Hari Raya Nyepi

HARI RAYA NYEPI : Ini Makna Bunga, Dupa, dan Air dalam Sembahyang Umat Hindu

Berikut penjelasan tentang makna bunga, dupa, dan air, yang digunakan umat Hindu saat sembahyang.

Tayang:
Penulis: Alifia Nuralita Rezqiana | Editor: Mona Kriesdinar
DOK. Parisada Hindu Dharma Indonesia
Seorang umat hindu sedang sembahyang 

TRIBUNJOGJA.COM – Setiap agama atau kepercayaan memiliki cara tersendiri untuk sembahyang atau ibadah, begitu juga dengan umat Hindu yang pada Kamis, 3 Maret 2022, merayakan Hari Raya Nyepi.

Umumnya, pelaksanaan sembahyang umat Hindu selalu diwarnai dengan beberapa sarana atau perlengkapan seperti bunga, dupa, dan air.

Sembahyang umat Hindu akan dirasa kurang khidmat apabila tidak disertai dengan ketiga sarana sembahyang tersebut.

Baca juga: Jelang Tawur Agung, Umat Hindu Klaten Mulai Berdatangan ke Candi Prambanan

Kira-kira apa makna dari setiap sarana sembahyang itu?

Dirangkum Tribun Jogja dari laman resmi Prisada Hindu Dharma Indonesia Pusat (PHDI), Rabu (2/3/2022), berikut makna bunga, air, dan dupa sebagai sarana sembahyang umat Hindu.

1. Makna Bunga

Canang sari, sesaji yang terbuat dari bunga, daun, dan hasil bumi lainnya
Canang sari, sesaji yang terbuat dari bunga, daun, dan hasil bumi lainnya (DOK. Pura Gunung Salak)

Bunga yang digunakan sebagai sarana sembahyang umat Hindu memiliki dua fungsi penting.

Pertama, bunga menjadi simbol Tuhan. Kedua, bunga sebagai sarana persembahan kepada Tuhan.

Biasanya, bunga yang digunakan sebagai simbol Tuhan akan diletakkan di ujung cakupan tangan pada saat menyembah.

Setelah prosesi penyembahan selesai, bunga akan diletakkan di atas kepala atau disematkan di telinga.

Sementara itu, bunga yang digunakan sebagai sarana persembahan biasanya menjadi isi sesajen yang disiapkan umat Hindu saat beribadah.

Bunga dalam sesajen melambangkan ketulusan, keikhlasan, dan kesucian hati umat Hindu untuk menghadap Sang Pencipta.

Baca juga: Empat Candi di DIY-Jateng Dicanangkan Jadi Tempat Peribadatan Umat Hindu dan Buddha Dunia

Adapun sesajen yang dimaksud adalah canang, yaitu sebuah rangkaian sajen untuk sembahyang umat Hindu yang terbuat dari bunga, daun, buah-buahan, serta hasil bumi lainnya.

Canang yang dipersembahkan memiliki makna yang begitu dalam.

Pertama, canang menjadi simbol perjuangan manusia yang selalu memohon petunjuk dan bantuan dari Tuhan.

Kedua, canang dipercaya mampu menumbuhkan pikiran yang  jernih dan tulus. Hal ini akan tercermin melalui perbuatan dan perkataan.

2. Makna Dupa

Dupa untuk sembahyang umat Hindu
Dupa untuk sembahyang umat Hindu (DOK. Payana Dewa)

Dupa adalah wewangian yang umumnya berbentuk stik memanjang. Umat Hindu akan membakar dupa saat sembahyang sebagai lambang api yang memiliki tiga fungsi.

Pertama, dupa menjadi perantara yang menghubungkan umat dengan Tuhan yang dipuja.

Kedua, dupa menjadi sarana untuk membasmi segala bahaya dan mengusir roh jahat.

Ketiga, dupa menjadi saksi dalam upacara yang dijalankan oleh umat Hindu.

Baca juga: 57 KUMPULAN Ucapan Hari Raya Nyepi 2022 Tahun Baru Saka 1944, Tebarkan Kedamaian di Bumi Pertiwi

Adapun dalam upacara persembahyangan, dupa memiliki makna yang dalam.

Dupa berasal dari Wisma, yaitu alam semesta. Asap dupa secara perlahan akan menyatu ke angkasa.

Naiknya asap dupa ke angkasa menjadi simbol untuk menuntun umat Hindu agar menghidupkan api dalam raganya dan menggerakkan diri menuju Sang Hyang Widhi (Tuhan).

3. Makna Air

Potret Pura Tirta di Bali
Potret Pura Tirta di Bali (DOK. Kemendikbud Ristek)

Sama seperti umat Islam yang menggunakan air untuk wudu sebelum salat, atau umat Katolik yang menggunakan air suci untuk membuat tanda salib sebelum masuk Gereja, umat Hindu pun menggunakan air untuk sembahyang.

Air suci menjadi sarana sembahyang yang penting bagi umat Hindu.

Secara fisik, air suci memang air biasa, bedanya, air suci sudah disakralkan dengan cara tertentu oleh Pendeta atau Dwijati sesuai kepercayaan dan keyakinan agama, sehingga dipercaya mampu menciptakan keheningan pikiran.

Air suci tersebut akan digunakan sebelum dan sesudah sembahyang.

Baca juga: 31 Ribu Wisatawan Kunjungi DI Yogyakarta Saat Libur Nyepi, Wisatawan Asal Jawa Timur Mendominasi

Sebelum umat Hindu sembahyang, air suci akan dipercikkan berulang kali dengan tujuan membersihkan diri dari hal negatif, baik yang terlihat maupun yang tak terlihat.

Hal negatif tersebut termasuk dosa-dosa dari kehidupan masa lalu maupun masa kini.

Kemudian, usai sembahyang, air suci akan dipercikkan tiga kali di kepala, diminum iga kali, kemudian diusapkan pada bagian tubuh lain seperti wajah, telinga, leher, atau dada, sebanyak tiga kali.

Air suci yang dipercikkan dan dikonsumsi setelah sembahyang melambangkan berkah atau karunia dari Tuhan kepada umat Hindu. (*/tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved