Feature
Kisah Bisnis Keripik Belut di Godean Sleman, Diawali Produksi 10 Kilogram
Belut bisa diolah menjadi aneka makanan. Satu di antaranya keripik. Camilan ini disukai banyak orang, karena memiliki cita rasa gurih nan renyah.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Iwan Al Khasni
Belut bisa diolah menjadi aneka makanan. Satu di antaranya keripik. Camilan ini disukai banyak orang, karena memiliki cita rasa gurih nan renyah. Tak heran, keripik belut menjadi buruan, untuk dimakan sendiri maupun oleh-oleh.
RIBUAN belut ditampung dalam satu kolam besar di rumah Wartiyem. Belut itulah yang menjadi bahan baku pembuatan keripik. Sebagian belut yang didatangkan dari Jawa Timur dan Jawa Barat itu dibersihkan, dicuci, diberi bumbu dan dicampur tepung, lalu digoreng.
Dalam sehari, warga Klaci II, RT 04, Kalurahan Margoluwih, Seyegan, Sleman ini mampu memproduksi satu kuintal keripik belut. Penjualannya, selain di showroom rumahnya dan pasar Kuliner Godean, keripik belut "Citra Rasa" juga dipasarkan hingga ke luar daerah.
Wartiyem menceritakan, bisnis penggorengan keripik belut dirintis sejak tahun 2001. Tapi sebelum itu, usaha ini berawal dari bisnis keluarga suaminya. Ia sendiri sebenarnya memiliki keterampilan di bidang tata busana dan ikut terjun mengembangkan usaha keripik belut setelah hidup bersama suami.
Awal mulanya, dia belum kepikiran produksi. Ia hanya menjadi penyalur kebutuhan bahan baku belut di Pasar Godean dengan mencari belut di Pasar Delanggu, Klaten.
Namun, lambat laun, bisnis ini bermasalah karena perputaran uangnya tidak berjalan lancar. Wartiyem memutar otak dan akhirnya memutuskan untuk ikut produksi keripik belut.
"Jadi selain kita mencari ikan belut untuk supplier yang ada di pasar, kita juga mulai ikut-ikutan produksi. Ternyata setelah saya ikut produksi nilai tambahnya beda jauh," ujar dia, Selasa (11/1/2022).
Awal mula produksi masih skala kecil. Setiap hari hanya menggoreng belut 10 kilogram dan langsung dijual di pasar Godean. Saat itu, packaging atau kemasan untuk berjualan keripik belut masih sangat sederhana ala kadarnya.
Namun, berjalan waktu, Wartiyem mendapat pelatihan dan pembinaan dari dinas mengenai tata cara jualan yang baik dan sehat. Bahkan ia mendapatkan bantuan etalase untuk berjualan, agar makanan tidak terkena debu.
Pembinaan dan bimbingan itu terus dipraktekkan hingga akhirnya omset penjualan perlahan meningkat. Dari semula 10 kilogram belut per hari mulai bertambah menjadi 15 kilogram.
Bisnis terus berjalan. Tekad Wartiyem menjadi produsen keripik belut makin bulat. Ia terus belajar bagaimana keripik belutnya bisa diminati banyak konsumen dan mudah dikenali pelanggan.
Satu di antara cara yang ditekuni adalah membuat keripik belut kecil-kecil dengan adonan tepung yang tipis. Cara ini ternyata berhasil menarik minat konsumen menengah ke atas.
"Kita membedakan, kalau yang di pasaran itu tepungnya agak tebel. Tapi kalau yang konsumen menengah ke atas biasanya tepungnya tipis-tipis," ujar perempuan 52 tahun itu menjelaskan.
Berkembang
Kini, usaha keripik belut milik Wartiyem dengan bendera "Citra Rasa" berkembang pesat. Ada 5 karyawan yang tiap hari bekerja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Cerita-Sukses-Produsen-Keripik-Belut-Citra-Rasa-Sehari-Wartiyem-Mampu-Produksi-Hingga-Satu-Kuintal.jpg)