Pelantikan Pengurus 2022-2027, ICMI DIY Tidak Ingin Berada di Menara Gading

Ketua Umum ICMI, Prof. Arif Satria menyatakan peran cendekiawan tersebut sangat strategis pasca pandemi Covid-19. 

Tayang:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA/Istimewa
Pelantikan dan sarasehan kebangsaan ICMI DIY pengurus tahun 2022-2027, Senin (23/5/2022) di Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) 

“Kami ingin menjadi rumah lahirnya keragaman gagasan baru untuk kemajuan dan perubahan,” tuturnya.

Peran lainnya, ICMI DIY menjadi rumah kebudayaan dan perubahan yang didasari situasi sosial Yogyakarta sebagai pendulum kebudayaan.

“ICMI DIY bertekad untuk berpartisipasi dalam mengawal kematangan pelaksanaan demokrasi menuju kehidupan berbangsa sesuai cita-cita para founding fathers, nilai-nilai kemanusiaan, yang yang berbasis pada misi dan visi Negara Kesatuan Republik Indonesias (NKRI),” jelasnya.

Rektor UII Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya mengemukakan, peran cendekiawan sangat penting untuk kemajuan sebuah bangsa, dengan berbagai alasan. Beberapa di antaranya adalah kekuatan yang dimiliki oleh cendekiawan.

Pertama adalah kekuatan moral. 

Cendekiawan menjadi sangat penting secara moral mengawal perjalanan bangsa dan negara ini, supaya tetap sesuai dengan cita-cita luhur dan konstitusi.

“Adakalanya cendekiawan meniup peluit ketika terjadi pelanggaran, tetapi peluit yang ditiup dengan cara yang elegan, santun dan konstitusional, dan didasari dengan rasa cinta kepada bangsa ini,” tutur Prof. Fathul Wahid.

Kedua, lanjut Dewan Pakar ICMI Orwil DIY ini, adalah kekuatan gagasan.

“Sebuah bangsa yang hidup dengan dinamika yang tidak mungkin lepas dari masalah, dan saya merasa berfikir berharap dan berdoa kehadiran cendekiawan akan menjadi bagian dari solusi yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah kebangsaan dan bernegara. Ada tantangan memberikan saran yang jujur untuk kepentingan bangsa dan negara,” paparnya.

Ketiga kekuatan perekat. Disampaikan Prof. Fathul Wahid, yakni menjadi jembatan penghubung, menjadi tali pengikat keragaman yang ada.

“Indonesia dibangun di atas keragaman dan ini fakta sosial dan kita tidak bisa menutup mata darinya, tetapi persatuan yang kita inginkan bukan berarti mengabaikan keragaman yang ada,” terangnya.

“Keragaman yang harus kita hargai, kita kenal dengan baik, dan kita sepakat untuk mengedepankan persamaan dan mengesampingkan perbedaan. Saya melihat cendekiawan yang diwadahi oleh ICMI bisa memainkan peran perekat ini, ketika bangsa Indonesia saat ini mengidap penyakit keterbelahan,” imbuh Prof. Fathul Wahid. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved