Berita Tribun Jogja Hari Ini
Pelajar Hadapi Ancaman Learning Loss, Akibat Terlalu Lama Belajar Daring
MENINGKATNYA penularan Covid-19 membuat sejumlah sekolah kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sekolah daring.
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM - Meningkatnya penularan Covid-19 membuat sejumlah sekolah kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sekolah daring. Dari sudut pandang medis, ini adalah keputusan tepat untuk menghentikan risiko penularan. Terlebih di DIY sudah ditemukan sampel varian BA.2 atau dikenal dengan Omicron Siluman yang memiliki daya penularan lebih cepat.
Namun demikian, dari perspektif pendidikan, banyak yang menilai PJJ tak efektif untuk proses pembelajaran para murid.
Jika terus berlanjut, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY mengkhawatirkan terjadinya learning loss atau menurunnya pengetahuan dan kemampuan siswa.
"Sebenarnya kita itu berharap PJJ seminim mungkin. Kalau bisa, ya, (pembelajaran) tatap muka, karena bagaimanapun juga PTM (pembelajaran tatap muka) lebih efektif," terang Kepala Disdikpora DIY, Didik Wardaya, Kamis (3/3/2022).
Baca juga: Omicron Siluman Terdeteksi di Yogya, Sampel Ditemukan Pokja Genetik FKKMK UGM
Sebelumnya, sudah sekitar 16 bulan lamanya pelajar di DIY mengikuti pembelajaran secara daring akibat pandemi yang tak kunjung berakhir.
Peserta didik pun disebut mengalami learning loss sebesar 35 persen.
Adanya penurunan kualitas pembelajaran tersebut diperoleh dari hasil Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD).
"Capaiannya yang bisa mencapai 100 sekarang turun jadi 65 persen," terangnya.
Didik menambahkan, hasil temuan lain menunjukkan bahwa kondisi learning loss diperparah dengan kondisi murid yang berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi.
Pasalnya, siswa yang memiliki latar belakang ekonomi lebih tinggi dapat mengakses gawai dan keperluan teknologi informasi.
Berbeda dengan siswa yang secara ekonomi pas-pasan. Mereka cenderung sulit untuk mengikuti PJJ.
"Yang lebih mumpuni mungkin tidak ada masalah, tapi bagaimana dengan yang gadget pas-pasan," imbuhnya.
Didik pun berharap agar pandemi Covid-19 dapat segera berakhir sehingga sekolah dapat kembali menggelar PTM secara penuh.
Saat ini pihaknya tengah menggenjot vaksinasi booster untuk tenaga kependidikan seperti guru dan pegawai sekolah.
Cakupannya kini telah melampaui 80 persen. Langkah tersebut diharapkan dapat meminimalisasi penularan di lingkungan sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kepala-disdikpora-diy-didik-wardaya.jpg)