Berita Kota Yogya Hari Ini

Kekerasan Jalanan Merebak Lagi, Wawali Kota Yogya Minta Masyarakat Lakukan Pengetatan Wilayah

Kekerasan jalanan tidak bisa diatasi oleh pemerintah sendiri. Perlu ada penyelesaian terintegrasi, yang juga melibatkan masyarakat.

Tribun Jogja/Azka Ramadhan
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kekerasan jalan mulai marak kembali.

Bahkan belum lama ini ada seorang pelajar yang meninggal dunia. 

Wakil Wali Kota Yogyakarta , Heroe Poerwadi mengatakan kekerasan jalanan tidak bisa diatasi oleh pemerintah sendiri.

Perlu ada penyelesaian terintegrasi, yang juga melibatkan masyarakat.

Baca juga: Bukan Klitih, Begini Awal Mula Kasus Gedongkuning Jogja Berdasarkan BAP

Untuk itu, ia mengajak masyarakat untuk melakukan pengetatan wilayah.

Pemangku wilayah seperti mantri pamong praja, lurah, tak terkecuali RW dan RT pun harus terlibat.

"Sebenarnya kan sudah agak lama tidak muncul (kekerasan jalanan), saat pandemi ini jarang, tetapi saat ini muncul lagi. Justru munculnya saat kita melonggarkan. Mari kita coba masing-masing wilayah melakukan pengetatan. Di wilayah itu kan juga ada posko-poskonya," katanya, Selasa (05/04/2022).

Ia menyebut upaya pencegahan sebenarnya sudah dilakukan secara maksimal bahkan sudah ada tim yang ada di masyarakat, sekolah, hingga kepolisian.

Pemkot Yogyakarta pun sudah membentuk kampung ramah anak.

Dari pihak sekolah pun sudah melakukan pengetatan kegiatan sekolah.

Bahkan kepala sekolah pun mengawasi geng sekolah.

Namun demikian, sekolah kesulitan untuk mengontrol kegiatan di luar sekolah.

Untuk itu diperlukan peran masyarakat.

Baca juga: FAKTA TERBARU Pelajar Korban Dugaan Klitih di Gedongkuning Kota Yogyakarta, Ini Kata Polisi

"Pengetatan di sekolah juga sudah dilakukan oleh kepala sekolah dan guru BP. Kegiatan di luar sekolah itu yang tidak bisa dikontrol, dan perlu melibatkan masyarakat," ujarnya.

Menurut dia, perlu ada kajian terkait dengan pola kekerasan jalanan saat ini.

Ia menilai ada perubahan pola kekerasan jalanan.

Jika sebelumnya kekerasan jalanan dilakukan untuk merekrut anggota baru dalam sebuah geng, saat ini sasaran kekerasan jalanan lebih random.

"Ini perlu kajian, apakah ada pola baru, atau ini reinkarnasi dari perkelahian antar geng, atau seperti apa,"imbuhnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved