Kisah Inspiratif

Mahasiswa UNY Ini Kelola Limbah Tongkol Jagung yang Disulap Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi

Dengan kemampuan Ade Kurniawan, limbah tongkol jagung itu berubah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, tidak hanya manusia, tapi juga lingkungan.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
istimewa
Ade Kurniawan, mahasiswa UNY pegiat UMKM Cip Janggel yang menyulap limbah tongkol jagung jadi sesuatu yang bernilai ekonomi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Siapa bilang jagung hanya bisa dijadikan sayuran pelengkap masakan?

Bagian dari jagung, yakni limbah jagung yang berupa tongkol, nyatanya bisa dijadikan kerajinan tangan, tidak membusuk begitu saja menjadi sampah.

Dengan kemampuan Ade Kurniawan, limbah tongkol jagung itu berubah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, tidak hanya manusia, tapi juga lingkungan.

Ade adalah mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Kriya Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Dia memiliki sebuah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bernama Cip Janggel yang produk utamanya berasal dari olahan limbang jagung.

Jagung memang tanaman perkebunan yang tumbuh subur di Indonesia dan dapat panen 2-3 kali tiap tahunnya.

Biasanya, masa panen jagung adalah saat yang paling ditunggu. Sebab, para petani akan memperoleh keuntungan dari hasil tanamnya.

Baca juga: Jadwal dan Lokasi Pemadaman Listrik di DI Yogyakarta Hari Ini, Sabtu 13 Agustus 2022

Akan tetapi, jagung dijual utuh dan tongkol jagung dibakar atau terbuang begitu saja menjadi limbah.

“Nah, kalau tidak dimanfaatkan, limbah tongkol jagung itu mengendap dan menyebabkan bau tidak enak kan. Sayang. Itu bisa jadi produk kerajinan,” kata Ade kepada Tribun Jogja, Jumat (12/8/2022).

Dia pun mengolah tongkol jagung menjadi produk kerajinan yang berkelanjutan (sustainable), ramah lingkungan (eco-friendly), eco green dan zero waste karena mengurangi limbah sisa hasil bumi.

“Bahan baku atau tongkol jagungnya itu melimpah betul, mbak. Ini ada 1 orang yang mau ngasih 500 kg limbah tongkol jagung. Terus, di gudang kami juga ada stok 1,5 ton. Kalau untuk produksi, limbah dari DIY sudah cukup sekali untuk stok bahan baku,” terangnya.

Ade mengakui, saking mudahnya mendapatkan stok tongkol jagung, ia bisa menemukan limbah itu dari Sentolo, Tempel dan beberapa daerah di Gunungkidul.

“Saya cari berbeda-beda tempat karena setiap wilayah punya ciri dan ukuran janggel yang berbeda,” jelas dia.

Produk yang bisa ia buat dari limbah tongkol jagung itu pun bermacam-macam.

Bisa jadi kotak tisu, nampan, gantungan kunci, lampu hias, keranjang dan masih banyak lagi.

Tentu, produk itu sudah melalui kontrol kualitas yang cukup ketat dari Ade sendiri.

“Sejak 2018 saya itu punya ide untuk mengolah ini. Syukurlah kemudian bisa mulai terjalin ide saya dan menghasilkan produk-produk dari limbah,” tambah Ade yang merupakan warga Kulonprogo.

ZERO WASTE

Ade enggan memproduksi produk limbah tongkol jagung dan menghasilkan limbah lain yang masih mengotori bumi.

Maka, dia memiliki ide untuk memanfaatkan serbuk dari hasil pengamplasan sebagai pakan ternak.

“Dari proses pembuatan produk ini juga menghasilkan limbah lagi, tapi limbahnya tidak terbuang karena bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Konsepnya zero waste gitu,” terangnya.

Sejauh ini, ia masih memanfaatkan limbah pengamplasan sebagai pakan ternak. Namun, ke depan, dia sudah memiliki rencana agar limbah amplas itu bisa jadi dekorasi dinding.

Adanya UMKM itu juga menginspirasi daerah lain untuk terus mengembangkan produk kerajinan dari sisa limbah melalui kontribusi masyarakat desa setempat. 

“Saya berdayakan warga sekitar Ngaliyan, di Kulonprogo untuk olah limbah tongkol jagung jadi produk kerajinan. Jadi, biar sama-sama bisa bangkit. Kami sediakan pelatihan dan edukasi kerajinan limbah sisa hasil bumi juga,” beber Ade.

Bentuk usaha Cip Janggel juga terbagi menjadi dua, yaitu penjualan produk serta pelatihan dan edukasi kerajinan limbah.

Baca juga: Wisata Jogja yang Cocok untuk Menikmati Indahnya Gemerlap Cahaya Malam!

Menurut alumni SMA Negeri 1 Kalibawang Kulonprogo itu, usaha ini cocok dijalankan karena pada masa pandemi banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan belum mampu adaptasi diri.

Dengan adanya kegiatan usaha ini diharapkan dapat memberikan lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan taraf ekonomi bagi masyarakat lokal. 

“Kegiatan usaha yang dilakukan memperhatikan pengendalian limbah tongkol jagung yang berkelanjutan dan ramah lingkungan” katanya. 

Sehingga, bentuk usaha ini mampu membina desa-desa di Indonesia menggunakan bahan serat alam, menjual kerajinan tongkol jagung dan penyediaan pelatihan bagi kaum disabilitas dan daerah sesuai dengan misi dan visi komunitas.

APRESIASI SANDIAGA UNO

Ade pun pernah mendapat apresiasi dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI Sandiaga Uno dalam Anugerah 50 Desa Wisata di Indonesia di Desa Wisata Widosari baru-baru ini. 

Sandiaga mengatakan bahwa Ade adalah salah satu generasi Z yang sama sekali tidak merasa gengsi tapi proaktif, kreatif, dan inovatif memanfaatkan peluang usaha. 

“Saya bangga dengan Mas Ade Kurniawan yang masih kuliah semester 4 di Universitas Negeri Yogyakarta, tapi sudah menciptakan lapangan kerja, punya karyawan sendiri dan semangat berkreasi mengembangkan usahanya,” kata Sandiaga ditirukan Ade.

Diceritakan Ade, Sandiaga meminta ia untuk menerukan perjuangan membangun ekosistem UMKM berkelanjutan.

“Katanya Pak Sandiaga, ‘teruskan perjuanganmu, mas Ade. UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia yang harus terus menggeliat’, gitu,” tutupnya. (Ard)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved