Dosen Universitas Alma Ata Jelaskan Mengenai Fenomena NFT

Beberapa tahun lalu hype NFT sangatlah populer dimulai dari foto Gozali Everyday hingga ramai-ramai orang upload segala bentuk produk ke platfom marke

istimewa
Dosen Alma Ata Andri Pramuntadi 

"Jika dianalogikan jika anda seorang pematung atau pembuat patuang membuat sebuah patung dari sebuah batu dengan perpaduan metal. patung tersebut memiliki nilai komersil jika jika ada yang tertark membeli maka orang harus membayarnya, karena hanya ada satu jika ada orang yang akan meniru pastilah akan tahu mana yang
asli dan mana yang palsu karena dari segi pahatan dan penempatan bahan metal yang unik," ucapnya.

Namun analogikan jika anda adalah seoerang digital artis yang membuat karya gambar ilustrasi 2 dimensi yang disimpan dalam bentuk file digital lalu karya anda di upload ke internet agar semua orang dapat menikmati hasil karya anda, dalam waktu singkat orang dapat mengunduh hasil karya anda dan dapat meiliki hasil karya anda tersebut, lalu buat apa orang beli kalo semua orang bisa mendapatkan gratis.

"dan anda tidak dapat membuktikan bahwa karya anda yang asli. semua orang dapat mengklaim bahwa gambar tersebut miliknya dan asli. Bukankah karya digital tersebut dapat di HAKI-kan? ya karya digital dapat di HAKI-kan namun biaya yang sangat mahal dan waktu yang diperlukan sertifikat tersebut terbit sangat lama bagaimana jika kita adalah seorang digital artis yang menghasilkan 5 karya setiap harinya seberapa ribet nya anda harus mengurus HAKI dari karya anda setiap minggunya," ucapnya.

Itu yang membuat digital artis sangat suit mengkomersilkan karya digitalnya. Dengan teknologi NFT anda dapat mencetak karya tersebut dalam blockchain, blockchain itu sendiri merupakan teknologi yang digunakan sebagai sistem penyimpanan atau bank data secara digital yang terhubung dengan kriptografi.

yang membuat karya digital anda tidak dapat di copy, diubah dan dihapus, nama anda sebagai pemilik juga dapat tercantum di karya tersebut. dan tentu saja anda dapat menjual karya tersebut dan jika terjadi transaksi maka data kepemiliikanya akan berubah dalam blockchain ke pemilik baru.

Jika banyak orang menginkan karya tersebut maka harga akan naik sesuai dengan supply dan demand, karena karya tersebut hanya ada satu. Itu kenapa harga karya digital di platfom penjualan NFT beberapa tahun belakangan kemarin sangatlah tinggi.

Popularitas NFT semakin naik ketika Metaverse atau dunia virtal itu muncul. Metaverse sendiri adalah sebuah konsep dunia virtual di mana seseorang dapat membuat dan menjelajah dengan pengguna internet lainnya dalam bentuk avatar dirinya sendiri.

Seperti yang pernah trending adanya berita dijualnya alun-alun utara yogyakarta pada sebuah platform dunia virtual. dengan adanya Metaverse dan NFT menjadikan sebuat kegiatan ekonomi yang saling membutuhkan, semua benda yang ada di Metaverse merupakan item berwujud NFT , jadi tidak heran brand-brand ternama dunia sudah memulai berjualan di Metaverse dan meraup untung yang sangat tinggi.

"Jadi tanpa ada kegiatan transaksi di NFT maka Metaverse akan mati. Jika anda cek pada google trends jumlah kata pencarian dengan kata kunci NFT mulai naik drastis pada awal tahun 2021 dan pada puncaknya pada januari 2022, dan terus bergerak kturun samapai saat ini, untuk lokasi indonesia sendiri Kata NFT mulai naik pada awal januari 2022 dan trus turun pada februari 2022," ungkapnya.

Harga NFT yang sebelumnya naik gila-gilaan kini jatuh pada nilai tertigginya. Harga NFT pada
platfom penjualan OpenSea jatuh pada harga Rp 29 juta dari harga Rp 99,5 juta dan penjualan
item NFT yang tadinya mampu terjual 26 ribu NFT/hari kini hanya dapat terjual 3200 NFT/hari.

"Pada Data CoinMarketCap total kapitalisasi pasar NFT yang sebelumnya Rp 335 Triliun kini harganya hanya Rp 140
Triliun rupiah saja," ucapnya. (Adv)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved