Ratu Elizabeth II Meninggal

Ratu Elizabeth II: Rahasia Topi dan Jejak di DI Yogyakarta

Ratu Elizabeth II meninggal pada Kamis (8/9/2022) malam waktu Inggris. Saat masih hidup, mendiang pernah bertandang ke DI Yogyakarta.

Tayang:
Penulis: Sigit Widya | Editor: Kurniatul Hidayah
Kompas
BERTEMU SULTAN - Ratu Elizabeth II bertemu Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Kraton Yogyakarta, Maret 1974. 

Kraton dan topi

Kedatangan Ratu Elizabeth II ke Bali dan DKI Jakarta pada Maret 1974 menjadi catatan penting bagi Indonesia maupun Inggris.

Sebab, sangat jarang kepala negara atau pemerintahan melawat ke negara lain menggunakan kapal laut. Biasanya, mereka memakai pesawat terbang.

Hari itu, sang ratu dan pangeran ke Indonesia naik Royal Yacht Britannia. Dalam pelayaran dari Bali, rombongan dikawal ketat oleh Kapal Fregat HMS Argonaut dan KRI Samadikun.

Mereka lalu berlabuh di Pelabuhan III Samudera Pura, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dari DKI Jakarta, mereka menuntaskan agenda di DI Yogyakarta, bertemu Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Kraton Yogyakarta

Warga Kota Yogyakarta dan sekitarnya antusias menunggu kedatangan orang-orang penting di Inggris tersebut.

Namun, rute perjalanan menuju Kraton Yogyakarta terpaksa diubah karena kawasan Malioboro sedang direnovasi. 

Baca juga: Pernyataan Resmi Istana Buckingham Setelah Pangeran Charles Naik Tahta Gantikan Ratu Elizabeth II

Sambutan masyarakat DI Yogyakarta tetap tak surut. Mereka senang, gembira, Ratu Elizabeth II bertandang.

Selama di Indonesia, termasuk DI Yogyakarta , ratu selalu bertopi. Tampilan seperti itu tak berubah hingga ia usia senja. 

Ratu Elizabeth II memang mudah dikenali karena selalu bermantel warna cerah, topi serasi, sepatu hitam, dan menenteng tas. 

Ratu Elizabeth II meninggal dunia
Ratu Elizabeth II meninggal dunia (pool/afp)

Semuanya, terutama topi, mempunyai makna. Hal tersebut diungkap oleh sejarawan Inggris, Robert Lacey, melalui buku berjudul "HRH: So Many Thoughts on Royal Style".

Menurutnya, Ratu Elizabeth II konsisten mengenakan topi di setiap acara. "Maknanya sebagai pengingat bahwa ratu terikat suatu layanan untuk suatu pekerjaan," katanya dalam buku terbitan 17 November 2020.

Kini, ia berpulang. Dunia benar-benar kehilangan. Kami berduka cita. Khalayak menanti prosesi ratu ke peristirahatan terakhir. (igy)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved