Musik Zone
Shaggydog Rangkum Perjalanan 24 Tahun Berkarya Lewat Buku Biografi
Berawal dari sebuah gang sempit dan gelap di sudut Kota Yogyakarta, Shaggydog lahir pada era yang sama sejak ska perlahan hadir di Indonesia. Band
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM - Berawal dari sebuah gang sempit dan gelap di sudut Kota Yogyakarta, Shaggydog lahir pada era yang sama sejak ska perlahan hadir di Indonesia.
Band yang digawangi Heru, Richard, Lilik, Bandiz, Raymond dan Yoyo terus konsisten melahirkan karya, 24 tahun mewarnai skena musik di Indonesia.
Menandai 24 tahun bermusik, Shaggydog yang meluncurkan buku biografi berjudul "Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan", merangkum perjalanan panjang mereka berkarier bukan sekadar sebuah band, melainkan keluarga.
Baca juga: Rootbond Rilis Single Baby I Miss You, Siap Gebrak Industri Musik Rock Tanah Air
Pilihan Shaggydog merilis karya intelektual berupa buku menjadi keputusan yang cukup menarik, ketika sebagian besar musisi memilih merilis karya berupa lagu.
"Shaggydog pun mengambil kesempatan ini dengan menggandeng penulis Ardhana Pragota, untuk menulis ulang perjalanan berkarier. Angki Purbandono dan Agan Harahap kami daulat sebagai kurator foto," papar Heru Wahyono, vokalis Shaggydog.
Buku ini terdiri dari empat bab, yakni Rude Boy, Boom Ska, Bersinar dan Masih Bersama. Masing bab bercerita tentang era penanda perubahan karier serta ditambah bonus session menganalisa Shaggydog melalui data.
Bagian ini berusaha mereproduksi kembali memori para personil Shaggydog yang dari sudut pandang masing-masing. Bab ini terasa sangat menarik karena banyak sisi berbeda antar personil yang saling melengkapi.
"Bagian demi bagian buku ini digali oleh Pragota dari memori personel Shaggydog yang sering kali lupa beberapa hal detail. Tidak jarang kami saling bersitegang ketika mendengarkan cerita yang berbeda dari point of view masing-masing," ujar Heru.
Bersama dalam sebuah band selama 24 tahun membuat persahabatan di Shaggydog mengental, menjadikan perbedaan pendapat bahkan perseteruan menjadi hal yang bisa dimaklumi. Pada akhirnya mereka kembali ke band yang sudah dianggap sebagai rumah.
Secara runtut Ardhana Pragota merangkum perjalanan personel Shaggydog satu per satu, mulai dari era kegamangan Heruwa ketika pindah dari hiruk pikuk pesta pora-nya Bali ke atmosfer kebudayaan kota Yogyakarta yang tenang, membentuk band yang menjadi cikal bakal Shaggydog, berdebat masalah nama, dituduh menggunakan narkotika, didera kebangkrutan, menjadi sales kopi hingga kehilangan karya di platform musik digital gara-gara EMI Record yang menaungi album Shaggydog gulung tikar.
Gambaran itu tidak hanya diungkapkan lewat narasi teks, tetapi dilengkapi dengan visual berupa foto dokumentasi pribadi eksklusif yang sebagian besar belum pernah dipublikasikan. Digaetlah dua seniman yang kompeten dalam hal fotografi sebagai kurator foto tersebut yaitu Angki Purbandono dan Agan Harahap.
Dalam buku ini, Ardhana Pragota juga bekerjasama dengan ilmuwan data, Tyas Nuur Kholish, untuk meneliti musik Shaggydog menggunakan teknologi data science sehingga secara matematis menghasilkan telaah paduan argumen musik secara kuantitatif.
"Analisa ini menggunakan program Pyton yang sampelnya diambil dari lagu Shaggydog yang tersedia di platform streaming Spotify . Dengan program ini berhasil mendapatkan data akurat yang dikemas sebagai mesin analisis untuk melihat keinginan pasar secara lebih tepat," ujar Tyas.
Baca juga: Info Prakiraan Cuaca BMKG DI Yogyakarta Sabtu 1 Januari 2022, Potensi Hujan Sejak Pagi
Ska Shaggydog relatif berbeda dari tren ska-core yang menggempur telinga orang Indonesia. Selain falsafah Two Tone yang jadi pembeda, tempo dan ritme yang menyerupai reggae dan mendayu nyatanya lebih langgeng. Ska model inilah yang kemudian menyublim bersama genre yang lebih populer dan awet seperti pop dan dangdut.
Biografi dan dokumentasi tertulis dari band asal Yogyakarta ini menyusul serangkaian produktivitas tahun ini setelah berhasil menjadi nominator AMI Awards 2021 untuk kategori Artis Keroncong Langgam/ Ekstra/ Kontemporer bersama Ndarboy Genk dan OK Puspa Jelita.
Bekerja sama dengan Orang Tua dan penerbit tim Buku Baik, buku ini sudah dapat dibeli dengan harga Rp 100 ribu melalui Doggy Shop Jogja yang tersedia di berbagai e-commerce. (Han)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Shaggydog-rilis-buku-Angkat-Sekali-Lagi-Gelasmu-Kawan.jpg)