Breaking News:

Berita Bisnis Terkini

PT Johnson & Johnson Indonesia Lanjutkan Komitmen untuk Kampanye Kesadaran Depresi

Sebanyak 71% pasien gangguan depresi mayor di kawasan Asia Pasifik menderita gejala yang memburuk karena pengobatan tidak sesuai dengan kebutuhan.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Gaya Lufityanti
Tangkapan layar Depression Awareness Campaign “Kupas Tuntas Mengenai Depresi” secara virtual.
Devy Yheanne, Country Leader of Communications & Public Affairs dari PT Johnson & Johnson Indonesia menyampaikan sambutan pada acara Depression Awareness Campaign “Kupas Tuntas Mengenai Depresi” secara virtual. 

TRIBUNJOGJA.COM – Selama lebih dari 60 tahun, Johnson & Johnson telah berdedikasi untuk meningkatkan tingkat kesembuhan penderita gangguan jiwa.

Selama setengah abad terakhir, Janssen Pharmaceutical Companies of Johnson & Johnson telah menemukan, mengembangkan, dan meluncurkan banyak perawatan inovatif untuk kondisi yang memengaruhi otak dan sistem saraf pusat.
 
Kesehatan jiwa berdampak pada kesehatan fisik, sosial, dan ekonomi individu dan masyarakat di seluruh dunia.

Lebih dari tiga perempat orang yang menderita penyakit jiwa tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah dimana akses untuk perawatan kesehatan jiwa yang berkualitas sangat terbatas.

Bahkan lebih dari 75% orang dengan gangguan jiwa tidak mendapatkan perawatan sama sekali.

Baca juga: Johnson & Johnson Foundation dan Intellar Umumkan Pemenang SEHAT Impact Accelerator

Laporan baru menyerukan fokus yang lebih besar pada sub-tipe depresi
 
Berdasarkan temuan utama dari dokumen white paper di wilayah Asia Pasifik bertajuk “Rising Social and Economic Cost of Major Depression: Seeing the Full Spectrum” yang disponsori oleh Johnson & Johnson Pte. Ltd. dan dilakukan oleh KPMG di Singapura, terdapat kurang dari separuh pasien yang berjuang melawan gangguan depresi mayor (Major Depressive Disorder / MDD) di kawasan Asia Pasifik menerima diagnosis, yang tepat, dengan 71% pasien MDD menderita gejala yang memburuk karena pengobatan tidak disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
 
Data dari White Paper tersebut mengungkapkan bahwa Asia Pasifik memiliki tingkat penyakit depresi dan penyakit jiwa yang jauh lebih tinggi daripada bagian lain dunia.

Dokumen tersebut menyoroti bahwa orang yang hidup dengan depresi 40% kurang produktif daripada individu yang sehat, sedangkan harapan hidup seseorang dengan MDD adalah 20 tahun lebih pendek dari rata-rata.
 
Penyebaran eksponensial dari pandemi Covid-19 juga bertindak sebagai faktor pendorong dalam pertumbuhan segmen tele-health di Indonesia.

Ini sangat bermanfaat bagi pasien serta profesional terlatih dalam domain perawatan kesehatan mental karena memungkinkan individu untuk memanfaatkan konsultasi profesional tanpa harus mengunjungi rumah sakit atau pusat perawatan primer.

Dengan peningkatan penetrasi internet di seluruh negeri, memungkinkan psikiater dan terapis terlatih untuk melayani lebih banyak pasien tanpa dibatasi oleh geografi.

Ini juga dapat memecahkan masalah kekurangan tenaga profesional terlatih dalam jangka pendek.
 
Berdasarkan data riset kesehatan dasar dari Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2018 sebanyak 6.1% penduduk berumur setidaknya 15 tahun di Indonesia menderita depresi.

Tidak ada data persis mengenai berapa banyak dari populasi ini yang menderita gangguan depresi mayor, namun diasumsikan bahwa proporsinya cukup besar.

Selanjutnya, berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2019, terdapat 1800 jiwa/tahun yang meninggal akibat bunuh diri, dimana 23.2

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved