Kader JKN Datang dengan Hati Memberi Solusi Menggerakkan Roda Kebaikan

Kader JKN ini tugasnya melakukan sosialisasi, edukasi, mengingatkan hingga melakukan penagihan kepada peserta JKN-KIS yang menunggak

ist
Sapta Suharya, masyarakat umum yang menjadi Kader JKN di BPJS Kesehatan Kota Yogyakarta 

SAPTA Suharya terkenal sebagai sosok ‘penakluk’ di kantor BPJS Kesehatan Kota Yogyakarta. Bukan sembarang julukan. Tangan dinginnya mampu membuat peserta JKN-KIS yang menunggak iuran berbulan-bulan hingga bertahun-tahun kembali aktif rutin membayar lagi.

Pria 42 tahun yang tinggal di Kecamatan Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta ini adalah seorang Kader JKN di BPJS Kesehatan Kota Yogyakarta. Ia merupakan masyarakat umum yang menjadi mitra BPJS Kesehatan Kota Yogyakarta sebagai Kader JKN sejak 2019 lalu.

Kader JKN ini tugasnya melakukan sosialisasi, edukasi, mengingatkan hingga melakukan penagihan kepada peserta JKN-KIS yang menunggak.

“Dulu gabung jadi kader karena ajakan teman ,” kata Sapta saat berbincang dengan Tribunjogja.com di Kantor BPJS Kesehatan Kota Yogyakarta, Selasa 12 Juli 2022.

Saat awal menjadi Kader JKN, Sapta bertugas di wilayah Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Misinya besarnya adalah membuat peserta JKN-KIS yang menunggak lama aktif kembali. 

Nyatanya misi ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia sempat ciut nyali lantaran warga kampung yang didatangi ternyata banyak pria bertato.

“Kesannya kan sangar gitu. Sempat takut juga waktu saya ke sana mencari alamat peserta BPJS yang menunggak,” kenang Sapta sambil tertawa. 

Ketakutan Sapta ini cukup beralasan. Karena ia datang untuk menagih. Bisa saja warga yang tak suka, melakukan tindakan provokasi ke warga lain. 

“Ibarat kata, saya kan orang asing yang masuk ke situ,” katanya.

Dekati Pakai Hati

Bertamu ke rumah dan bicara empat mata dengan peserta JKN-KIS yang menunggak bukan perkara mudah. Agar tak menyinggung, Sapta punya cara jitu. Namun cara ini butuh kesabaran tingkat tinggi.

Sapta sama sekali tak pernah menyinggung besaran tunggakan. Tak pernah juga menagih kapan tunggakan itu akan dilunasi. Lantas apa yang ia lakukan ?

“Saya ajak ngobrol sampai mau cerita. Saya dekati pakai hati, cari masalahnya di mana, lalu saya bantu cari solusi. Ya sebenarnya niatnya ya tetap mau nagih, tapi cara dan pendekatannya saja yang diubah,” katanya sambil tersenyum.

Bila kunjungan pertama belum membuahkan hasil, Sapta  tak kapok. Ia akan datang untuk yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.

“Membuat yakin (mau bayar lagi) orang kan tak mudah,” jelasnya.

Bukan Faktor Ekonomi

Dari pengalamanannya di lapangan, peserta menunggak pembayaran bukan hanya faktor kesulitan ekonomi. Ada juga karena masalah pribadi internal keluarga. 

Misalnya, pernah ia mendatangi peserta yang berbulan-bulan menunggak bayar.

“Rumahnya bagus, punya toko besar tapi kok nunggak. Ternyata dia sudah pisah dengan istrinya, tapi belum cerai. Dia mau bayar, tapi tidak mau bayari istrinya. Ya saya bantu cari solusinya, harus pisah BPJS nya. Akhirnya mau,” katanya.

Cerita lain, ada peserta yang mau melunasi tunggakan, tapi uangnya belum cukup. Sapta kemudian menawarkan program baru BPJS Kesehatan yakni Program Rencana Pembayaran Bertahap (Rehab). 

Lewat program ini, peserta JKN-KIS yang menunggak bisa membayar secara bertahap.

“Program Rehab ini banyak diminati peserta yang menunggak lama. Ternyata banyak dari mereka tak tahu jika bisa dicicil,” jelasnya.

Ada juga cerita peserta yang benar-benar tidak mampu untuk membayar tunggakan. Jangankan melunasi, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kesulitan. 

Bila menemui kasus seperti ini, Sapta menyarankan dan siap membantu si peserta mengajukan diri agar JKN-KIS bisa ditanggung oleh Pemda karena kategori warga miskin.

“Jadi semua ada solusinya, karena memang itu yang dibutuhkan peserta,” katanya.

Pengalaman Pribadi

Untuk meyakinkan tercover BPJS Kesehatan memberikan rasa tenang dan aman bila mendadak sakit, Sapta kerap menceritakan pengalaman pribadinya sebagai peserta JKN-KIS. 

Suatau ketika pernah anaknya sakit dan harus opname di rumah sakit. Sang anak juga harus menjalani sejumlah tindakan medis berbiaya mahal.

“Anak sakit, hanya pegang uang sedikit, tahu kan bingungnya bagaimana. Alhamdulillah, semua bisa dicover BPJS, sama sekali tidak keluar biaya pengobatan. Pengalaman ini sering saya ceritakan ke peserta untuk meyakinkan,” katanya.

Namun, cara ini tak selalu berhasil. Pernah Sapta mendatangi rumah peserta JKN-KIS sampai berkali-kali. Selalu nihil tanpa hasil. 

“Saya lalu tinggalkan nomor telepon. Terus saya bilang ‘Kalau suatu saat membutuhkan, bisa menghubungi nomor itu’,” katanya Sapta. 

Dan benar saja, selang beberapa waktu, ada anggota keluarga si peserta yang mendadak sakit. Saat masuk rumah sakit, mereka kerepotan karena JKN-KISnya menunggak.

“Waktu itu pagi-pagi saya ditelepon. Langsung saya bantu urus ke BPJS untuk pengaktifan lagi. Si peserta tadi akhirnya tersadar betapa pentingnya JKN-KIS setelah sudah mengalami sendiri,” ujarnya.

Sapta selalu menikmati setiap momen saat bertemu peserta JKN-KIS apapun perlakuan yang didapatnya. Bertemu, mengobrol, mengetahui masalah dan bisa membantu mencarikan solusi baginya adalah sebuah kebahagiaan. 

“Ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri bisa menolong orang lain, dan itu tak bisa diukur dengan materi,” katanya.

Rekor

Selama pengalaman Sapta di lapangan, rekor kunjungan terbanyak ke rumah seorang peserta JKN-KIS yang menunggak adalah 8 kali bolak-balik. Sedangkan rekor tunggakan tagihan terlama yang pernah ia tangani ialah 2 tahun. 

“Saya selalu menekankan iuran ini adalah bentuk gotong royong bersama membantu sesama yang sakit. Bila kita mendadak sakit, biaya kita juga akan dibantu peserta lain. Alhamdulillah, semua bisa saya dekati dan sadar,” katanya.

Karena prestasinya itulah, kini Sapta menjadi spesialis untuk menangani peserta JKN-KIS yang menunggak di atas 6 bulan. 

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah provinsi di Tanah Air yang hampir seluruh penduduknya sudah tercover JKN. Per 1 Juli 2022, total warga yang sudah menjadi peserta JKN adalah 3.575.872 jiwa. Atau 97,24 persen dari total penduduk 3.677.446 jiwa.

Angka itu terbilang sangat bagus karena melebihi Universal Health Coverage (UHC) nasional yakni minimal 95 persen dari total jumlah penduduk.

"Kami akan berupaya bisa memenuhi target. Tinggal sedikit lagi. Harapan saya masyarakat DIY ini bisa terjamin masalah kesehatan. Harapan kita tidak ada yang sakit, tetapi kalau sakit sudah ada jaminan kesehatannya," kata Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved