Ayat Alquran dan Hadis Tentang Perintah Menunaikan Amanah

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia hendaknya adil.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjogja.com | Iwan al Khasni
Musaf Alquran 

"Allah Tabarakawa Ta'ala mengumpulkan seluruh manusia lalu berdirilah kaum mu'minin sehingga didekatkanlah surga untuk mereka. Mereka mendatangi Adam as., lalu berkata: "Hai bapa kita, mohonkanlah untuk kita supaya surga itu dibuka." Adam menjawab: "Bukankah yang menyebabkan keluarnya engkau semua dari surga itu, tiada lain kecuali kesalahan bapamu semua ini. Bukan aku yang dapat berbuat sedemikian itu. Pergilah ke tempat anakku Ibrahim, kekasih Allah."

Beliau saw. meneruskan: "Selanjutnya Ibrahim berkata: "Bukannya aku yang dapat berbuat sedemikian itu, hanyasanya aku ini sebagai kekasih dari belakang itu, dari belakang itu - maksudnya untuk sampai ke tingkat yang setinggi itu tidak dapat aku melakukannya. [19] Pergilah menuju Musa yang Allah telah berfirman kepadanya secara langsung." Mereka mendatangi Musa, lalu Musa berkata: "Bukannya aku yang dapat berbuat sedemikian itu. Pergilah ke tempat Isa, sebagai kalimatullah disebut demikian kerana diwujudkan dengan firman Allah: Kunduna abin artinya "Jadilah tanpa ayah  dan juga sebagai ruhullah,  maksudnya mempunyai ruh dari Allah dan dengannya dapat menghidupkan orang mati atau hati yang mati." Seterusnya setelah didatangi Isa berkata: "Bukan aku yang dapat berbuat sedemikian itu." Kemudian mereka mendatangi Muhammad saw., lalu Muhammad berdiri  di bawah 'Arasy dan untuknya diizinkan memohonkan sesuatu.

Pada saat itu amanat dan kekeluargaan dikirimkan, keduanya berdiri di kedua tepi Ash-Shirath (jambatan), yaitu sebelah kanan dan kiri. Maka orang yang pertama-tama dari engkau semua itu melaluinya sebagai cepatnya kilat." (Riwayat Muslim)

Dari Abu Khubaib, dengan dhammahnya kha' mu'jamah, yaitu Abdullah bin Zubair radhtallahu 'anhuma, katanya: "Ketika Zubair berdiri menghadapi musuh  di waktu hari perang Jamal antara sesama kaum Muslimin yakni pasukan Ali r.a. dan Aisyah radhiallahu 'anha yang saat itu mengendarai unta, maka disebut perang Jamal Zubair memanggil saya lalu saya pun berdiri didekatnya. Ia berkata: "Hai anakku, sesungguhnya saja pada hari ini tidak ada seorang pun yang terbunuh, melainkan ia adalah seorang yang menganiaya atau seorang yang dianiaya dan bahawasanya aku merasakan bahawa aku akan dibunuh pada hari ini sebagai seorang yang dianiaya  kerana membela yang benar dan ia ada di barisan Ali r.a. [20] . Sesungguhnya salah satu daripada kedukaanku yang terbesar adalah hutangku. Adakah engkau menyangka bahawa hutangku itu akan masih dapat meninggalkan sesuatu harta kita?  maksudnya kerana amat banyak sekali, maka apakah kiranya masih ada yang tertinggal jikalau semua itu digunakan untuk melunasinya,"

Zubair melanjutkan ucapannya: "Hai anakku, jual sajalah harta kita itu dan lunasilah seluruh hutangku." Zubair mewasiatkan dengan sepertiga, dan sepertiga dari sepertiga diperuntukkan anak - anak Abdullah yakni bahawa yang diwasiatkan untuk anak - anaknya Abdullah bin Zubair ialah sepertiganya sepertiga (sepersembilan).

Zubair berkata: "Jikalau ada kelebihan dari harta kita - setelah digunakan melunasi hutangnya, maka yang sepertiganya sepertiga adalah untuk anak-anakmu."

Hisyam berkata: "Anak Abdullah itu ada yang menentang -tidak sesuai dalam sesuatu hal - kepada anak-anaknya Zubair, yakni Khubaib dan 'Abad, sedang Zubair pada hari itu mempunyai sembilan orang anak lelaki dan sembilan orang anak perempuan." Abdullah bin Zubair berkata: "Maka mulailah Zubair mewasiatkan kepadaku perihal hutangnya dan ia berkata: "Hai anakku, jikalau engkau merasa lemah untuk melaksanakan sesuatu daripada melunasi hutang itu - Artinya tidak ada lagi harta untuk mencukupinya maka mintalah pertolongan kepada Yang menguasai diriku?" Abdullah berkata: "Demi Allah, saya tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksudkan olehnya - dengan kata-kata yang menguasainya itu, maka saya berkata: "Hai ayahku, siapakah yang menguasai ayah ini?" Ia berkata: "Yaitu Allah." Abdullah berkata: "Maka demi Allah, tiada satu waktupun saya merasa jatuh dalam kedukaan kerana memikirkan hutang ayah itu, melainkan saya tentu berkata: "Wahai Yang menguasai Zubair, tunaikanlah hutang Zubair ini!" Maka Tuhan menunaikannya.

Abdullah berkata: "Selanjutnya Zubair terbunuh - dalam peperangan - dan ia tidak meninggalkan sedinar atau sedirhampun melainkan ada beberapa bidang tanah, di antaranya ialah Ghabah - sebidang tanah yang terkenal namanya di dekat Madinah, yakni di sebelah utaranya, sebelas buah rumah di Madinah, dua buah rumah di Bashrah dan sebuah rumah di Kufah, juga sebuah rumah di Mesir."

Abdullah berkata: "Sebenarnya saja sebabnya Zubair mempunyai hutang itu ialah kerana apabila ada seorang lelaki datang padanya dengan membawa harta, lalu harta itu dimaksudkan olehnya akan dititipkan kepada Zubair, tetapi Zubair lalu berkata: "Jangan dititipkan, tetapi bolehlah itu menjadi pinjaman saja, kerana sesungguhnya saya sendiri takut kalau harta itu hilang. Zubair tidak pernah menjabat sebagai penguasa negara sama sekali, tidak pula pernah mengusahakan pengolahan tanah ataupun memperolehi hasil pertanian, bahkan tidak pernah juga bekerja sesuatu apapun, melainkan ia pernah mengikuti peperangan beserta Rasulullah saw. atau bersama Abu Bakar, Umar atau Usman radhiallahu 'anhum - dan dengan demikian memperolehi bahagian harta rampasan perang atau ghanimah."

Abdullah berkata: "Kemudian saya menghitung hutang yang menjadi tanggungannya. lalu saya dapatkan itu adalah sebanyak dua juta dua ratus ribu - dirham."

Hakim bin Hizam lalu menemui Abdullah bin Zubair dan berkata: "Hai anak saudaraku, berapa jumlahnya hutang yang menjadi tanggungan saudaraku-yakni Zubair -itu?" Saya -Abdullah - menyembunyikannya jumlah itu dan saya berkata: "Seratus ribu." Hakim berkata: "Demi Allah, saya mengira bahawa hartamu tidak akan mencukupi untuk melunas hutang sebanyak itu." Abdullah berkata: "Kalau begitu, bagaimana pengiraanmu, jikalau hutangnya yang sebenarnya itu ada dua juta dua ratus ribu?" Ia berkata: "Saya kira, anda tidak akan kuat melunasi itu semua, tetapi jikalau anda merasa lemah - kesukaran - untuk melunasi sesuatu dari hutang Zubair itu, hendaklah meminta pertolongan padaku."

Abdullah berkata:"Zubair itu pernah membeli tanah Ghabah dengan harga seratus tujuh puluh ribu." Tanah Ghabah lalu dijual oleh Abdullah dengan harga sejuta enam ratus ribu, kemudian ia berkata - kepada umum -: "Barangsiapa yang merasa memberikan hutang kepada Zubair, hendaklah suka kamu lunasi dengan perhitungan harga tanah Ghabah." Kemudian datanglah Abdullah bin Ja'far dan ia pernah memberi hutang kepada Zubair sebanyak empat ratus ribu. Abdullah bin Ja'far berkata kepada Abdullah bin Zubair: "Jikalau anda suka, hutang itu saya tinggalkan untuk anda - yakni tidak usah dikembalikan." Abdullah bin Zubair berkata: 'Tidak-yakni hutang itu akan dilunasi." Abdullah bin Ja'far berkata: 'Sekiranya anda suka, pelunasan itu hendak anda belakangkan juga boleh anda belakangkan - yakni tidak tergesa-gesa dikembalikan." Abdullah bin Zubair menjawab: "Jangan - yakni akan segera dilunasi." Katanya lagi: "Kalau begitu., potongkan sajalah sebahagian dari tanah Ghabah itu!" Abdullah bin Zubair berkata: "Untuk anda ialah tanah dari batas ini sampai ke batas itu." Dengan demikian Abdullah bin Zubair telah menjual sebahagian tanah Ghabah itu dan ia melunasi sebahagian hutang ayahnya.

Kini yang tertinggal ialah empat setengah bahagian. Ia datang kepada Mu'awiyah dan di sisinya terdapatlah Amr bin Usman, Mundzir bin Zubair dan Ibnu Zam'ah. Mu'awiyah bertanya padanya: "Berapa diperkirakan harga tanah Ghabah itu?" Abdullah berkata: "Tiap sebahagian berharga seratus ribu." Ia bertanya pula: "Kini tinggal berapa bahagiannya." Jawabnya: "Empat setengah bahagian." Mundzir bin Zubair berkata: "Baiklah, untuk saya ambil satu bahagiannya dengan harga seratus ribu." Amr bin Usman juga berkata: "Saya ambil satu bahagiannya pula dengan harga seratus ribu." Ibnu Zam'ah juga berkata: "Saya ambil satu bahagiannya dengan harga seratus ribu." Selanjutnya Mu'awiyah berkata: "Berapa bahagian kini yang tertinggal?" Jawabnya: "Satu setengah bahagian." Ia berkata: "Baiklah, saya ambil satu setengah bahagian dengan harga seratus lima puluh ribu."

Abdullah bin Zubair berkata: "Abdullah bin Ja'far menjual bahagiannya kepada Mu'awiyah dengan harga enam ratus ribu."

Setelah Abdullah bin Zubair menyelesaikan pelunasan hutang ayahnya, lalu anak-anaknya Zubair berkata: "Bahagikanlah bahagian warisan kita masing-masing." Tetapi Abdullah bin Zubair menjawab: "Demi Allah, saya tidak akan membahagi-bahagikan itu antara engkau semua, sehingga saya memberitahukan secara umum pada setiap musim, yakni selama empat tahun,yaitu dengan ucapan: "Ingatlah, barangsiapa yang pernah memberikan hutang kepada Zubair, hendaklah datang di tempat kita dan kita akan melunasinya." Demikianlah setiap tahunnya pada waktu musim haji itu diumumkan pemberitahuannya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved