Musik Zone

Shaggydog Rangkum Perjalanan 24 Tahun Berkarya Lewat Buku Biografi

Berawal dari sebuah gang sempit dan gelap di sudut Kota Yogyakarta, Shaggydog lahir pada era yang sama sejak ska perlahan hadir di Indonesia. Band

TRIBUNJOGJA.COM/ Hanif Suryo
Shaggydog rilis buku "Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan" di Prambanan Jazz Cafe, 29 Desember 2021 

TRIBUNJOGJA.COM - Berawal dari sebuah gang sempit dan gelap di sudut Kota Yogyakarta, Shaggydog lahir pada era yang sama sejak ska perlahan hadir di Indonesia.

Band yang digawangi Heru, Richard, Lilik, Bandiz, Raymond dan Yoyo terus konsisten melahirkan karya, 24 tahun mewarnai skena musik di Indonesia.

Menandai 24 tahun bermusik, Shaggydog yang meluncurkan buku biografi berjudul "Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan", merangkum perjalanan panjang mereka berkarier bukan sekadar sebuah band, melainkan keluarga.

Baca juga: Rootbond Rilis Single Baby I Miss You, Siap Gebrak Industri Musik Rock Tanah Air

Pilihan Shaggydog merilis karya intelektual berupa buku menjadi keputusan yang cukup menarik, ketika sebagian besar musisi memilih merilis karya berupa lagu.

"Shaggydog pun mengambil kesempatan ini dengan menggandeng penulis Ardhana Pragota, untuk menulis ulang perjalanan berkarier. Angki Purbandono dan Agan Harahap kami daulat sebagai kurator foto," papar Heru Wahyono, vokalis Shaggydog.

Buku ini terdiri dari empat bab, yakni Rude Boy, Boom Ska, Bersinar dan Masih Bersama. Masing bab bercerita tentang era penanda perubahan karier serta ditambah bonus session menganalisa Shaggydog melalui data.

Bagian ini berusaha mereproduksi kembali memori para personil Shaggydog yang dari sudut pandang masing-masing. Bab ini terasa sangat menarik karena banyak sisi berbeda antar personil yang saling melengkapi.

"Bagian demi bagian buku ini digali oleh Pragota dari memori personel Shaggydog yang sering kali lupa beberapa hal detail. Tidak jarang kami saling bersitegang ketika mendengarkan cerita yang berbeda dari point of view masing-masing," ujar Heru.

Bersama dalam sebuah band selama 24 tahun membuat persahabatan di Shaggydog mengental, menjadikan perbedaan pendapat bahkan perseteruan menjadi hal yang bisa dimaklumi. Pada akhirnya mereka kembali ke band yang sudah dianggap sebagai rumah.

Secara runtut Ardhana Pragota merangkum perjalanan personel Shaggydog satu per satu, mulai dari era kegamangan Heruwa ketika pindah dari hiruk pikuk pesta pora-nya Bali ke atmosfer kebudayaan kota Yogyakarta yang tenang, membentuk band yang menjadi cikal bakal Shaggydog, berdebat masalah nama, dituduh menggunakan narkotika, didera kebangkrutan, menjadi sales kopi hingga kehilangan karya di platform musik digital gara-gara EMI Record yang menaungi album Shaggydog gulung tikar.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved