Perang Rusia Ukraina

Mariupol Digempur Rusia, Para Petempur Batalyon Azov Tolak Menyerah

Para petempur yang tergabung dalam Batalyon Azov menolak menyerah kepada militer Rusia yang terus menggempur Kota Mariupol

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
buzzfeed
Batalyon Azov, Milisi Sayap Kanan Ukraina 

TRIBUNJOGJA.COM - Para petempur yang tergabung dalam Batalyon Azov menolak menyerah kepada militer Rusia yang terus menggempur Kota Mariupol. Meski demikian, mereka siap meninggalkan basis pertahannya yang berada di kompleks industri Azovstal Mariupol atas dukungan pihak ketiga yang tak disebut namanya.

Pernyataan disampaikan Svyatoslav Palamar, Wakil Komandan Resimen Neo-Nazi Azov di Mariupol, Rabu (20/4/2022) malam waktu setempat.

Nasionalis Ukraina dan prajurit batalion Azov berdemonstrasi di Kiev pada 14 Oktober 2014 untuk menandai berdirinya Tentara Pemberontak Ukraina (UPA), sebuah gerakan partisan paramiliter yang dibentuk pada tahun 1943 untuk memperjuangkan kemerdekaan melawan pasukan Polandia, Soviet, dan Jerman di Ukraina barat . 
UPA secara historis kontroversial, diidolakan oleh nasionalis Ukraina tetapi dibenci oleh Rusia karena berkolaborasi dengan pasukan Nazi dan memerangi tentara Soviet.
Nasionalis Ukraina dan prajurit batalion Azov berdemonstrasi di Kiev pada 14 Oktober 2014 untuk menandai berdirinya Tentara Pemberontak Ukraina (UPA), sebuah gerakan partisan paramiliter yang dibentuk pada tahun 1943 untuk memperjuangkan kemerdekaan melawan pasukan Polandia, Soviet, dan Jerman di Ukraina barat . UPA secara historis kontroversial, diidolakan oleh nasionalis Ukraina tetapi dibenci oleh Rusia karena berkolaborasi dengan pasukan Nazi dan memerangi tentara Soviet. (AFP PHOTO/GENYA SAVILOV)

Lewat rekaman video yang dirilis, Palamar menyatakan kelompoknya siap meninggalkan pabrik atas dukungan dan perlindungan "pihak ketiga" yang tidak ditentukan.

Dikutip dari Russia Today, para petempur ultra nasionalis itu ingin menyimpan senjata pribadi mereka, serta mengevakuasi rekan-rekan mereka yang terluka.

Palamar menolak menyerah kepada pasukan Rusia atau pasukan Republik Rakyat Donetsk (DPR), yang mengepung fasilitas industri yang luas itu.

Sebelumnya pada hari itu, pidato serupa dirilis Sergey Volyna, Komandan Brigade Marinir ke-36 Ukraina, yang juga bersembunyi di pabrik tersebut.

Ada sekitar 500 petempur yang terluka di fasilitas itu, serta "ratusan" warga sipil lainnya.

Nasionalis Ukraina dan prajurit batalion Azov berdemonstrasi di Kiev pada 14 Oktober 2014 untuk menandai berdirinya Tentara Pemberontak Ukraina (UPA), sebuah gerakan partisan paramiliter yang dibentuk pada tahun 1943 untuk memperjuangkan kemerdekaan melawan pasukan Polandia, Soviet, dan Jerman di Ukraina barat
Nasionalis Ukraina dan prajurit batalion Azov berdemonstrasi di Kiev pada 14 Oktober 2014 untuk menandai berdirinya Tentara Pemberontak Ukraina (UPA), sebuah gerakan partisan paramiliter yang dibentuk pada tahun 1943 untuk memperjuangkan kemerdekaan melawan pasukan Polandia, Soviet, dan Jerman di Ukraina barat (FP PHOTO/GENYA SAVILOV)

“Ini adalah seruan kami kepada dunia, ini mungkin merupakan seruan terakhir kami. Kita mungkin hanya punya waktu beberapa hari atau jam lagi,” katanya.

“Kami meminta untuk menerapkan prosedur ekstradisi kepada kami dan membawa kami ke wilayah negara ketiga,” pintanya.

Militer Rusia mengakui upaya baru mengatur koridor kemanusiaan bagi mereka yang ingin keluar dari pabrik Azovstal telah gagal.

“Kami harus menyatakan operasi kemanusiaan gagal, tidak ada yang menggunakan koridor,” kata militer Rusia dalam sebuah pernyataan tertulis.

Menurut Rusia, pemimpin kelompok nasionalis tidak menggunakan kesempatan lain untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dan nyawa bawahan mereka.

Pasukan Rusia mengecam permintaan pasukan Ukraina yang dikepung, yang ditujukan kepada negara-negara asing.

Batalyon Azov, Milisi Sayap Kanan Ukraina
Batalyon Azov, Milisi Sayap Kanan Ukraina (buzzfeed)

“Alamat Anda salah arah. Rusia telah melakukan segalanya untuk menyelamatkan hidup Anda. Anda seharusnya memohon secara langsung kepada pemimpin Ukraina, yang telah lama meninggalkan Anda,” lanjut pernyataan itu.

Kiev, bagaimanapun, telah menyalahkan Moskow atas upaya baru yang gagal dalam menggelar koridor kemanusiaan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved