya dari Rusia, Sergey Lavrov, pada Rabu (21/9/2022), Wang juga menyatakan harapan semua pihak dalam konflik tidak menghentikan upaya dialog.(Tribunjogja.com/RussiaToday/Sputniknews/xna)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved