Berita Bisnis Terkini
Masuk Bulan April, Market Kripto Kehabisan Bensin untuk Bull Run?
Bitcoin diperdagangkan pada $ 44.717 pada saat berita ini dimuat, turun 5,27 persen pada Jumat (1/4/2022) pukul 10.00 WIB.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com - Memasuki bulan April 2022, pasar kripto mulai terlihat tanda-tanda terjerembab.
Apakah ini tanda bahwa market sudah kehabisan bensin untuk terus bull run?
Padahal selama delapan hari berturut-turut 10 aset kripto berkapitalisasi besar duduk nyaman di zona hijau.
Tapi, terpantau harga Bitcoin (BTC) sudah jatuh, setelah pada awal pekan ini nilainya melewati $ 48.000.
Bitcoin diperdagangkan pada $ 44.717 pada saat berita ini dimuat, turun 5,27 persen pada Jumat (1/4/2022) pukul 10.00 WIB.
Baca juga: Inilah 5 Aset Kripto yang Harganya Berpotensi Naik Seminggu Kedepan
Sejumlah altcoin terkemuka bahkan bernasib lebih buruk dan menunjukkan investor sudah mulai kehilangan minat terhadap aset kripto tersebut.
Misalnya, memecoin DOGE dan SHIB baru-baru ini turun masing-masing sekitar 3 persen dan 4,5 persen.
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat kini pasar kripto tengah mengalami konsolidasi, pasca reli kencang selama dua pekan terakhir.
Menurutnya, situasi ini bisa berarti positif karena menjaga stabilitas market ke depan.
"konsolidasi tersebut sejatinya positif bagi pasar kripto, karena bisa menjaga stabilitas market dan membangun dasar baru bagi investor untuk menemukan titik-titik harga baru ke depan untuk beberapa aset kripto," jelas Afid.
Selain itu, tekanan juga datang dari memburuknya angka inflasi dan pemungutan suara oleh Uni Eropa tentang undang-undang kripto yang dipandang industri tidak menguntungkan.
Baca juga: Daftar Aset Kripto yang Sebaiknya Dihindari, Berpotensi Melemah Pekan Ini
Komunitas kripto menganggap bahwa langkah tersebut dapat menghambat inovasi dan melanggar aspek privasi pelaku transaksi kripto.
"Olengnya pasar kripto juga pas terjadi setelah Biro Analisis Ekonomi Departemen Ketenagakerjaan AS merilis data inflasi AS versi PCE pada Kamis (31/3/2022) kemarin. Beberapa trader kripto memang bereaksi keras terhadap data inflasi, karena terkadang melakukan aksi jual atau cut loss setelah indikator ekonomi dirilis," ungkap Afid.
Meski saat ini adopsi aset kripto sudah mulai marak di beberapa institusi yang diharapkan bisa menjaga stabilitas market, namun rupanya belum berpengaruh besar.
Afid melihat, adopsi kripto butuh waktu untuk mendorong stabilitas jangka panjang. ( Tribunjogja.com )