Kebakaran Jakal
Cerita Dedy Cahyono Putro, Korban Selamat Kebakaran di Jakal Km 4,5 yang Tewaskan Tiga Orang
Nestapa melanda keluarga Dedy Cahyono Putro (29).Dia harus kehilangan sang ayah, kakak dan keponakannya sekaligus dalam malam yang memilukan
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Nestapa melanda keluarga Dedy Cahyono Putro (29).
Dia harus kehilangan sang ayah, kakak dan keponakannya sekaligus dalam malam yang tak pernah ia impikan.
Rumahnya di RT05/RW03, Padukuhan Kocoran, Caturtunggal, Depok, Sleman ludes dilalap api, Jumat (2/9/2022) dini hari.
Api yang terus membesar itu menyebabkan adanya asap hitam pekat, membuat orang-orang di dalam rumah sulit untuk bernafas.
Rumah itu sebenarnya milik ayah Dedy, Subono (64).
Dedy tinggal di situ bersama istrinya, Dyah Ayu Putri Murtiningsih (29), ibu Suratmi, kakak Rani Istiyani (38) dan anak Rani, Mora Putri Ayu Sasmita (6).
Mereka tidur di tiga kamar berbeda di lantai dua dari rumah berukuran 100 meter persegi itu.
Subono bersama Ratmi, Dedy bersama Dyah dan Rani bersama putrinya, Mora.
“Saya tidak tahu jam berapa kebakaran itu. Yang saya tahu, ada kepulan asap, lalu saya buka pintu. Kemudian, asapnya itu sudah tebal, jarak pandangnya sudah tidak ada,” kata Dedy lirih saat bertemu dengan Tribun Jogja, Jumat (2/9/2022).
Baca juga: Kebakaran di Jakal km 4,5 Sleman, Ibu - Anak dan Kakek Meninggal Dunia
Dedy selalu menundukkan pandangan ketika mengobrol dengan tim Tribun Jogja.
Suaranya tercekat mengingat malam nahas itu.
Sedikit-sedikit, dia bisa bercerita bagaimana ia, istri dan ibu bisa lolos dari kobaran api.
“Saya pastikan dulu apinya dimana,” terangnya singkat.
Sesekali, Dedy menyalami para pelayat di dekat rumahnya di dalam perkampungan padat itu.
Pelayat pun terlihat terus berdatangan, mengucapkan bela sungkawa atas musibah yang menimpa Dedy.
“Di kamar saya, ada seperti seng, tapi terbuat dari plastik. Saya coba rusak itu dulu pakai tangan, lalu saya bongkar (biar ada jalan keluar). Saya tahu titik apinya ada di depan rumah,” paparnya, kali ini dengan kalimat yang lebih panjang.
Sesekali ia menghela nafas, menahan tangis, lalu melanjutkan kembali ceritanya.
Ia sudah tidak tahu dimana jenazah bapak, kakak dan keponakannya setelah mereka dinyatakan meninggal dunia.
“Terakhir saya tahunya di RSUP Dr Sardjito,” ucapnya.
Saat kebakaran semakin membesar, Dedy berusaha untuk merengkuh siapapun yang ada di sekelilingnya.
“Ketangkap kepala ibu saya. Saya langsung keluarkan buat loncat dan ambil oksigen dari lantai dua. Istri saya juga, kepegang juga, langsung lompat,” jelas Dedy.
Dia memang tidak sanggup bercerita secara detail. Yang teringat dalam benaknya adalah kakak, ponakan dan ayahnya tak bisa tertangkap dengan kedua tangan.
“Di depan rumah itu sudah menyala besar dan itu tidak bisa dipadamkan dengan individu,” tutupnya.
Dedy memasrahkan segalanya pada tetangga sekitar dan warga dusun. Ia merasa tak berdaya mengurusi semuanya. (Tribunjogja)