Ini Upaya Balai Bahasa DIY untuk Lestarikan Bahasa Jawa

Salah satu tugas yang diemban Balai Bahasa DIY ialah menjaga kelangsungan hidup Bahasa Jawa

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Rapat kerja pengembangan, perlindungan dan pemeliharaan bahasa serta sastra daerah yang diselenggarakan Balai Bahasa DIY, Selasa (20/9/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar rapat kerja pengembangan, perlindungan dan pemeliharaan bahasa serta sastra daerah, guna menyinkronkan regulasi dan kebijakan program tahun 2023-2027, Selasa (20/9/2022) di Yogyakarta.

Kepala Balai Bahasa DIY, Dwi Pratiwi, memaparkan, salah satu tugas yang diemban Balai Bahasa DIY ialah menjaga kelangsungan hidup Bahasa Jawa, caranya dengan mewariskan kepada generasi muda secara benar, yaitu melalui program restorasi, refungsionalisasi, dan revitalisasi.

"Kita harus menggelorakan kembali penggunaan bahasa Jawa di berbagai ranah kehidupan sehari-hari, melalui pembiasaan penggunaan bahasa Jawa dengan menyenangkan di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat," kata Dwi Pratiwi.

"Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus menjadi ruang kreatif bagi pemuda dalam mempertahankan bahasa Jawa. Kerja sama dan kerja bersama entah, komunitas, dan masyarakat secara umum harus senantiasa ditingkatkan upaya mencapai cita-cita ini," tambah dia.

Salah satu upaya yang dilakukan Balai Bahasa Yogyakarta ialah menjadikan para penutur muda di DIY, menjadi penutur yang aktif lagi menjadikan bahasa daerah menjadi menyenangkan alias tidak dengan terpaksa.

"Semisal mengajak anak mempelajari bahasa Jawa menggunakan media permainan tradisional. Bisa juga dengan pendekatan teknologi, yakni mengenalkan bahasa Jawa lewat game," ujar Dwi.

"Tujuannya menjaga kelangsungan hidup bahasa dan sastra daerah dengan sukacita. Bisa juga mempelajari bahasa Jawa ini di sekolah lewat gamelan, wayang, maupun kethoprak," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, mengatakan bahwa bahasa Jawa mengandung sopan santun, nilai-nilai keadaban, sekaligus juga ilmu pengetahuan masa lalu.

"Sebab banyak karya sastra Jawa kuno, didalamnya mengandung nilai pengetahuan. Semisal Serat Centhini, yang memaparkan ilmu kehidupan Jawa mulai dari bagaimana hidup, berumah tangga, bermasyarakat, keadabannya itu dijelaskan secara jelas. Bukan hanya berisi kehidupan, namun juga akhirat karena didalamnya terdapat ajakan melihat asal usul manusia dan tujuan akhirnya mau kemana," terang Sutrisna Wibawa.

Lebih lanjut ia mengatakan, Dewan Pendidikan saat ini juga tengah merancang pendidikan khas Kejogjaan, yang antara lain bersumber dari bahasa dan sastra Jawa.

"Jadi karya-karya sastra Jawa yang berisi nilai-nilai keadaban itu kami ambil, di samping nilai-nilai yang masih hidup (living culture) di Keraton, Pakualaman, Tamansiswa, Muhammadiyah, Ponpes," paparnya.

"Pendidikan Kejogjaan ini tujuannya untuk menghasilkan Jalma Kang Utomo, menghasilkan anak-anak yang pintar namun juga beradab. Pendidikan Kejogjaan ini nantinya akan mendampingi sekolah dari Paud sampai Perguruan Tinggi," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Pelayanan dan Umum Paniradya, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, berharap lewat rapat kerja yang diselenggarakan Balai Bahasa DIY ini muncul kebijakan dan keputusan untuk kerjasama bersama, sinergi pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/ kota.

"Pelestarian bahasa Jawa di DIY ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Harapannya, bahasa Jawa bisa menjadi bahasa pengantar. Terlebih, sekarang mungkin banyak kecenderungan bahasa di rumah itu bahasa Indonesia, padahal di bahasa Jawa ada filosofi, serta unggah-ungguh yang terkandung di dalamnya," ujar Ariyanti. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved