Warga Magelang Kembali Antre Minyak Goreng Curah Setelah Pemerintah Cabut Subsidi
Fenomena antrean untuk mendapatkan minyak goreng (migor) curah kembali lagi terjadi, pasca pencabutan subsidi minyak goreng oleh pemerintah per
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Fenomena antrean untuk mendapatkan minyak goreng (migor) curah kembali lagi terjadi, pasca pencabutan subsidi minyak goreng oleh pemerintah per 31 Mei 2022 lalu.
Antrean tersebut, terpantau terjadi pada salah satu distributor minyak goreng di Pasar Muntilan, Kabupaten Magelang pada Kamis (02/06/2022) sekitar pukul 10.00 WIB.
Para warga terlihat membawa jeriken-jeriken kosong. Mereka mengantre di depan toko sembari membawa jeriken-jeriken kosong, menunggu nomor urutnya dipanggil.
Baca juga: Sebanyak 88 Ternak di Bantul Terindikasi PMK, 13 di antaranya Dinyatakan Positif
Nasikun, warga Candimulyo, Kabupaten Magelang, mengatakan, pasca pencabutan subsidi dirinya masih kesulitan mencari migor dengan harga yang ditetapkan pemerintah.
"Iya, ini jauh-jauh dari rumah ke sini karena di sana (daerah Pakis) harganya masih mahal, per kilogram itu Rp16.000 kalau di sini dengan ukurannya yang sama cumaRp14.500. Sedangkan,perbanding per jeriken di sini bisa dapat Rp230.000 ribu, di sana Rp280.000,"ujarnya saat mengantre di antara para pembeli lainnya, pada Kamis (02/06/2022).
Ia menuturkan, rela mengantre untuk mendapatkan migor curah karena terdesak untuk keperluan produksi makanan olahannya.
Jika, memaksakan memakai migor dengan harga pasaran yang rata-rata berkisar Rp16.000 per kilogram maka dirinya akan merugi.
"Saya kan UMKM makanan buntil, jadi cari yang murah. Karena, per hari itu butuh hingga 16 kilogram untuk produksi. Ini, saja beli migornya dibatasi per KTP, hanya bisa membeli sekitar 32 kilogram atau 2 jeriken, jadi harus menunjukan kartu identitas,"tuturnya.
Baca juga: Banyak Pasar Hewan Ditutup, DPKP DIY Imbau Masyarakat Beralih ke Daging Beku
Sementara itu, Administrasi Toko 15 Muntilan atau distributor migor, Elizabeth Septiana mengatakan, antrean terjadi sejak Semarang banjir rob. Banjir tersebut membuat distribusi minyak goreng jadi terlambat.
“Ada antrean lagi itu sejak Semarang kena banjir. Distribusi minyak jadi agak terlambat, soalnya mau ambil sampai pabrik tidak bisa karena airnya belum surut,” katanya dalam pesan singkatnya.
Pengambil minyak menuju Semarang, katanya, dilakukan setelah air surut baru mengambil. Untuk stok migor curah sebanyak 18 ton yang habis dalam 3 hari.
“Kebetulan waktu itu stok minyak yang masih di toko 15, jadi menimbulkan antrean. Kalau harga sekarang Rp14.500 per kilo,” ujarnya. (ndg)